Hikayat Letusan Gunung Merapi dari Naskah-naskah Kuno

Reza Gunadha

Senin, 28 Mei 2018 | 14:14 WIB
Hikayat Letusan Gunung Merapi dari Naskah-naskah Kuno
Letusan melontatkan abu vulkanik, pasir dan material piroklatik.

Salah satu artikel tentang sejarah letusan Gunung Merapi di website Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyebut, indeks Volcano Explosivity Index (VEI) letusan 1822 ada di angka empat. Indeks VEI ini adalah skala untuk mengukur kekuatan dan besaran letusan gunung api. Skalanya 1 sampai 8. Makin besar skalanya, makin besar letusannya.

Letusan dengan indeks VEI di atas angka dua sudah masuk kategori erupsi besar. Letusan Gunung Merapi 2010 dan 1872 adalah dua letusan yang juga memiliki indeks VEI empat.

Hal ini makin dikuatkan lewat artikel berjudul Status Normal Merapi Pasca Letusan 2010 yang terbit di Geomagz, majalah geologi populer. Disebutkan, Gunung Merapi pada periode modern telah mengalami beberapa kali letusan besar, yakni di abad 19 (1822, 1849 dan 1872) dan abad 20 (1930-1931).

Erupsi abad ke-19 dikatakan sebagi letusan yang lebih besar dibanding abad ke-20, ketika awan panas meluncur sejauh 20 kilometer dari puncak.

Letusan 1822 juga dicatat oleh Kemmerling (1921), yang kemudian menjadi rujukan penelitian B. Voight dkk (2000) dalam Historical Eruption of Merapi Volcano, Central Java, Indonesia, 1768-1998.

Letusan 1822 diawali dengan penghancuran kubah lava dan membentuk kawah berdiameter 600 meter dengan bukaan ke arah Kali Apu, Blongkeng, dan Woro. Luncuran awan panas mengubur delapan desa. “Gunung diselimuti oleh aliran api,” tulis Kemmerling.

Letusan lain yang juga tercatat dalam naskah kuno adalah erupsi Gunung Merapi 1586. Informasi mengenai letusan ini terdapat dalam Babad Matawis Saha Candra Nata, yang ditulis pada masa Paku Alam II.

"Ketika itu angin yang semula semilir mendadak jadi kencang disertai halilintar menggelegar. Rintik-rintik hujan segera menjadi deras bagai dituang dari angkasa. Pepohonan pun bertumbangan tercabut dari tanah karena kencang dan derasnya hujan badai."

"Peristiwa ini disebut menandai datangnya jin, peri, dan prayangan. Sorak sorai para lelembut di angkasa disambut gelegar Gunung Merapi. Kawah merekah menyebabkan seluruh isi gunung tumpah ruah. Gunung Merapi dengan dahsyat menyemburkan abu, batu dan melelehkan lahar yang mengerikan memenuhi Sungai Opak."

baca juga

“Beradunya batu dengan batu yang mengeluarkan api itu seolah menyerukan ajakan untuk menggilas pasukan Pajang yang hendak menyerbu Mataram. Atas kuasa Tuhan, amukan lahar dan muntahan batu dari Gunung Merapi telah turut membantu Kanjeng Sinuwun Senapati [Raja Pertama Kesultanan Mataram] dalam meraih kejayaannya,” demikian tertulis dalam Babad Matawis Saha Candra Nata.

Namun, untuk melacak dampak dan kekuatan letusan 1586 sungguh muskil. Musababnya, sejarah letusan Gunung Merapi yang terperinci dengan disertai kronologis baru dimulai pada akhir abad 19.

Peringatan Tuhan

Naskah-naskah kuno yang mencatat peristiwa letusan Gunung Merapi, umumnya, menilai bencana tersebut sebagai peringatan dari Tuhan agar manusia memperbaiki akhlak. Ihwal ini pernah menjadi bahan kajian pengajar di Prodi Sastra Jawa, Fakultas Ilmu Budaya UGM Sri Ratna Saktimulya dalam penelitian yang berjudul Bencana Merapi dalam Sejumlah Naskah Jawa.

