Cerita Heroik 2 Warga Nduga Selamatkan Pekerja Istaka Karya dari Penembakan

Bangun Santoso | Suara.com

Jum'at, 07 Desember 2018 | 08:21 WIB
Cerita Heroik 2 Warga Nduga Selamatkan Pekerja Istaka Karya dari Penembakan
Petugas gabungan TNI dan Polri mendata keluarga korban penembakan di Kabupaten Nduga, Papua. (ANTARA FOTO/Jeremias Rahadat)

Suara.com - Dua warga asli di Mbua, Kabupaten Nduga, Papua bernama Endis Tabuni, seorang mantri Puskesmas Yigi dan Ekira Lokbere, salah satu pekerja PT Istaka Karya, harus bertaruh nyawa menyelamatkan para pekerja dari aksi penembakan oleh kelompok bersenjata di daerah itu.

Mengutip laman Kabarpapua.co, saat itu, Endis Tabuni dan Ekira Lokbere mencoba berbagai cara agar bisa menyelamatkan beberapa warga pendatang, termasuk pekerja PT Istaka Karya dari aksi kekejaman kelompok kriminal bersenjata atau KKB di Kampung Yigi, Distrik Mbua, Kabupaten Nduga, pada tanggal 1 dan 2 Desember 2018.

Sembari menggendong anaknya yang berumur antara 3-4 tahun bernama Martina Tabuni, Endis bertaruh nyawa berusaha menyelamatkan dua orang pekerja proyek pembangunan rumah dokter di daerah itu.

Endis tak sendiri, Ekira Lokbere juga ikut bertaruh nyawa menyelamatkan lima orang pekerja PT Istaka Karya, yang salah satunya adalah pimpinan Ekira bernama Jhoni Arung di PT Istaka Karya.

“Mereka melindungi para pekerja ini dengan segala macam cara. Bahkan ada yang mengatakan kepada KKB, jika kamu sentuh dia (para pekerja), bunuh dulu saya," kata Kepala Penerangan Kodam Cenderawasih, Kolonel Inf. Aidi menirukan salah satu warga asli Mbua yang harus bertaruh nyawa masuk hutan cari tempat aman bagi pekerja yang mereka selamatkan.

Aidi menceritakan, pada tanggal 1 Desembar itu, kelompok bersenjata selain mengambil para pekerja PT Istaka Karya di camp, rupanya ada sebagian lain yang menyisir rumah-rumah warga yang ada di sekitar camp pekerja PT Istaka Karya.

Aidi menyebutkan anggota kelompok bersenjata itu selain mencari warga pendatang mereka juga mencari warga yang bukan Suku Yigi (suku asli setempat) untuk dibunuh. Salah satu rumah yang didatangi saat itu, rumah Endis Tabuni, ia diketahui menyimpan dua orang pekerja yang sedang mengerjakan proyek pembangunan rumah untuk dokter.

“Endis Tabuni adalah warga asli Papua sekaligus seorang mantri di Yigi, dia juga diberi tanggung jawab untuk memantau pekerjaan proyek rumah dokter,” kata Aidi, Kamis, (6/12/2018).

Kepala Ditodong Senjata

Prajurit TNI bersiap menaiki helikopter menuju Nduga di Wamena, Papua, Rabu (5/12/2018). ANTARA FOTO/Iwan Adisaputra
Prajurit TNI bersiap menaiki helikopter menuju Nduga di Wamena, Papua, Rabu (5/12/2018). ANTARA FOTO/Iwan Adisaputra

Menurut kesaksian Endis Tabuni, saat itu sekitar pukul 16.30 WIT, KKB berjumlah lima orang mendatangi rumahnya dan menodongkan senjata di kepala dan badannya. Saat itu dia diminta untuk menyerahkan dua orang pekerja yang ditampung.

“Endis Tabuni saat itu mengatakan bahwa dua orang pekerja sudah tidak ada di rumahnya dan lari ke dalam hutan. Ternyata, dua orang itu disembunyikan di rumahnya ditutup dengan menggunakan bahan seadanya baik itu kain atau daun,” ujar dia.

Kemudian pukul 09.00 WIT, Endis Tabuni mengendap keliling kampung tanpa penerangan untuk mengecek situasi kelompok bersenjata. Setelah dinyatakan aman, Endis Tabuni kembali menjemput dua pakerja untuk menyelamatkan diri.

Lalu sekitar pukul 12.00 WIT, Endis Tabuni bersama dua pekerja menuju hutan ke arah Mbua, sebab Mbua yang dirasa paling aman. Sambil menggendong anaknya yang berusia tiga tahun, dia mengawal dua pekerja masuk ke hutan jalan kaki tanpa penerangan.

