Minke, yang Mati dalam Kesepian

Reza Gunadha

Selasa, 05 Juni 2018 | 08:00 WIB
Minke, yang Mati dalam Kesepian
Batu nisan Tirto Adhi Soerjo di Pemakaman Umum Blender, Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat, 3 Juni 2018. [Suara.com/Rambiga]

Suara.com - Sabtu yang suram, saat sedikit orang mengantarkan jenazah lelaki itu ke pekuburan Manggadua, Jakarta, 7 Desember 1918. Tak ada pidato sambutan. Tak pula ada yang memberikan kesaksian jasa dan amalnya semasa hidup. Begitu liang lahad ditutup, orang-orang itu berlalu begitu saja. Itulah hari terakhir Minke, Tirto Adhi Soerjo.

Minggu yang sepi, tak banyak peziarah di area pemakaman umum Blender, Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat, 3 Juni 2018.

Pada pemakaman itu, di antara ribuan makam yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda, salah satunya adalah petirahan terakhir Tirto Adhi Soerjo.

Tak ada penanda khusus makam Pahlawan Nasional sekaligus Bapak Pers Indonesia tersebut, sehingga bagi peziarah yang kali pertama datang, bakal sulit menemukan pusaranya.

Beberapa lelaki yang membawa arit tengah berbincang-bincang di area pemakaman tersebut. Saat ditanya letak persis makam RM Tirto, mereka saling bertatapan sembari mengernyitkan dahi tanda tak tahu.

Mereka lantas menyarankan untuk menemui Abdul Rohman, lelaki berusia 58 tahun, penjaga yang dipercaya khusus merawat makam Tirto.

"Makam RM Tirto yang pahlawan? Iya ada di sini. Kalau mau, langsung saja ke penjaganya. Dia tinggal di dekat sini. Mari saya antar," kata seorang penjaga makam, kepada Suara.com.

Abdul tengah berada di rumahnya, sekitar 300  meter dari kantor pemakaman umum Blender. Ketika ditemui, ia mau mengantarkan ke lokasi persis makam Tirto.

Makam Tirto Adhi Soerjo bersanding dengan 21 makam yang mememunyai tali kekeluargaan dengannya.

baca juga

Tirto Adhi Soerjo [Net]

"Ini makam RM Tirto mas, di sini juga ada makam lainnya yang masih keluarga besar," sebut Abdul, sambil menujuk nisan RM Tirto berkeramik hitam.

Pada nisan itu tertulis “RM Djokomono Tirto Adhi Soerjo lahir di Blora, 1875 dan wafat di Jakarta, 7 Desember 1918. Dimakamkan kembali 30 Desember 1973.”

Selain itu, tertulis pula “Pahlawan Nasional, Perintis Pers Indonesia, penerima Bintang Maha Putra Adipradana”.

Abdul bercerita, dirinya diberikan kepercayaan keluarga untuk mengurusi kompleks makam ini sejak 2006 silam oleh Ibunda Marciano Norman, yakni Atina Norman.

Atina adalah putri RM Priatman, yang merupakan anak kandung Tirto Adhi Soerjo.

"Dulu saya cuma bersih-bersih makam di sini. Kemudian saya bertemu, dipercaya untuk merawat dan menjaga makam sejak tahun 2006," ujar Abdul.

Abdul enggan menjawab riwayat makam RM Tirto. Tapi ia mencetuskan sepotong informasi bahwa, "Dewi Yul (artis lawas) juga masih cucu RM Priatman. Anaknya juga ada dimakamkan di sini."

Ia menuturkan, mendapatkan uang dari keluarga besar Tirto sebagai balas jasa merawat makam tersebut. Selain itu, ia juga mendapat honorarium Rp 600 per bulan dari Dinas Sosial Kota Bogor.

“Sejak tahun 2011, honorarium saya diberikan Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat,” tukasnya.

Abdul memberikan kesaksian, sejak menjadi penjaga makam Tirto, tak sedikit awak media dan komunitas-komunitas datang berkunjung. Tapi, ia tak pernah melihat ada pejabat pemerintah yang datang.

“Kalau dari pihak keluarga, kali terakhir datang awal bulan Ramadan ini. Mereka berziarah ke sini,” tuturnya.

Kiprah Tirto semasa hidup, terbilang gemerlap. Aktivitas jurnalistiknya saat membangun Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907), dan Poetri Hindia (1908), menjadikannya sebagai sosok perintis pers Indonesia.

Ia juga yang membidani pendirian Sarikat Dagang Islam, pendahulu Sarikat Islam, organisasi pertama yang berseberangan dengan kolonial Belanda.

Medan Prijaji dikenal sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah orang Indonesia—suatu yang baru saat itu.

Tirto adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum. Dia juga berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu.

Namun, jejak langkahnya tersebut pernah terkubur seiring kematiannya. Seperti yang ditulis sastrawan terbesar Indonesia Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya “Sang Pemula” (1985), saat Tirto wafat, tak banyak orang yang mengantarkannya ke pemakaman.

Menjelang kematiannya, Tirto memang dibuang, diasingkan, bahkan dimiskinkan. Saat meninggal pun, tak ada pemberitaan besar mengenai orang besar itu.

“Bagi seorang jurnalis kenamaan, yang dalam dasawarsa pertama abad 19 dan 20 banyak disebut oleh pers di Hindia maupun Belanda, memang terlalu sedikit tanggapan orang atas kematiannya,” tulis Pramoedya, hlm 5.

Sesudah kematiannya, satu dari sedikit warta mengenai Tirto terdapat dalam sepucuk surat dari Batavia (Jakarta) kepada surat kabar De Locomotief, di Semarang. Surat itu, tercantum dalam skripsi J Erkelens, “Krant in Indonesie”, Skripsi Vrije Universiteit, Amsterdam, 1971.

“Sebuah kuburan di Manggadua, Batavia, yang sedikit pun tak berbeda dari kuburan-kuburan lain di sekitarnya, adalah tempat istirahat terakhir pekerja dan jurnalis ini…. Harian-harian pribumi tiada menyinggung lagi tentangnya dan sampailah kemudian ke telinga kami, bahwa orang membisu tentangnya dikarenakan hormat yang mendalam kepadanya lantaran tahun-tahun terakhirnya yang memilukan. Karena Tirto Adhi Soerjo telah menjadi kurban kerja kerasnya sendiri, dalam tujuh-delapan tahun terakhir telah sepenuhnya rusak ingatan dan takut orang.”

Satu dari sedikit obituari lainnya ditulis oleh murid sekaligus penerus perjuangan Tirto, yakni Mas Marco Kartodikromo.

Lima hari setelah kematian Tirto, Mas Marco menuliskan artikel “RM Tirto Adhi Soerjo” dalam Sinar Hindia, 12 Desember 1918.

“… saya mesti mengaku juga bahwa lantaran pimpinannya…. Saya bisa menjadi redaktur, pada ketika saya ada di Bandung, kumpul serumah dengan beliau. Seorang jurnalis Jawa paling tua, pun beliau seorang bumiputra yang pertama kali membikin NV (perusahaan) pada 10 tahun lalu, mashur di seluruh Hindia lantaran keberaniannya mengusik laku sewenang-wenang, menerbitkan Medan Prijaji, Poetri Hindia, Soeara BOW, Soeara Spoor dan Tram, Soeara Pegadaian dan Sarotomo…..”