Letusan Gunung Merapi juga dijadikan semacam tanda-tanda datangnya malapetaka. Di dalam Babad Ngayogya, tulis Sakti, disebutkan gelegar Gunung Merapi pada 30 Juni 1822 diikuti dengan empat gunung lainnya, yakni Bromo, Kelud, Slamet dan Guntur.

Rentetan letusan gunung ini dianggap merupakan sinyal Pulau Jawa akan terjadi huru-hara. Dalam konteks ini, kemungkinan besar adalah Perang Jawa yang melelahkan itu.

Dalam penelitiannya itu, Sakti menyatakan, sebelum terjadinya Perang Jawa, suasana di Jogja dan sekitarnya sudah tidak kondusif. Ketika itu banyak terjadi kerusuhan karena tekanan ekonomi, sosial dan politik.

Sakti, selain sebagai seorang dosen di UGM, juga merupakan abdi dalem Pura Pakualaman dengan nama Nyi Mas Tumenggung Sestrarukini. Ia ditugaskan sebagai pengelola Perpustakaan Widya Pustaka milik Pura Pakulaman.

Sebagai seorang dosen Sastra Jawa, tentu dirinya kerap kali harus bersinggungan dengan naskah-naskah kuno. Menurut dia, membaca karya-karya dari masa lalu punya banyak manfaat.

Dengan itu dirinya bisa tahu apa yang pernah terjadi di waktu lampau. Mempelajarinya dengan teliti untuk mempersiapkan langkah-langkah yang diperlukan agar kesalahan yang sama tak terulang. Sebab sejarah, seperti kata pepatah latin: historia magistra vitae, adalah guru yang terbaik.

Suatu ketika, saat Sakti membaca naskah Babad Pakualaman Jilid III, ia menyadari DIY punya riwayat panjang dalam urusan bencana. Petaka yang tercatat dalam Babad Pakualaman Jilid III adalah gempa bumi besar tahun 1867, yang diperkirakan membunuh 1.000 orang.

Setelah membaca itu, ia membagikan pengetahuannya ke para mahasiswa, dengan harapan mereka jadi lebih awas. Sakti juga sempat menulis mengenai sejarah gempa DIY di Harian Bernas sebagai sebuah peringatan. “Setelah itu beberapa waktu kemudian memang benar-benar terjadi gempa tahun 2006,” ujar dia, Sabtu (26/5).

Namun sayangnya, naskah-naskah kuno milik Pura Pakualaman belum semua diterjemahkan. Beberapa naskah baru dialihaksarakan ke huruf latin. Setelah dialihaksarakan pun orang kebanyakan tak akan bisa memahami babad-babad itu, karena banyak kosakata yang tidak ditemui dalam kehidupan saat ini.

Beranjak dari itulah kemudian Paku Alam X menginginkan agar naskah-naskah milik Pura Pakualaman diterjemahkan dan didigitalisasi. Pada 2005 tim untuk misi itu telah dibentuk. Sakti adalah nakhoda dari kelompok kecil yang menamakan dirinya tim Widya Pustaka itu.

“Yang diterjemahkan baru 10 naskah, dari 251 naskah. Tujuan [dari proyek ini] adalah untuk menyebarluaskan nilai-nilai yang terkandung dalam naskah milik Pura Pakualaman, karena itu akan sangat bermanfaat bagi kehidupan,” jelas Sakti.

Berita ini kali pertama diterbitkan Harian Jogja dengan judul "LONG-FORM: Riwayat Letusan Merapi dalam Manuskrip Kuno, Hujan Batu Tak Henti Keluar dari Gunung"

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Jelang Mudik, Dishub Siapkan Alternatif Jalur Selatan Jawa

Jelang Mudik, Dishub Siapkan Alternatif Jalur Selatan Jawa

News | Senin, 28 Mei 2018 | 09:35 WIB

Dapat Pencerahan Mbah Rono, Pengungsi Merapi Dibolehkan Pulang

Dapat Pencerahan Mbah Rono, Pengungsi Merapi Dibolehkan Pulang

News | Senin, 28 Mei 2018 | 09:02 WIB

Jubaidi, Pemulung Tua yang Kembalikan Uang Temuan Rp 20 Juta

Jubaidi, Pemulung Tua yang Kembalikan Uang Temuan Rp 20 Juta

News | Minggu, 27 Mei 2018 | 19:51 WIB

Gara-gara Uang, Brekele Tega Aniaya Ibu dan Bakar Rumah Orang Tua

Gara-gara Uang, Brekele Tega Aniaya Ibu dan Bakar Rumah Orang Tua

News | Minggu, 27 Mei 2018 | 13:33 WIB

Kumpulan Cerita Sedih Warga Mengenang 12 Tahun Gempa Yogyakarta

Kumpulan Cerita Sedih Warga Mengenang 12 Tahun Gempa Yogyakarta

News | Minggu, 27 Mei 2018 | 11:45 WIB

Terkini

BBKSDA Sumut: Konservasi Batang Toru Butuh Kolaborasi Semua Pihak

BBKSDA Sumut: Konservasi Batang Toru Butuh Kolaborasi Semua Pihak

Sumut | Selasa, 11 Agustus 2026 | 14:22 WIB

Sedang Jalani Pemeriksaan Kesehatan di AS, SBY Tak Hadiri Sidang Tahunan MPR dan HUT ke-81 RI

Sedang Jalani Pemeriksaan Kesehatan di AS, SBY Tak Hadiri Sidang Tahunan MPR dan HUT ke-81 RI

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 14:19 WIB

4 Padu Padan Outfit Stripe ala Jisoo BLACKPINK, Buat yang Suka Gaya Preppy!

4 Padu Padan Outfit Stripe ala Jisoo BLACKPINK, Buat yang Suka Gaya Preppy!

Your Say | Selasa, 11 Agustus 2026 | 14:15 WIB

20 Ide Hadiah Lomba 17 Agustus Untuk Ibu-ibu Alat Rumah Tangga Murah

20 Ide Hadiah Lomba 17 Agustus Untuk Ibu-ibu Alat Rumah Tangga Murah

Lifestyle | Selasa, 11 Agustus 2026 | 14:15 WIB

Konflik Mees Hilgers vs FC Twente Meruncing, UEFA Diminta Turun Tangan

Konflik Mees Hilgers vs FC Twente Meruncing, UEFA Diminta Turun Tangan

Bola | Selasa, 11 Agustus 2026 | 14:14 WIB

Penerbitan Akta Kelahiran Kini Didigitalisasi, Pemerintah Hadirkan Layanan Publik Terintegrasi

Penerbitan Akta Kelahiran Kini Didigitalisasi, Pemerintah Hadirkan Layanan Publik Terintegrasi

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 14:14 WIB

5 Zodiak Paling Sabar, Dikenal Selalu Tenang dan Pandai Mengendalikan Emosi

5 Zodiak Paling Sabar, Dikenal Selalu Tenang dan Pandai Mengendalikan Emosi

Lifestyle | Selasa, 11 Agustus 2026 | 14:12 WIB

Ekspor Jateng Tembus 7 Miliar Dolar, Sarif Abdillah: Jangan Cuma Jual Bahan Baku!

Ekspor Jateng Tembus 7 Miliar Dolar, Sarif Abdillah: Jangan Cuma Jual Bahan Baku!

Jawa Tengah | Selasa, 11 Agustus 2026 | 14:10 WIB

Pengacara Gus Yaqut Bantah KPK Sita Rp 100 Miliar dari Rumah Eks Menag

Pengacara Gus Yaqut Bantah KPK Sita Rp 100 Miliar dari Rumah Eks Menag

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 14:07 WIB

4 Rekomendasi AC Inverter 1 PK Harga Rp3 jutaan yang Dingin dan Hemat Listrik

4 Rekomendasi AC Inverter 1 PK Harga Rp3 jutaan yang Dingin dan Hemat Listrik

Lifestyle | Selasa, 11 Agustus 2026 | 14:06 WIB

×