Dikeroyok Oknum Aparat dalam Demo Makassar, Ini Cerita Jurnalis LKBN Antara

Arsito Hidayatullah, Welly Hidayat

Rabu, 25 September 2019 | 06:33 WIB
Dikeroyok Oknum Aparat dalam Demo Makassar, Ini Cerita Jurnalis LKBN Antara
Ilustrasi - Aksi demonstrasi para jurnalis meminta dihentikannya kekerasan terhadap wartawan. [Suara.com]

Suara.com - Jurnalis atau pewarta dari LKBN Antara, Muh Darwin Fatir, membeberkan kronologis kejadian terkait penganiayaan dan pengeroyokan yang terjadi terhadap dirinya oleh oknum aparat kepolisian ketika melakukan peliputan di Kantor DPRD Sulawesi Selatan, Selasa (24/9/2019).

Darwin mengatakan, peristiwa itu berawal ketika bentrok kembali pecah antara massa mahasiswa dan aparat. Saat itu, sejumlah mahasiswa dari berbagai elemen yang berunjuk rasa menolak UU KPK dan berbagai RUU lainnya, berhasil tembus masuk ke kantor DPRD Sulawesi Selatan, yang di awal aksi demo Makassar itu sebenarnya berlangsung kondusif.

"Namun, setelah peserta aksi merangsek ke pintu masuk gerbang utama, terjadi ketegangan karena mahasiswa berusaha merobohkan gerbang pagar kantor dewan setempat," kata Darwin melalui keterangan tertulisnya, Selasa (24/9/2019).

Darwin mengaku tak mengetahui siapa yang awalnya terpancing emosi, sehingga aparat kepolisian langsung menembakkan gas air mata ke arah kelompok mahasiswa tersebut.

"Disambung (semprotan) water cannon ke arah pendemo, otomatis massa aksi berhamburan," ujar Darwin.

Momen inilah menurut Darwin, yang kemudian dimanfaatkan aparat untuk membubarkan mahasiswa dengan cara represif. Bahkan ada beberapa oknum yang melempari mahasiswa dengan batu, hingga mereka berlarian ke arah showroom mobil dan rumah warga yang berdekatan dengan lokasi bentrokan.

"Banyak di antara mahasiswa yang masih bertahan, hingga mencoba kabur dengan memanjati pagar tembok rumah warga setempat karena sudah tersudut," kata Darwin.

Di saat itu pula, masih menurut Darwin, sejumlah oknum polisi pun kemudian berlarian menangkapi mereka dan terlihat sangat emosional. Para petugas itu lalu memukuli secara brutal, hingga bahkan di antara mahasiswa ada yang berdarah-darah.

"Padahal mereka belum tentu pelaku kriminal, apalagi melakukan aksi anarkis, tapi dipukuli kaya pencuri oleh aparat. Entah apa yang ada di pikiran penegak hukum kita saat itu," tutur Darwin.

baca juga

Saat itulah Darwin mengaku juga akhirnya ikut mengalami pengeroyokan. Di mana berawal dari dirinya yang merasa iba melihat sejumlah mahasiswa dipukuli, lalu mencoba memperingatkan aparat kepolisian bahwa sejumlah jurnalis melakukan perekaman, sekaligus meminta agar polisi berhenti melakukan pengeroyokan.

"Karena merasa iba, saya berusaha untuk mengingatkan para aparat penegak hukum ini, untuk tidak memukuli mahasiswa seperti itu. Saya berusaha mengingatkan bahwa perlakuan itu diliput media, imbasnya bisa berakibat pada kredibilitas kepolisian di mata publik. Karena kejadian itu fakta, maka jurnalis berhak meliputnya, sebab (tugas kami) dilindungi Undang-Undang Pers," kata Darwin.

Tapi nyatanya, bukannya mendengar ucapan Darwin, sejumlah oknum polisi malah marah dan melarang meliput, bahkan mencoba menghalang-halanginhya mengambil gambar.

"Bahkan ada yang menghardik saya dengan kata-kata menantang. Lalu saya dikerumuni mereka, lantas dipukuli beramai-ramai seperti mahasiwa tadi," ungkap Darwin lagi.

Ketika dipukuli itu, Darwin mengaku sudah mencoba memberi tahu bahwa dirinya bersama rekan media lain adalah jurnalis. Namun, para oknum polisi tersebut tak menggubrisnya, serta tetap memukuli dirinya beserta rekan media lain.

"Saya beserta kawan, teman media lain yang juga meliput, berusaha mengatakan bahwa kami dari media, wartawan. Tapi tetap disikat. Hingga kepala saya kena pentungan, sampai bocor, tangan lebam, hingga perut dan dada masih sesak sebab dihadiahi tendangan sepatu lars dari petugas yang masih berbekas di baju putih yang saya kenakan," beber Darwin.