Sehari setelah artikel itu terbit, yakni 13 Desember 1918, dalam surat kabar Djawi Hisworo, Mas Marco menyebut Tirto Adhi Soerjo sebagai “Penggoncang Bumiputera bangun dari tidurnya.” [Rambiga]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Kontroversi Film dan Kisah Heroik di Balik Buku Bumi Manusia

Kontroversi Film dan Kisah Heroik di Balik Buku Bumi Manusia

Entertainment | Sabtu, 26 Mei 2018 | 19:47 WIB

Google Rayakan Ulang Tahun Pramoedya Ananta Toer dengan Doodle

Google Rayakan Ulang Tahun Pramoedya Ananta Toer dengan Doodle

Tekno | Senin, 06 Februari 2017 | 14:54 WIB

"Bunga Penutup Abad" Sambut 10 Tahun Meninggalnya Pramoedya

"Bunga Penutup Abad" Sambut 10 Tahun Meninggalnya Pramoedya

Lifestyle | Senin, 08 Agustus 2016 | 06:56 WIB

Tiket Habis, Pentas Teater "Bunga Penutup Abad" Menjadi Tiga Hari

Tiket Habis, Pentas Teater "Bunga Penutup Abad" Menjadi Tiga Hari

Entertainment | Kamis, 04 Agustus 2016 | 14:47 WIB

Tetralogi Bumi Manusia Karya Pramoedya Cetak Ulang

Tetralogi Bumi Manusia Karya Pramoedya Cetak Ulang

News | Senin, 10 Agustus 2015 | 05:58 WIB

Terkini

Perancang Masjid Istiqlal hingga Monas Friedrich Silaban Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Perancang Masjid Istiqlal hingga Monas Friedrich Silaban Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

News | Senin, 13 Juli 2026 | 16:41 WIB

Macet 850 Meter! Pembetonan Jalan Kebon Sirih 'Caplok' Dua Lajur Hingga September

Macet 850 Meter! Pembetonan Jalan Kebon Sirih 'Caplok' Dua Lajur Hingga September

News | Senin, 13 Juli 2026 | 16:39 WIB

Detik-detik Mahasiswa Hadang Mobil Berpelat Dinas Kejaksaan, Tuntut Transparansi Kasus Eks Jampidsus

Detik-detik Mahasiswa Hadang Mobil Berpelat Dinas Kejaksaan, Tuntut Transparansi Kasus Eks Jampidsus

News | Senin, 13 Juli 2026 | 16:24 WIB

Jangan Pilih Kasih! Kejagung Didesak Segera Tahan Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

Jangan Pilih Kasih! Kejagung Didesak Segera Tahan Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

News | Senin, 13 Juli 2026 | 16:21 WIB

Derita Berlipat Ibu Korban Little Aresha: Berjuang Sembuhkan Trauma Anak Sekaligus Diri Sendiri

Derita Berlipat Ibu Korban Little Aresha: Berjuang Sembuhkan Trauma Anak Sekaligus Diri Sendiri

News | Senin, 13 Juli 2026 | 16:08 WIB

Pramono Anung Minta Ancaman Teror Bom di Srengseng Sawah Didalami, Sekolah Harus Tetap Jalan

Pramono Anung Minta Ancaman Teror Bom di Srengseng Sawah Didalami, Sekolah Harus Tetap Jalan

News | Senin, 13 Juli 2026 | 16:03 WIB

Tertangkap! Pelaku Teror Bom SDN Srengseng Sawah Ternyata Warga Sekitar

Tertangkap! Pelaku Teror Bom SDN Srengseng Sawah Ternyata Warga Sekitar

News | Senin, 13 Juli 2026 | 16:02 WIB

Konflik Polri-Kejagung Memanas, Benny K Harman Desak DPR Gulirkan Hak Angket

Konflik Polri-Kejagung Memanas, Benny K Harman Desak DPR Gulirkan Hak Angket

News | Senin, 13 Juli 2026 | 16:01 WIB

Tampang Lesu Sopir Angkot Bekasi yang Viral Ngamuk di Jalan Resmi Tersangka, Ini Motifnya

Tampang Lesu Sopir Angkot Bekasi yang Viral Ngamuk di Jalan Resmi Tersangka, Ini Motifnya

News | Senin, 13 Juli 2026 | 16:00 WIB

Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Tersangka, Satgas PKH Tetap 'Ngegas' Amankan Hutan

Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Tersangka, Satgas PKH Tetap 'Ngegas' Amankan Hutan

News | Senin, 13 Juli 2026 | 15:52 WIB

×