4 Fakta Pembajakan Mobil Tangki Pertamina

Pebriansyah Ariefana | Chyntia Sami Bhayangkara
4 Fakta Pembajakan Mobil Tangki Pertamina
Dua mobil tangki milik PT Pertamina yang dibajak. (Suara.com/Novian)

Di balik pembajakan yang terjadi, ada sejumlah fakta yang terungkap.

Suara.com - Dua mobil tangki milik PT Pertamina (Persero) dibajak oleh para pedemo Awak Mobil Tangki. Kedua mobil tangki yang berisi penuh Bahan Bakar Minyak (BBM) itu dibawa menuju depan Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (18/3/2019).

Pihak kepolisian pun langsung mengamankan kedua mobil tangki berisi BBM penuh itu. Di balik pembajakan yang terjadi, ada sejumlah fakta yang terungkap.

Berikut Suara.com merangkum beberapa fakta mengenai kasus pembajakan mobil tangki milik Pertamina.

1.   Kronologi Pembajakan

Truk tangki milik Pertamina yang diamankan pihak kepolisian terparkir di sekitar Monas, Jakarta, Senin (18/3).[Suara.com/Arief Hermawan P]
Truk tangki milik Pertamina yang diamankan pihak kepolisian terparkir di sekitar Monas, Jakarta, Senin (18/3).[Suara.com/Arief Hermawan P]

Pembajakan terjadi saat mobil tangki akan mengirim BBM biosolar muju SPBU area Tangerang. Di tengah perjalanan saat memasuki pintu Tol Ancol, mobil tangki dihadang oleh sekelompok orang tak dikenal.

Dua mobil tangki yang dihadang dan dilarikan itu masing-masing ber plat polisi B 9214 TFU dan B 9575 UU yang dikemudikan oleh Muslih bin Engkon dan Cepi Khaerul.

Mereka mengambil alih kemudi mobil tangki sambil membentak soupir mobil tangki. Akhirnya mobil pun berhasil dikuasai oleh orang tak dikenal itu dan langsung dilarikan menuju ke Istana Negara pada Senin pagi sekira pukul 5.00 WIB.

2.   Alasan Pembajakan

Truk tangki milik Pertamina yang diamankan pihak kepolisian terparkir di sekitar Monas, Jakarta, Senin (18/3).[Suara.com/Arief Hermawan P]
Truk tangki milik Pertamina yang diamankan pihak kepolisian terparkir di sekitar Monas, Jakarta, Senin (18/3).[Suara.com/Arief Hermawan P]

Kedua mobil tangki milik Pertamina yang dibajak itu dijadikan sebagai alat untuk demo di depan Istana Negara. Mereka memprotes pemecatan sepihak yang dilakukan oleh Pertamina.

Perusahaan melakukan PHK melalui vendor PT.Garda Utama Nasional pada Selasa, 30 Mei 2017. Sejak itu, serikat sudah berupaya untuk melakukan perundingan namun belum juga membuahkan hasil.

Titik puncaknya, para massa pun melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Negara dengan membawa dua mobil tangki yang dibajak. Tujuannya agar keinginan mereka dipenuhi oleh Jokowi.

3.   5 Tersangka Dibekuk

Lima tersangka kasus pembajakan mobil tangki milik Pertamina. (Suara.com/Arga)
Lima tersangka kasus pembajakan mobil tangki milik Pertamina. (Suara.com/Arga)

Polisi telah menetapkan lima orang tersangka atas kasus pembajakan mobil tangki. Kelima tersangka berinisial N, TK, WH, AM, dan M itu meruoakan pedemo dari Serikat Pekerja Awak Mobil Tangki (SPAMT) yang melakukan unjuk rasa di Istana Negara dengan membawa mobil tangki pembajakan.

Kelima pedemo dinilai telah memprovokasi para pedemo lain untuk membajak truk pengangkut BBM. Bahkan, demonstrasi yang digelar mereka itu juga tak mendapatkan izin dari kepolisian.

Pihak kepolisian memprediksi jumlah tersangka masih bisa bertambah. Pasalnya, hingga kini masih ada 12 orang lainnya yang buron.

4.   Dikecam Banyak Pihak

Dua mobil tangki milik PT Pertamina yang dibajak. (Suara.com/Novian)
Dua mobil tangki milik PT Pertamina yang dibajak. (Suara.com/Novian)

Sesaat setelah penangkapan para tersangka yang merupakan pedemo dari SPAMT, sejumlah massa AMT menggeruduk Polres Metro Jakarta Utara. Mereka mendesak agar polisi membebaskan rekan mereka yang menjalani pemeriksaan di kantor kepolisian.

Lembaga Bantuan Hukum Jakarta pun mengecam penangkapan sejumlah buruh SPAMT. Pengacara public LBH Jakarta Ayu Eza Tiara menilai penangkapan berlangsung secara semena-mena tanpa membawa surat perinta resmi.

Tak hanya itu, LBH Jakarta pun menilai ada upaya teror yang dilakukan terhadap buruh AMT yang memperjuangkan nasibnya setelah terkena PHK. Bahkan, LBH Jakarta pun diadang aparat Polres Metro Jakarta Utara saat hendak memberikan pendampingan kepada para tersangka.

“Bagi kami ini merupakan upaya menebar teror kepada buruh dan keluarganya yang sedang memperjuangkan hak. Mereka sebenarnya menuntut pengangkatan sebagai pekerja tetap setelah 20 tahun bekerja sebagai Awak Mobil Tangki PT Pertamina Patra Niaga. Penghalangan tersebut dilakukan melalui tindakan fisik dan verbal berupa mendorong badan kami dan teriakan-teriakan anggota polisi,” tegas Ayu.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS