Sempat Bikin Terawan Geram, Peneliti Harvard: Indonesia Bikin Bingung

Reza Gunadha, Chyntia Sami Bhayangkara

Senin, 13 April 2020 | 13:44 WIB
Sempat Bikin Terawan Geram, Peneliti Harvard: Indonesia Bikin Bingung
Menkes Terawan (kiri) dan Peneliti Universitas Harvard Marc Lipsitch (paling kanan). [Riauonline]

Kemudian ia menanggapi respons pemerintah Indonesia terhadap risetnya. “Menurut saya adanya kasus yang terlewat bukanlah suatu penghinaan, karena setiap negara mungkin saja mengalaminya,” ujarnya.

Baginya penelitian ini hanya sebuah red flag, sebuah kondisi di mana kita patut waspada dan tanggapi.

“Dan seperti yang sering saya katakan ke banyak orang fungsi public health adalah untuk menemukan potensi masalah dan memperingati pihak yang mungkin akan terkena dampaknya, tidak berarti potensi masalah tersebut akan selalu jadi kenyataan, tapi sudah sepatutnya kami memberi alarm,” ujarnya.

Sekali lagi, ia menjelaskan bahwa dirinya tidak bermaksud konstrukstif, ia mengatakan diinya sangat terbuka dengan sharing dan tak keberatan membantu jika dibutuhkan. “Dan ini sama sekali tidak bermaksud menyerang negara manapun.”

Hanya Indonesia yang merespons negatif soal risetnya

Lebih lanjut Profesor Marc mengatakan dirinya tidak menyangka akan ada respons seperti itu soal risetnya. Apalagi dalam pernyataan Menkes Terawan, Indonesia ‘tidak menutupi sesuatu’ soal angka positif corona di Indonesia.

“Sejak awal, saya tidak mengantisipasi respons seperti itu. Karena kami tidak bermaksud mengatakan bahwa Indonesia sedang menutupi sesuatu,” ujarnya.

Selain Indonesia ada dua negaranya yang berada di bawah 95 persen Prediction Interval (PI)-nya seperti Thailand dan Kamboja, namun mereka tidak merespons temuannya.

“Saya belum pernah mendengar respons apapun dari negara lain selain Indonesia (terkait riset saya),” ujarnya sambil tersenyum.

baca juga

Ia juga mengaku sejak awal merasa bingung terhadap pemberitaan media massa Indonesia yang ia baca.

Ia juga mempertanyakan metode yang digunakan Indonesia saat itu, yang ia pahami bahwa saat risetnya selesai, Indonesia kala itu sedang menanti alat test dari China, dari mana Indonesia bisa mendapatkan hasil nol persen kasus.

“Yang saya pahami dari media sebenarnya cukup membingungkan, bahwa test kit waktu itu belum sampai ke Indonesia hingga akhir dari periode penelitian kami. Jadi jika hal itu benar dan tes kit adalah satu-satunya alat uji di Indonesia, maka ini bukan bentuk cara menutupi melainkan kurangnya alat tes uji,” ujarnya.

Ada pula cara deteksi lain yang tidak menggunakan test kit, misalnya menggunakan metode sequencing. “Mungkin saja sebelum adanya test mereka menggunakan metode sequencing, dan saya tidak tahu harus berkomentar apa mengenai hal tersebut. Namun hal itu memungkinkan orang-orang dites sebelumnya.

“Jika benar (Indonesia saat itu memakai metode sequencing), Anda harus melakukan banyak sekali test uji dan masyarakat harus datang secara volunteer untuk diuji, karena banayak sekali langkah yang harus dilakukan sebelum Anda dapat mendeteksi,” ujarnya.

Meski ia menganggap hasil risetnya kala itu cukup akurat, namun Profesor Marc menganggap risetnya bukan yang paling akurat, mungkin saja meleset.

Ia juga mengatakan mungkin saja benar yang disebut Pemerintah Indonesia bahwa kasusnya waktu itu nol persen.

“Semua hal mungkin saja terjadi. Asumsi kami adalah bahwa 95 persen PI (Prediction Interval), sehingga kemungkinannya kecil kalau nol persen. Namun lagi-lagi penelitian ini tidak sempurna dan prediksinya tidak 100 persen akurat. Bisa saja nol persen tapi itu akan sangat ganjil. Karena di negara yang sudah menemukan banyak kasus saja mungkin melewatkan beberapa kasus (tidak terdeteksi) jadi Indonesia mungkin saja memiliki lebih dari 5. Karena angka 5 didasarkan pada model penelitian yang mungkin tidak sempurna.”

Ia juga menjelaskan kalau penelitiannya ini hanya terfokus pada imported case semata, jadi tak boleh diabaikan yang tertular lewat penularan lokal juga mungkin terjadi.

“Yang saya prediksi 5 kasus di Indonesia itu berdasarkan hitungan turis yang masuk. Karena mungkin saja bisa jadi ada kasus sekunder seperti di Singapura contohnya yang mendeteksi bahwa terdapat beberapa kasus dari turis, namun juga beberapa dari transmisi sekunder misalnya dari warga lokal. Jadi bukanlah hal yang mudah.”

Soal riset Harvard: membuat acuan deteksi bagi negara yang berpotensi corona

Professor Marc mengatakan temuannya didasari karena saat itu dunia sangat terfokus pada exported cases (kasus penularan yang terjadi akibat pergerakan pendatang ke suatu negara). Karena diyakini data dari China tidak menggambarkan jaminan seluruh kasus yang sebenarnya tersebar di dunia, maka ia berusaha membantu.

“Jadi kami berharap pada semua negara untuk mendeteksi kasus secara efektif. Dan selanjutnya menyimpulkan apa yang terjdi di China,” ujarnya.

Tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk melihat apakah kasus yang sudah terdeteksi benar-benar merepresentasikan jumlah kasus yang sebenarnya.

“Untuk itu kami mnghitung hubungan statistik antara jumlah pengunjung ke sebuah negara dan jumlah kasus yang terdeteksi, sehingga didapatkan data-data secara internasional.”

Yakni adanya sekitar 14 pengunjung per hari, diasosiasikan dengan munculnya 1 kasus terdeteksi yang kami pantau selama penelitian kami. Dengan standart itu, Indonesia diduga memiliki 5 kasus, padahal nyatanya saat itu pemerintah indonesia menyatakan belum memiliki kasus.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Alasan Menkes Terawan Tolak PSBB Corona di Palangka Raya

Alasan Menkes Terawan Tolak PSBB Corona di Palangka Raya

News | Senin, 13 April 2020 | 13:20 WIB

Soal Gaji, Stefano Cugurra Teco Ikut Keputusan Manajemen Bali United

Soal Gaji, Stefano Cugurra Teco Ikut Keputusan Manajemen Bali United

Bola | Senin, 13 April 2020 | 13:15 WIB

Ikut Pelatihan Haji, Tim Medis di Jombang Positif Corona

Ikut Pelatihan Haji, Tim Medis di Jombang Positif Corona

Jatim | Senin, 13 April 2020 | 13:15 WIB

Kemenag Pastikan Tak Bisa Bantu Lawan Corona Pakai Dana Jemaah Haji

Kemenag Pastikan Tak Bisa Bantu Lawan Corona Pakai Dana Jemaah Haji

News | Senin, 13 April 2020 | 13:09 WIB

Turun Kasih Sembako, Jokowi: Jangan Sampai Dibilang Rakyat Cuma Ngomong Aja

Turun Kasih Sembako, Jokowi: Jangan Sampai Dibilang Rakyat Cuma Ngomong Aja

News | Senin, 13 April 2020 | 13:03 WIB

Pengguna KRL di Bogor Membludak Sejak Subuh, Petugas Curhat Kewalahan

Pengguna KRL di Bogor Membludak Sejak Subuh, Petugas Curhat Kewalahan

Jabar | Senin, 13 April 2020 | 12:50 WIB

CDC Sebut Virus Corona Bisa Menyebar di Udara Hingga Jarak 4 Meter

CDC Sebut Virus Corona Bisa Menyebar di Udara Hingga Jarak 4 Meter

Health | Senin, 13 April 2020 | 12:49 WIB

Panen Pujian, Kades Wonosobo Hibahkan Lahan untuk Pemakaman Pasien Corona

Panen Pujian, Kades Wonosobo Hibahkan Lahan untuk Pemakaman Pasien Corona

Jawa Tengah | Senin, 13 April 2020 | 12:53 WIB

Terkini

Ada Bukti CCTV! Korban Pencurian di Jakpus Protes Kasus Malah Dihentikan Polisi

Ada Bukti CCTV! Korban Pencurian di Jakpus Protes Kasus Malah Dihentikan Polisi

News | Senin, 29 Juni 2026 | 09:21 WIB

Gugat Polisi dan Jaksa di Kasus Ijazah Jokowi! Roy Suryo Jalani Sidang Praperadilan Hari Ini

Gugat Polisi dan Jaksa di Kasus Ijazah Jokowi! Roy Suryo Jalani Sidang Praperadilan Hari Ini

News | Senin, 29 Juni 2026 | 09:02 WIB

Media Iran Terang-terangan Sebut Teheran Tak Punya Pilihan Perlu Bangun Senjata Nuklir

Media Iran Terang-terangan Sebut Teheran Tak Punya Pilihan Perlu Bangun Senjata Nuklir

News | Senin, 29 Juni 2026 | 08:38 WIB

Gambir Siaga! 1.045 Polisi Kawal Demo Mahasiswa Paniai dan Front Anti Militerisme

Gambir Siaga! 1.045 Polisi Kawal Demo Mahasiswa Paniai dan Front Anti Militerisme

News | Senin, 29 Juni 2026 | 08:36 WIB

Iran Serukan Negara Tetangga Blokir Pesawat Tempur Asing Demi Kedamaian di Timur Tengah

Iran Serukan Negara Tetangga Blokir Pesawat Tempur Asing Demi Kedamaian di Timur Tengah

News | Senin, 29 Juni 2026 | 08:21 WIB

Evakuasi Berjam-jam Pakai Alat Berat, Balita di Tebet Tewas Terperosok Lubang Proyek 4 Meter

Evakuasi Berjam-jam Pakai Alat Berat, Balita di Tebet Tewas Terperosok Lubang Proyek 4 Meter

News | Senin, 29 Juni 2026 | 08:09 WIB

Amerika: Perdamaian AS - Iran Tidak Batal, Meski Ada Baku Tembak

Amerika: Perdamaian AS - Iran Tidak Batal, Meski Ada Baku Tembak

News | Senin, 29 Juni 2026 | 07:45 WIB

Hari Ini! MK Putuskan Nasib UU Polri hingga Gugatan Peradilan Militer

Hari Ini! MK Putuskan Nasib UU Polri hingga Gugatan Peradilan Militer

News | Senin, 29 Juni 2026 | 07:39 WIB

Harga Minyak Dunia Melonjak Usai Perdamaian Iran - AS Terancam Batal Total

Harga Minyak Dunia Melonjak Usai Perdamaian Iran - AS Terancam Batal Total

News | Senin, 29 Juni 2026 | 07:30 WIB

Anak Buah Donald Trump: Iran dan AS Akan Hentikan Serangan Sementara Waktu

Anak Buah Donald Trump: Iran dan AS Akan Hentikan Serangan Sementara Waktu

News | Senin, 29 Juni 2026 | 07:20 WIB

×