NSHE Presentasi PLTA Batang Toru, Aktivis Teriak: Mereka Rusak Hutan

Iwan Supriyatna

Jum'at, 06 September 2019 | 06:14 WIB
NSHE Presentasi PLTA Batang Toru, Aktivis Teriak: Mereka Rusak Hutan
Dua aktivis Walhi Sumatera Utara memotong presentasi Agus Djoko Ismanto yang berjudul PLTA Batang Toru Aksi Nyata Mitigasi Perubahan Iklim di Perhelatan 9th Indonesia Climate Change Forum and Expo.

Suara.com - Dua aktivis Walhi Sumatera Utara memotong presentasi Agus Djoko Ismanto yang berjudul PLTA Batang Toru Aksi Nyata Mitigasi Perubahan Iklim di Perhelatan 9th Indonesia Climate Change Forum and Expo yang digelar di Santika Premiere Dyandra Hotel & Convention, Medan.

Aksi mereka dilakukan oleh dua orang yang berorasi sambil memegang poster kecil bertuliskan Hutanku Terluka dan NSHE Go To Hell.

Saat itu, Agus mengatakan bahwa pihaknya sangat yakin bahwa banyak yang akan berjuang mengatasi perubahan iklim. Dia sepakat dengan pernyataan narasumber sebelumnya, Sonny Keraf dampak perubahan iklim sudah terasa.

“Kita berbagi tugas. Bapak dan ibu tentu akan bertindak sesuai dengan peran dan kemampuannya. Kami dapat tugas dari pemerintah, pusat dan daerah untuk membangun PLTA, namanya PLTA Batang Toru. Apa yang bisa kami subangkan terhadap isu perubahan iklim ini,” katanya.

Jadi, lanjutnya, PLTA Batang Toru akan bisa mengurangi penggunaan sumber energi fosil. Subtitusi energi fosil, kata dia, sebesar 1,6 juta ton karbon ekuivalen per tahun. Menurutnya, membayangkan karbon yang hilang di langit adalah hal sulit.

“Dua hari yang lalu ada presentasi dari KLHK menghitung peran hutan Ciberekah menyerap karbon. Di sana bisa menyerap 7 ton karbon per hektare per tahun. Sekarang ambil kalkulator lalu hitung 1,6 juta ton karbon kalau dibagi 7, itu kira-kira,” tak selesai dijelaskannya, tiba-tiba terdengar suara keras seorang perempuan di ruangan.

Perempuan tersebut membawa poster kecil bertuliskan NSHE Go To Hell. Dalam orasinya dia menyebut pembohong besar. Dikatakannya, bagaimana bisa korporasi kotor seperti mereka ada di panggung megah ini.

Kenyataannya, lanjut dia, mereka membangun PLTA di Batang Toru, lebih dari 400 hektare lahan masyarakat dan menggusur habitat satwa yang baru saja ditemukan.

“Dan merusak hutan. Bagaimana bisa mereka kemudian bicara mitigasi perubahan iklim. Sementara mereka merusak hutan di Batang Toru,” katanya.

baca juga

Seorang aktivis lainnya, yang membawa poster bertuliskan Hutanku Terluka mengatakan, tak akan bisa terjadi membicarakan perubahan iklim, jaga hutan sedangkan faktanya hutan ditebang dan dirambah oleh mereka.

“Lalu apa sekarang, orangutan tapanuli yang menjadi kebanggaan Indonesia, habitatnya terancam. Apakah kita diam untuk itu, tak bisa,” katanya.

Menurut mereka, pemerintah tak seharusnya memberikan panggung kepada korporasi kotor lalu menyuguhkan pendidikan kotor.

“Bahkan mereka sendiri telah secara terang-terangan melakukan pemalsuan tanda tangan tim ahli. Kita tidak menolak energi terbarukan. Cuma harus benar-benar clear and clean. Tidak bisa main terus. Bagaimana menciptakan keadilan ekologi kalau tetap terlaksana sampai sekarang,” katanya.

Saat itu, seseorang mencoba untuk menghentikan orasi mereka namun tidak berhasil. Agus sendiri, tetap berdiri tenang di panggung bersama dengan Kepala Humas KLHK Djati Witjaksono, Mantan Menteri Lingkungan Hidup, A. Sonny Keraf dan moderator Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumut, Binsar Situmorang.

Seolah tidak terjadi apa-apa, Agus justru mengucapkan terima kasih dan mengajak untuk bermain hitung-hitungan. Menurutnya, 1,6 juta ton karbon per tahun kalau digunakan fungsi hutan yang di Ciberekah itu setara dengan 200 ribu hektare fungsi dari hutan yang dipertahankan.

Ketika pembangunan, kata dia, ada proses land clearing. Ada sebagian yang harus pembukaan lahan karena lerengnya berat. Tak mungkin bekerja di tanah yang miring.

“Nah, berapa karbon yang teremisi dari pembukaan lahan, ternyata tidak banyak karena hasil penelitian kita kandungan karbon di lahan yang kita buka ini sangat kecil. Totalnya kalau diambil nilai rata-ratanya, adalah 20,3 ton itu yang akan hilang selama proses pembukaan lahan,” katanya.

Berita ini sebelumnya dimuat Kabarmedan.com jaringan Suara.com dengan judul "Detik-detik Presentasi PT NSHE Dipotong Aksi Walhi Sumut Dengan Teriakan Pembohong Besar"

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Situ Gunung Trail Run For Nation Promosi Pariwisata Tanpa Merusak Alam

Situ Gunung Trail Run For Nation Promosi Pariwisata Tanpa Merusak Alam

Lifestyle | Minggu, 25 Agustus 2019 | 00:03 WIB

Pemerintah Sebut Titik Panas Karhutla Kini Meningkat 70 Persen Lebih

Pemerintah Sebut Titik Panas Karhutla Kini Meningkat 70 Persen Lebih

News | Selasa, 30 Juli 2019 | 22:34 WIB

Latih 100.000 Teknisi AC, Kemnaker Kerja Sama dengan KLHK

Latih 100.000 Teknisi AC, Kemnaker Kerja Sama dengan KLHK

News | Jum'at, 19 Juli 2019 | 08:26 WIB

Terkini

Biang Kerok Blackout! Polri Bongkar Korupsi Batu Bara PLTU yang Bikin Listrik Padam Massal

Biang Kerok Blackout! Polri Bongkar Korupsi Batu Bara PLTU yang Bikin Listrik Padam Massal

News | Senin, 06 Juli 2026 | 22:15 WIB

WNI Tewas Mengenaskan di Jepang, Terduga Pelaku Diduga Tabrakkan Diri ke Kereta

WNI Tewas Mengenaskan di Jepang, Terduga Pelaku Diduga Tabrakkan Diri ke Kereta

News | Senin, 06 Juli 2026 | 21:40 WIB

Mahfud MD Heran Fenomena UU 'Simsalabim': Tiba-tiba Jadi, Kapan Dibahasnya?

Mahfud MD Heran Fenomena UU 'Simsalabim': Tiba-tiba Jadi, Kapan Dibahasnya?

News | Senin, 06 Juli 2026 | 21:35 WIB

Bulog Respon Cepat Masukan Masyarakat, Direktur Operasi Tinjau Penanganan Gudang Karawang

Bulog Respon Cepat Masukan Masyarakat, Direktur Operasi Tinjau Penanganan Gudang Karawang

News | Senin, 06 Juli 2026 | 21:27 WIB

Dewan Pers Kabulkan Pokok Aduan Gus Ipul atas Artikel Opini yang Dinilai Menyudutkan

Dewan Pers Kabulkan Pokok Aduan Gus Ipul atas Artikel Opini yang Dinilai Menyudutkan

News | Senin, 06 Juli 2026 | 20:57 WIB

Rumor 'Orang Dalam' Bocorkan OTT Kuansing Mencuat, KPK: Itu Cuma Spekulasi!

Rumor 'Orang Dalam' Bocorkan OTT Kuansing Mencuat, KPK: Itu Cuma Spekulasi!

News | Senin, 06 Juli 2026 | 20:55 WIB

Soroti Fenomena 'Rule by Law', Eks Ketua KY Sebut Hukum Dibajak Oligarki Demi Proyek Elite

Soroti Fenomena 'Rule by Law', Eks Ketua KY Sebut Hukum Dibajak Oligarki Demi Proyek Elite

News | Senin, 06 Juli 2026 | 20:48 WIB

Kemendagri Koordinasikan Usulan BSPS dari Daerah untuk Perkuat Program Perumahan

Kemendagri Koordinasikan Usulan BSPS dari Daerah untuk Perkuat Program Perumahan

News | Senin, 06 Juli 2026 | 20:42 WIB

Bukan Cuma Jakarta, PM Narendra Modi ke Yogyakarta Demi Restorasi Candi Prambanan

Bukan Cuma Jakarta, PM Narendra Modi ke Yogyakarta Demi Restorasi Candi Prambanan

News | Senin, 06 Juli 2026 | 19:58 WIB

Online Scam hingga Ancaman Privasi: Era AI Butuh Tata Kelola Ruang Digital Berbasis HAM

Online Scam hingga Ancaman Privasi: Era AI Butuh Tata Kelola Ruang Digital Berbasis HAM

News | Senin, 06 Juli 2026 | 19:42 WIB

×