Publik Indonesia Paham HAM, Tapi Tak Setuju karena Terkesan Membela LGBT

Pebriansyah Ariefana | Walda Marison
Publik Indonesia Paham HAM, Tapi Tak Setuju karena Terkesan Membela LGBT
Ilustrasi LGBT, Penyimpangan Seksual. (Shutterstock)

Survei itu dilakukan berdasarkan tiga indikator dasar yaitu pemahaman atau kognisi, sensibilitas atau kepekaan nurani, dan tindakan atau modus.

Suara.com - Hasil penelitian kelompok Peneliti Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) menyatakan sebagian masyarakat Indonesia paham soal hak asasi manusia atua HAM . Namun mereka tidak setuju HAM untuk membela kaum lesbian , gay , biseksual dan transgender .

Para peneliti P2D melakukan survei terkait tingkat pengetahuan kultur HAM di Indonesia. Survei tersebut melibatkan 2.040 responden dari 34 Provinsi di Indonesia baik desa maupun perkotaan. Metode yang digunakan stratified random sampling dengan margin of error sebesar 2,3 persen di tingkat konfiden 95 persen.

Survei itu dilakukan berdasarkan tiga indikator dasar yaitu pemahaman atau kognisi, sensibilitas atau kepekaan nurani, dan tindakan atau modus. Wawancara yang digunakan tatap muka dengan mendatangi tiap rumah dan pertanyaan langsung dibacakan.

Peneliti P2D sekaligus Dosen Sosiologi UNJ, Robertus Robet, mengatakan jika tingkat kognitif atau pengetahuan masyarakat Indonesia tentang pengertian HAM terbilang tinggi. Hal itu dikatakanya dalam acara diskusi di rumah makan Tjikini lima, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (20/1/2019).

"79 persen tahu apa itu HAM. Kalau kita lihat apakah dalam konstitusi kita sudah mengakomodasi HAM, 72 persen mengatakan sudah. Apakah menjamin HAM warga merupakan tugas negara? 91 persen menjawab iya. Artinya kesadaran individu soal HAM kuat," ujarnya.

Dia pun memaparkan lagi hasil penelitian yang dilakukan selama Oktober 2018 itu. Sebanyak 46 persen responden pun menyatakan bahwa HAM telah sejalan dengan tradisi kebiasaan di lingkungannya dan 41 persen menjawab agak sesuai.

Namun yang mencengangkan adalah banyak masyarakat Indonesia paham soa HAM namun tidak paham fungsi Komnas HAM. Hal itu terlihat dari angka perbandingan yang pihaknya dapati.

"62 persen tahu, 38 persen tidak. Apakah tahu tugas Komnas HAM, 85 persen tidak dan hanya 15 persen yang tahu," jelasnya.

Lebih lanjut, Sebanyak 51 persen responden tidak setuju dan 22 persen kurang setuju dengan keberadaan LGBT , lalu 77 persen pun menolak HAM karena terkesan pasang badan soal LGBT. Sementara itu sebanyak 31 persen responden setuju juga setuju soal hukuman mati dan 31 persen menyatakan agak setuju.

Hal ini sangat beranding terbalik dengan sikap masyarakat soal HAM. Pasalnya 43 persen orang mengatakan HAM adalah hak untuk hidup dan 22 persen menjawab kebebasan memilih keyakinan dan agama, kesamaan di hadapan pemerintah dan hukum, mendapatkan pendidikan yang layak.

"Jadi mayoritas kita tahu apa itu HAM, apa itu hak hidup, tapi secara paradoktikal juga setuju hukuman mati," terangnya.

Kesimpulan yang mereka tangkap dari penilitain ini yakni masyarakat Indonesia sadar bahwa HAM itu penting. Namun menolak hak yang dijamin HAM yakni kebebasan Individu.

"Jadi HAM kita itu tumbuh dalam gagasan berkembang, akademik hadir, tapi dia tumbuh tanpa pendasaran normatif, tanpa disertai pengakuan hak individual," terangnya.

Suara.Com

Suara.com adalah portal berita yang
menyajikan informasi terhangat, baik peristiwa politik, bisnis, hukum, entertainment...

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS