facebook

Kementan: 81 Persen Peternak Masih Pakai Antibiotik Untuk Unggas

Reky Kalumata | Risna Halidi
Kementan: 81 Persen Peternak Masih Pakai Antibiotik Untuk Unggas
Kunjungan staf Kementerian Pertanian dab FAO ke pertenakan ayam layer di Blitar. (foto dok: FAO Indonesia)

Penggunaan antimikroba pada sektor peternakan masih sangat tinggi

Suara.com - Menurut survey yang dilakukan Kementerian Pertanian bersama FAO Indonesia pada 2017 lalu di 3 sentra produksi unggas (Jawa Barat, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan), penggunaan antimikroba pada sektor peternakan masih sangat tinggi.

"Hasilnya cukup mencengangkan, 81.4% peternak menggunakan antibiotik pada unggas untuk pencegahan, 30.2% peternak menggunakan antibiotik untuk pengobatan serta masih ada 0.3% yang menggunakan untuk pemacu pertumbuhan," kata Kasubdit Pengawas Obat Hewan, Kementerian Pertanian, Ni Made Ria Isriyanthi di Malang beberapa waktu lalu.

Selama ini, peternak dianggap sebagai salah satu pengguna antibiotik yang cukup tinggi dan berkontribusi dalam mempercepat perkembangan dan penyebaran resistensi antibiotik kepada keluarga dan masyarakat.

Karena penggunaan antibiotik yang tidak bijak di kalangan para peternak itulah, pemerintah melalui Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No 14/2017, telah melarang penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan (Antibiotic Growth Promotor/AGP) pada pakan ternak dan efektif berlaku per Januari 2018.

Baca Juga: OTT Bupati Pakpak Bharat Terkait Proyek di Dinas Pekerjaan Umum

Senada dengan Ria, Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia yang juga komisi ahli Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Tri Satya Putri Naipospos, menyampaikan bahwa pada 2010, Indonesia merupakan negara nomor 5 pengonsumsi antibiotik tertinggi di dunia.

Tanpa adanya upaya pengendalian, kata Tri, posisi Indonesia dapat menanjak ke posisi empat pada 2030 mendatang. "Karena populasi ternak kita cukup tinggi. Apalagi untuk unggas," sebutnya.

Tri Satya juga menyarankan agar para peternak menggunakan AGP alternatif diantaranya probiotik, prebiotik, asam organik, minyak esensial atau enzim.

Namun yang tidak kalah penting, Ni Made Ria menambahkan kalau peternak harus mau menerapkan biosekuriti tiga zona dan beternak dengan bersih, termasuk melakukan vaksinasi dengan tepat. "Antibiotik tetap boleh digunakan. Tapi hanya untuk pengobatan dan diberikan oleh dokter hewan serta digunakan sesuai dengan petunjuknya", pungkas Ria.

Saat ini para peternak yang tergabung dalam Pinsar Petelur Nasional (PPN) Cabang Jawa Timur, Pinsar Indonesia Cabang Jawa Timur dan Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) serta Komunitas Peternak Ayam Indonesia telah menyatakan dukungannya terhadap upaya pengendalikan resistensi antibiotik.

Baca Juga: KPK Tangkap 6 Orang Dalam OTT Bupati Pakpak Bharat

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS