Jelang HPS ke-38, Kementan Sulap Rawa Jadi Lahan Pertanian

Fabiola Febrinastri

Sabtu, 13 Oktober 2018 | 11:11 WIB
Jelang HPS ke-38, Kementan Sulap Rawa Jadi Lahan Pertanian
Menteri Pertanian, Amran Sulaiman. (Dok: Kementan)

Suara.com - Kementerian Pertanian (Kementan) serius mengembangkan lahan rawa sebagai areal tanam baru. Dengan jumlah luas potensial lahan rawa untuk pertanian yang mencapai mencapai 9,53 juta ha, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman optimistis, pengembangan lahan rawa menjadi jawaban untuk ketahanan pangan.

Pengembangan teknologi menjadi syarat mutlat untuk mencapai tujuan tersebut.

Sebagaimana diketahui, penembangan lahan rawa, bahkan menjadi tema sentral pada peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-38 di Kalimantan Selatan (Kalsel), pada 18-21 Oktober 2018. Akan ada 4 ribu ha lahan rawa yang dikembangkan di Kalsel, 750 ribu diantaranya sudah diolah lahan dan ditanami, bahkan direncanakan siap dipanen langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Kepala Balai Penelitian Lahan Rawa (Balittra), Hendri Sosiawan, menyatakan, saat ini lahan sawah irigasi hanya seluas 8,1 juta ha, masih perlu pengembangan areal tanam baru seperti lahan kering 144.5 juta ha, rawa lebak 25.2 juta ha, dan lahan pasang surut 8.9 juta ha. Meski masih luas, tidak semua lahan itu cocok untuk dilembangkan untuk pertanian.

"Lahan rawa di Indonesia punya karakteristik ekosistem secara alami bersifat rapuh (fragile). Hal ini disebabkan oleh berbagai cekaman abiotik, seperti keracunan zat besi, kadar asam yang rendah, rendaman, salin serta rentan terhadap serangan penyakit blast. Tantangan penanganan lahan rawa yang belum tersentuh teknologi memang bukan pekerjaan mudah, tetapi butuh kesabaran dan kecermatan dalam pengelolaanya," jelas Hendri, saat diwawancarai di Jakarta, Jumat (12/10/2018).

Hendri menyatakan, untuk mengoptimalkan lahan rawa perlu teknologi pengelolaan lahan yang tepat dan terpadu, serta penggunaan varietas padi yang adaptif di lingkungan rawa. Hingga 2017, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), mendukung pengembangan pertanian di lahan rawa dengan mempersiapkan aneka inovasi, termasuk dengan menghasilkan sejumlah varietas unggul padi yang adaptif di lahan pasang surut dan rawa lebak.

Sebanyak 35 varietas padi unggul adaptif lahan pasang surut dan lebak dengan berbagai  keunggulan.

Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), Priatna Sasmita, menyatakan, varietas-varietas tersebut dirakit untuk mengatasi permasalahan utama di lahan rawa.

"Pada Gelar Inovasi Teknologi (Geltek), yang menjadi rangkaian HPS, Balitbangtan ingin menunjukkan kepada petani dan masyarakat luas bahwa varietas unggul padi rawa punya potensi untuk dikembangkan, dan bahkan bisa ditiru di ekosistem lahan rawa di provinsi lain," jelasnya.

baca juga

Sementara itu, Peneliti BPTP Balitbangtan Kalsel, Rina Dirgahayu, menjelaskan, saat ini, demonstration farming (demfarm) padi rawa seluas 60 ha di Geltek HPS menampilkan 4 (empat) varietas inbrida padi rawa (Inpara), yaitu Inpara 2, Inpara 3, Inpara 8 dan Inpara 9. Sedangkan untuk padi sawah irigasi/tadah hujan yang juga ditanam, varietas Inpari 32, Inpari 40 dan Inpari 42 Agritan.

"Kondisi tanaman antar varietas saat ini bervariasi. Ada yang sedang berbunga hingga fase pengisian biji. Performa tanaman sangat bagus, sehingga menjadi daya tarik petani setempat," jelas Rina.

Sementara itu, pemulia di BB Padi, Indrastuti A. Rumanti, mengatakan, sejauh ini, BB Padi bersama dengan peneliti BPTP Balitbangtan Kalsel menyiasati kondisi lahan yang kompleks ini dengan sejumlah modifikasi, yakni dengan penggunaan mikroba (Agrimeth) untuk meningkatkan vigor benih, ameliorant (kapur pertanian) untuk meningkatkan pH tanah, biotara (bahan organik khusus untuk rawa), dan penerapan sistem tanam jajar legowo 2:1 untuk meningkatkan populasi.

Lalu digunakan juga biosilika untuk meningkatkan ketahanan varietas terhadap serangan hama/penyakit, penanaman refugia untuk meningkatkan musuh alami, trap barrier system (TBS), pengomposan dan umpan racun untuk pengendalian tikus, penggunaan insektisida dan fungisida selektif untuk pengendalian hama/penyakit, penerapan tata air mikro menggunakan sistem aliran satu arah untuk mencuci racun mineral, dan pemupukan menggunakan PUTR modified, berupa penambahan kalium yang sangat diperlukan di lahan rawa.

"Beberapa kendala yang terakhir terjadi antara lain, kekeringan dan pH rendah yang berpengaruh pada keluarnya malai. Namun semua itu bisa diatasi dengan meningkatkan kandungan pH air yang dimasukkan ke petak pertanaman," tambah Indras.

Pengelolaan pertanaman yang optimal dan pemberian treatmen modifikasi telah berhasil mengatasi cekaman-cekaman yang terjadi. Saat ini, Inpara 2, Inpari 32, Inpari 40 dan Inpari 42, sudah berumur 90-95 hari HSS (Hari Setelah Semai) dan mulai memasuki fase pengisian, sedangkan Inpara 3, Inpara 8 dan Inpara 9 Agritan masih memasuki fase pembungaan.

Pemeliharaan pertanaman, saat ini terus dilakukan untuk memastikan bahwa denfarm ini aman dari berbagai cekaman yang kompleks dan bisa panen dengan hasil yang memuaskan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

1.354 Hektare Sawah Bekasi Dilanda Kekeringan

1.354 Hektare Sawah Bekasi Dilanda Kekeringan

Foto | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 10:00 WIB

Surut Saat Kemarau, Waduk Gajah Mungkur Disulap Jadi Ladang Padi

Surut Saat Kemarau, Waduk Gajah Mungkur Disulap Jadi Ladang Padi

Foto | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 09:00 WIB

Ekspor Kopi RI Mau Digenjot 2,5 Kali Lipat, Target Rp100 Triliun!

Ekspor Kopi RI Mau Digenjot 2,5 Kali Lipat, Target Rp100 Triliun!

Foto | Kamis, 16 Juli 2026 | 11:00 WIB

Bogor Sulap Lahan Kosong 8 Km Jadi Kawasan Pertanian Terpadu

Bogor Sulap Lahan Kosong 8 Km Jadi Kawasan Pertanian Terpadu

Foto | Selasa, 07 Juli 2026 | 07:00 WIB

Lahan Pertanian Bisa Jadi Penyerap Karbon? Penelitian Ini Ungkap Potensinya

Lahan Pertanian Bisa Jadi Penyerap Karbon? Penelitian Ini Ungkap Potensinya

Lifestyle | Senin, 06 Juli 2026 | 11:05 WIB

Mendagri dan Menteri ATR/BPN Terbitkan SEB untuk Perkuat Perlindungan Lahan Pertanian Pangan

Mendagri dan Menteri ATR/BPN Terbitkan SEB untuk Perkuat Perlindungan Lahan Pertanian Pangan