“Saat berada di dalam hutan dengan rasa takut dan tanpa penerangan Endis Tabuni berjalan dengan cepat, sekitar satu jam berlalu mereka terpisah. Tetapi besok paginya mereka bertemu di Pos TNI Mbua dengan beberapa warga lain yang memiliki cerita masing-masing untuk menyelamatkan diri,” tutur Aidi.

Kemudian, Ekira Lokbere merupakan warga asli Mbua yang berdomisilih di Yigi, dia adalah salah satu karyawan PT Istaka Karya, karena memiliki rumah di Yigi dia tak tidur di camp. Ekira Lokbere menampung beberapa pekerja PT Istaka Karya, termasuk bosnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

8 Teridentifikasi, 3 Jenazah Korban Penembakan di Papua Masih Dicari

8 Teridentifikasi, 3 Jenazah Korban Penembakan di Papua Masih Dicari

News | Jum'at, 07 Desember 2018 | 05:45 WIB

Penembakan di Papua, Tangis Keluarga Pecah Diberitahu Agus Tewas

Penembakan di Papua, Tangis Keluarga Pecah Diberitahu Agus Tewas

News | Jum'at, 07 Desember 2018 | 01:00 WIB

Juru Bicara OPM Sebby Sambom: Ini adalah Perang Kemerdekaan Papua

Juru Bicara OPM Sebby Sambom: Ini adalah Perang Kemerdekaan Papua

wawancara | Kamis, 06 Desember 2018 | 19:39 WIB

TPNPB: Kami Bukan Kriminal, Korban Tewas di Trans Papua Bukan Dieksekusi

TPNPB: Kami Bukan Kriminal, Korban Tewas di Trans Papua Bukan Dieksekusi

News | Kamis, 06 Desember 2018 | 15:40 WIB

3 Faktor Utama Lambatnya Perekaman E-KTP di Papua

3 Faktor Utama Lambatnya Perekaman E-KTP di Papua

News | Kamis, 06 Desember 2018 | 14:31 WIB

Terkini

BPH Migas Pastikan BBM Aman di Tol Padaleunyi Jelang Puncak Arus Balik 2026

BPH Migas Pastikan BBM Aman di Tol Padaleunyi Jelang Puncak Arus Balik 2026

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 11:16 WIB

Studi: Industri Migas Tinggalkan Citra Energi Bersih, Kini Tekankan Ketergantungan Energi Fosil

Studi: Industri Migas Tinggalkan Citra Energi Bersih, Kini Tekankan Ketergantungan Energi Fosil

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 11:15 WIB

Gus Yaqut Kembali ke Rutan KPK Usai Tahanan Rumah: Alhamdulillah, Sempat Sungkem ke Ibu Saya

Gus Yaqut Kembali ke Rutan KPK Usai Tahanan Rumah: Alhamdulillah, Sempat Sungkem ke Ibu Saya

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 11:03 WIB

Waduh! Siap-siap Ledakan Besar Pusat Tenaga Nuklir Jika AS Serang PLTN Bushehr Iran

Waduh! Siap-siap Ledakan Besar Pusat Tenaga Nuklir Jika AS Serang PLTN Bushehr Iran

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 11:02 WIB

Panik Diserang Balik Iran, Israel Tiba-tiba Ingat HAM dan Minta Tolong Dunia

Panik Diserang Balik Iran, Israel Tiba-tiba Ingat HAM dan Minta Tolong Dunia

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 10:59 WIB

KAI Daop 6 Yogyakarta Prediksi Puncak Arus Balik Hari Ini, 71 Ribu Penumpang Padati Stasiun

KAI Daop 6 Yogyakarta Prediksi Puncak Arus Balik Hari Ini, 71 Ribu Penumpang Padati Stasiun

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 10:54 WIB

Arus Balik Lebaran: 52.926 Penumpang Tiba di Jakarta, Pasar Senen Terpadat

Arus Balik Lebaran: 52.926 Penumpang Tiba di Jakarta, Pasar Senen Terpadat

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 10:37 WIB

Rumah di Kembangan Terbakar Saat Ditinggal Penghuninya Berlebaran

Rumah di Kembangan Terbakar Saat Ditinggal Penghuninya Berlebaran

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 10:33 WIB

Pemerintah Prioritaskan Sekolah Tatap Muka, Menko PMK: Hindari Learning Loss

Pemerintah Prioritaskan Sekolah Tatap Muka, Menko PMK: Hindari Learning Loss

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 10:29 WIB

Kenaikan Suhu Bumi Melonjak 75 Persen, Sinyal Bahaya atau Fluktuasi Jangka Pendek?

Kenaikan Suhu Bumi Melonjak 75 Persen, Sinyal Bahaya atau Fluktuasi Jangka Pendek?

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 10:22 WIB