- Siswa SMKN 4 Samarinda bernama Mandala meninggal dunia diduga akibat penggunaan sepatu kekecilan karena keterbatasan ekonomi keluarga.
- Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, mendesak pemerintah meningkatkan pengawasan kesehatan dan kesejahteraan sosial siswa.
- Pihak DPR RI mendorong sekolah menerapkan mekanisme deteksi dini serta memperkuat layanan UKS guna mencegah kejadian serupa.
Suara.com - Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, memberikan tanggapan mendalam atas tragedi memilukan yang menimpa Mandala, seorang siswa SMKN 4 Samarinda.
Mandala dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami masalah kesehatan serius yang diduga dipicu oleh penggunaan sepatu yang sudah kekecilan.
Lalu menyatakan bahwa peristiwa ini bukan sekadar insiden kesehatan biasa, melainkan sebuah pengingat keras bagi seluruh pemangku kepentingan di sektor pendidikan.
"Bagi kami, peristiwa meninggalnya siswa SMK di Samarinda menjadi pengingat keras bahwa persoalan pendidikan tidak berdiri sendiri, melainkan beririsan langsung dengan aspek kesehatan dan kondisi sosial-ekonomi keluarga," ujar Lalu kepada wartawan Suara.com, Selasa (5/5/2026).
Terkait dugaan medis bahwa sepatu yang sempit memicu pembengkakan hingga berujung fatal, Lalu mendesak agar dilakukan penelusuran medis secara menyeluruh.
Namun, ia lebih menyoroti akar masalah yang lebih dalam, yakni keterbatasan ekonomi yang menghimpit akses siswa terhadap kebutuhan dasar dan layanan kesehatan.
"Kasus ini menegaskan adanya kerentanan yang lebih dalam, yaitu keterbatasan ekonomi yang membuat kebutuhan dasar siswa tidak terpenuhi secara layak, serta kemungkinan keterlambatan akses layanan kesehatan yang seharusnya bisa mencegah kondisi memburuk," tegasnya.
Politisi Partai PKB ini memandang wafatnya Mandala sebagai "alarm penting" bagi sistem pendidikan nasional. Menurutnya, sekolah tidak boleh lagi hanya fokus pada kurikulum dan kegiatan belajar mengajar secara akademik saja.
Ia mendorong agar sekolah memiliki mekanisme deteksi dini untuk memantau kondisi fisik, mental, maupun sosial para siswanya. Hal ini bertujuan agar tidak ada lagi siswa yang terpaksa bersekolah dengan peralatan yang tidak layak karena kendala biaya.
"Sekolah tidak cukup hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga harus memiliki mekanisme deteksi dini terhadap kondisi kesehatan dan sosial siswa, termasuk memastikan tidak ada peserta didik yang mengalami keterbatasan perlengkapan dasar," katanya.
Lebih lanjut, Komisi X DPR RI meminta adanya langkah konkret dari pemerintah pusat maupun daerah. Lalu menekankan pentingnya penguatan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dan integrasi program perlindungan sosial bagi siswa dari keluarga tidak mampu.
"Negara, melalui sinergi kementerian/lembaga dan pemerintah daerah, harus terus memperkuat intervensi, seperti bantuan perlengkapan sekolah, layanan kesehatan berbasis sekolah (UKS), serta integrasi dengan program perlindungan sosial," imbuhnya.
Lalu menegaskan komitmen Komisi X DPR RI dalam mengawal kebijakan pendidikan yang lebih manusiawi. Ia berharap kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.
"Kami Komisi X selalu mendorong terhadap penguatan kebijakan yang memastikan setiap anak, tanpa terkecuali, mendapatkan lingkungan belajar yang aman, sehat, dan manusiawi, sehingga kasus serupa tidak kembali terulang," pungkasnya.
Sebelumnya, kisah pilu seorang siswa SMKN 4 Samarinda bernama Mandala yang meninggal dunia setelah diduga mengalami masalah kesehatan akibat sepatu kekecilan menuai simpati luas dari warganet.