News | Jum'at, 19 Juni 2026 | 21:51 WIB

Kementan Akan Tindak Tegas Mafia Minyak Goreng

Kementan Akan Tindak Tegas Mafia Minyak Goreng

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 20:48 WIB

Kementan Pastikan Stok Daging Sapi Aman Jelang Idul Adha 2026

Kementan Pastikan Stok Daging Sapi Aman Jelang Idul Adha 2026

Bisnis | Sabtu, 25 April 2026 | 20:38 WIB

Ambisi Swasembada Gula 2028 Terganjal Mesin Tua dan Kiamat Lahan

Ambisi Swasembada Gula 2028 Terganjal Mesin Tua dan Kiamat Lahan

Bisnis | Sabtu, 18 April 2026 | 15:53 WIB

Sah! Pemerintah Tarik Kewenangan Alih Fungsi Lahan Pertanian ke Pusat

Sah! Pemerintah Tarik Kewenangan Alih Fungsi Lahan Pertanian ke Pusat

Bisnis | Kamis, 12 Maret 2026 | 14:12 WIB

Terkini

Intelijen Ukraina: Rusia Rekrut WNI Jadi Tentara Bayaran untuk Propaganda Seolah-olah Didukung Dunia

Intelijen Ukraina: Rusia Rekrut WNI Jadi Tentara Bayaran untuk Propaganda Seolah-olah Didukung Dunia

News | Selasa, 01 September 2026 | 11:20 WIB

Akhiri Konflik Panjang, Mees Hilgers Akui Sulit Ucap Perpisahan dengan Skuad FC Twente

Akhiri Konflik Panjang, Mees Hilgers Akui Sulit Ucap Perpisahan dengan Skuad FC Twente

Bola | Selasa, 01 September 2026 | 11:19 WIB

Timnas Indonesia U-20 Gagal Hajar Malaysia, Nova Arianto Bongkar Masalah Garuda Muda

Timnas Indonesia U-20 Gagal Hajar Malaysia, Nova Arianto Bongkar Masalah Garuda Muda

Bola | Selasa, 01 September 2026 | 11:18 WIB

Jarak Rakyat dan Wakilnya Makin Pendek, Puan: Aspirasi Kini Bisa Sampai dalam Hitungan Detik

Jarak Rakyat dan Wakilnya Makin Pendek, Puan: Aspirasi Kini Bisa Sampai dalam Hitungan Detik

News | Selasa, 01 September 2026 | 11:18 WIB

KPK Ungkap Asal Uang Rp 1,5 Miliar yang Disita dari Kasus Korupsi Pemkab Bogor

KPK Ungkap Asal Uang Rp 1,5 Miliar yang Disita dari Kasus Korupsi Pemkab Bogor

News | Selasa, 01 September 2026 | 11:14 WIB

Kronologis Pendaki WNI Ditemukan Meninggal Dunia di Stasiun Ketujuh Gunung Fuji Jepang

Kronologis Pendaki WNI Ditemukan Meninggal Dunia di Stasiun Ketujuh Gunung Fuji Jepang

News | Selasa, 01 September 2026 | 11:05 WIB

Potensi Kerusuhan Terkendali, Pengamat Hukum Nilai Polri Berhasil Amankan Aksi 27 Agustus

Potensi Kerusuhan Terkendali, Pengamat Hukum Nilai Polri Berhasil Amankan Aksi 27 Agustus

Jabar | Selasa, 01 September 2026 | 11:04 WIB

Harga Asics Novablast Terbaru, Cek 3 Seri Sepatu Lari Paling Populer untuk Pemula dan Pro

Harga Asics Novablast Terbaru, Cek 3 Seri Sepatu Lari Paling Populer untuk Pemula dan Pro

Lifestyle | Selasa, 01 September 2026 | 11:03 WIB

Review Film Other: Sajian Thriller Psikologis dengan Atmosfer yang Sunyi

Review Film Other: Sajian Thriller Psikologis dengan Atmosfer yang Sunyi

Your Say | Selasa, 01 September 2026 | 11:00 WIB

Perjuangkan Hak Rakyat Palestina, Asia Pacific Coalition for Quds and Palestine Buka Markas di RI

Perjuangkan Hak Rakyat Palestina, Asia Pacific Coalition for Quds and Palestine Buka Markas di RI

News | Selasa, 01 September 2026 | 10:58 WIB

×