2. Warga Jual Tanah

Sebanyak 52 warga atau 16 kepala keluarga di Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, melakukan eksodus ke daerah Malang, gara-gara terindoktrinasi mengenai kiamat sudah dekat.
Bahkan, puluhan warga tersebut telah menjual rumah dan tanah, serta harta bendanya guna memperdalam ilmu sekte di Malang yang juga menubuatkan kiamat nantinya kali pertama melanda Desa Watubonang.
Hal tersebut terungkap setelah warganet bernama Rizki Ahmad Ridho mengunggah tulisan mengenai hal tersebut di laman komunitas Info Cegatan Warga Ponorogo (ICWP).
3. Warga Percaya Ramalan Kiamat karena Fatwa
![Ilustrasi Bumi ditabrak oleh objek antariksa. [Shutterstock]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2017/09/18/56200-kiamat.jpg)
Fatwa kiamat bakal terjadi pada bulan Ramadan tahun 2019 beredar dan meresahkan warga Malang, Jawa Timur.
Apalagi, fatwa kiamat itu juga yang menyebabkan 52 warga desa di Ponorogo berbondong-bondong melarikan diri ke Malang. Berdasarkan informasi yang terhimpun, fatwa kiamat itu dikeluarkan pondok pesantren di Kasembon, Kabupaten Malang.
Polres Batu akhirnya mengelar pertemuan yang melibatkan Muspika Kasembon, MUI, KUA, dan MWC Nahdlatul Ulama Kasembon untuk membahas keabsahan fatwa tersebut.
Dalam pertemuan tersebut, terungkap fatwa kiamat itu disebarluaskan dari Pondok Pesantren berinisial MFM yang diasuh oleh Kiai MR di Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon. Fatwa itu berisi mengenai peringatan bakal terjadi kiamat dan bencana pada bulan Ramadan nanti. Fatwa itu disebarluaskan melalui aplikasi obrolan WhatsApp.
Dalam pesan berantai itu juga disebutkan, karena akan terjadi kiamat, maka santri/ jemaah diminta menjual aset-aset yang dimiliki untuk bekal akhirat, dibawa dan disetorkan ke pondok. Kapolres Batu Ajun Komisaris Besar Budi Hermanto membenarkan ada peredaran pesan berantai tersebut. Namun ia mengatakan, pesan tersebut adalah hoaks.
4. Gagal Nikah

Desa Watu Bonang, Ponorogo, Jawa Timur tak hanya ditinggalkan warga akibat beredarnya isu kiamat. Bahkan, nyaringnya isu akhir zaman di desa itu pun membuat perempuan Katyiem (45) terpaksa sendirian setelah ditinggal pergi sang menantu ke Malang karena khawatir akibat isu kiamat di tempat tingganya.
Menantu tersebut meninggalkan putri kandung Katiyem tanpa alasan yang jelas, pukul 22.00, Senin lalu (4/3/2019). Putrinya hanya ditinggali pesan bahwa suaminya itu pergi ke Malang. Menyusul rombongan lain yang sudah berangkat terlebih dahulu.
Katiyem turut bersedih mengingat umur pernikahan anaknya baru delapan bulan. Pun belum dikaruniai buah hati. Si menantu berangkat saat hujan lebat dan hanya membawa pakaian. Tidak bawa apa-apa, cuma pakaian yang dikenakan dan mungkin sejumlah uang.
Beruntung, menantunya itu tak ikut menjual harta benda di rumahnya sebelum pergi. Berbeda dengan warga lain yang telah berangkat lebih dulu. Tiga keluarga yang telah berangkat satu bulan lalu menjual tanah dan rumah beserta isinya. Hasil penjualan digunakan utuk bekal menuntut ilmu di Malang.