Demo ricuh di Makassar (Twitter)
Salah satu rekaman gambar demo ricuh di Makassar. (Twitter/captured)

Untunglah menurut Darwin, dirinya lantas bisa bernapas lega, ketika Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Wahyu Dwi Ariwibowo membantunya keluar dari amukan para oknum personel kepolisian itu.

"Saya dipeluk untuk diselamatkan dari amukan oknum-oknum itu, hingga saya berhasil keluar dari zona merah tempat mereka melampiaskan kemarahannya kepada mahasiswa. Setelah itu, saya dibawa kawan-kawan duduk sejenak, lalu dilarikan ke Rumah Sakit Awal Bros Makassar," ucap Darwin.

Menurut Darwin pula, ketika dirinya dibawa ke RS Awal Bros, ternyata sudah banyak mahasiswa yang dilarikan ke rumah sakit tersebut.

"Ternyata setibanya di sana, ada puluhan mahasiswa terkapar, sampai pihak rumah sakit pun terpaksa menjadikan ruang pelayanan sebagai unit gawat darurat, karena ruang IGD sudah penuh," kata Darwin.

Meski telah sempat dirawat di rumah sakit, Darwin menyebut bahwa belakangan kondisi kepalanya masih terasa sakit. "Semua badan terasa lemah usai dirawat di rumah sakit," ungkapnya.

Darwin pun mengaku sengaja membuat tulisan kronologis demi mengklarifikasi kejadian tersebut. Tujuannya, agar warga mengentahui dan menilai sendiri apa yang telah dilakukan oleh oknum aparat yang harusnya jadi pengayom masyarakat tersebut.

"Apakah perlakuan aparat harus sebrutal itu? Apakah selama ini mereka dididik, diajarkan bisa memukuli saudaranya sendiri?" ucap Darwin.

Lebih jauh, Darwin pun berharap agar aparat kepolisian dalam penanganan aksi mahasiswa bisa lebih baik dan tidak harus represif. Apalagi mengingat ini adalah agenda nasional yang telah menggerakkan hampir seluruh mahasiswa di Indonesia.

"Mereka tidak dibayar untuk aksi, tapi mereka mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Gerakan mahasiswa hari ini murni, bukan bayar-bayaran yang biasanya diduga dilakukan oknum yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan kelompok dan golongannya," ujarnya.

"Dengan kejadian ini, publik akan tergugah bahwa inilah fakta yang sebenarnya terjadi. Saya mohon maaf kalau ada salah kata, tapi ini adalah realita," tutup Darwin.

Terkait kejadian ini, sebagaimana ditulis sejumlah media online hingga Selasa (24/9) malam, pihak Polrestabes Makassar maupun Kapolrestabes yang memang berada di lokasi kejadian, masih belum memberikan keterangan resmi dan belum bisa diwawancara perihal bentrokan itu.

Sementara itu, terkait kejadian lainnya, yaitu khususnya pengejaran mahasiswa pendemo hingga ke dalam masjid tanpa melepas sepatu, Polda Sulawesi Selatan justru sudah memberikan pernyataan sekaligus permintaan maaf. Kejadian itu sendiri terekam video yang kemudian beredar luas.

"Sehubungan dengan hal tersebut, Polda Sulsel mohon maaf sebesar-besarnya atas insiden itu. Demikian klarifikasi ini kami buat atas petunjuk Bapak Kapolda Sulsel," ungkap Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani, melalui keterangan tertulis, Selasa (24/9) malam.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Polisi Larang Jurnalis Liput Aksi Demo 28 Oktober, Polda Metro Minta Maaf Janji Evaluasi Total

Polisi Larang Jurnalis Liput Aksi Demo 28 Oktober, Polda Metro Minta Maaf Janji Evaluasi Total

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 12:41 WIB

Meski Gempuran AI Makin Masif, Jurnalisme Tetap Tak Tergantikan

Meski Gempuran AI Makin Masif, Jurnalisme Tetap Tak Tergantikan

News | Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:04 WIB

Laut Itu Terlalu Luas, Ketika Anak-anak Firdaus Wajidi Menatap Titik Terakhir Sang Ayah Berkarya

Laut Itu Terlalu Luas, Ketika Anak-anak Firdaus Wajidi Menatap Titik Terakhir Sang Ayah Berkarya

News | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 17:22 WIB

Alarm Kebebasan Pers Era Prabowo, Lembaga Dunia Desak Penuhi 4 Tuntutan Ini

Alarm Kebebasan Pers Era Prabowo, Lembaga Dunia Desak Penuhi 4 Tuntutan Ini

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 18:59 WIB

Mengintip Dapur Redaksi Suara.com: Saat Anak-Anak SD VIS Kelapa Gading Belajar Jadi Jurnalis Cilik!

Mengintip Dapur Redaksi Suara.com: Saat Anak-Anak SD VIS Kelapa Gading Belajar Jadi Jurnalis Cilik!

Your Say | Selasa, 13 Oktober 2026 | 16:45 WIB

Ancaman RUU Penyiaran: Larang Investigasi hingga Pangkas Kode Etik Jurnalis

Ancaman RUU Penyiaran: Larang Investigasi hingga Pangkas Kode Etik Jurnalis

Your Say | Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:20 WIB

Donald Trump Kembali Izinkan CNN, MS NOW, dan Politico Liputan di Gedung Putih

Donald Trump Kembali Izinkan CNN, MS NOW, dan Politico Liputan di Gedung Putih

News | Sabtu, 26 September 2026 | 07:36 WIB

Jenazah ABK Arupadhatu 1 Dimakamkan, 7 Korban Masih Hilang

Jenazah ABK Arupadhatu 1 Dimakamkan, 7 Korban Masih Hilang

Foto | Jum'at, 25 September 2026 | 08:00 WIB

Satu Kru Ditemukan di Enggano, Basarnas Pastikan Pencarian 5 Jurnalis Hilang Tak Berhenti

Satu Kru Ditemukan di Enggano, Basarnas Pastikan Pencarian 5 Jurnalis Hilang Tak Berhenti

News | Kamis, 24 September 2026 | 19:09 WIB

Jasad ABK Surakman Ditemukan, Keluarga Tak Kuasa Menahan Tangis di Rumah Duka

Jasad ABK Surakman Ditemukan, Keluarga Tak Kuasa Menahan Tangis di Rumah Duka

Video | Kamis, 24 September 2026 | 16:10 WIB

Terkini

Banjir Aceh Selatan Rendam Dua Desa, 674 Warga Terdampak dan Ratusan Mengungsi

Banjir Aceh Selatan Rendam Dua Desa, 674 Warga Terdampak dan Ratusan Mengungsi

News | Minggu, 01 November 2026 | 19:19 WIB

Tantangan Finansial Gen Z: Gaji Buat Hidup, Tagihan, Healing, dan Tabungan

Tantangan Finansial Gen Z: Gaji Buat Hidup, Tagihan, Healing, dan Tabungan

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 19:10 WIB

Dark Abis! XLOV Unjuk Transformasi Terliar dalam Diri di Lagu Terbaru, Hush

Dark Abis! XLOV Unjuk Transformasi Terliar dalam Diri di Lagu Terbaru, Hush

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 19:05 WIB

Hubungan Indonesia-Singapura Memanas, 60 Tahun Persahabatan Terancam Perselisihan

Hubungan Indonesia-Singapura Memanas, 60 Tahun Persahabatan Terancam Perselisihan

News | Minggu, 01 November 2026 | 19:00 WIB

Dari Tanah Papua ke Jakarta, Jejak Perlawanan di Balik Salib Merah PMKRI

Dari Tanah Papua ke Jakarta, Jejak Perlawanan di Balik Salib Merah PMKRI

News | Minggu, 01 November 2026 | 18:57 WIB

Wardah Crystal Secret Melting Milk Cleanser untuk Kulit Apa? Ini Jawaban Sesuai Klaim

Wardah Crystal Secret Melting Milk Cleanser untuk Kulit Apa? Ini Jawaban Sesuai Klaim

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 18:56 WIB

Apakah Arti Mimpi Berulang Kali dengan Orang yang Sama? Ini Tafsir Primbon dan Psikologinya

Apakah Arti Mimpi Berulang Kali dengan Orang yang Sama? Ini Tafsir Primbon dan Psikologinya

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 18:55 WIB

Gugatan Rp156 Triliun Donald Trump Terkait Isu Jeffrey Epstein Ditolak!

Gugatan Rp156 Triliun Donald Trump Terkait Isu Jeffrey Epstein Ditolak!

News | Minggu, 01 November 2026 | 18:54 WIB

Sinopsis Jumanji 3: Penutup Trilogi Era Dwayne Johnson, Tayang 25 Desember

Sinopsis Jumanji 3: Penutup Trilogi Era Dwayne Johnson, Tayang 25 Desember

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 18:53 WIB

Sabu 4 Kilogram Disimpan di Dua Kos Surabaya, Pengedar Raup Untung Rp500 Ribu per Gram

Sabu 4 Kilogram Disimpan di Dua Kos Surabaya, Pengedar Raup Untung Rp500 Ribu per Gram

Jatim | Minggu, 01 November 2026 | 18:44 WIB

×