Array

PBB: Harga Obat-obatan Terlarang Melonjak karena Pandemi Virus Corona

Syaiful Rachman Suara.Com
Kamis, 07 Mei 2020 | 14:33 WIB
PBB: Harga Obat-obatan Terlarang Melonjak karena Pandemi Virus Corona
Ilustrasi Kokain. [Shutterstock]

Suara.com - Kontrol perbatasan, karantina wilayah, dan pembatasan penerbangan terkait COVID-19 membuat obat-obatan ilegal menjadi lebih mahal dan sulit diperoleh di seluruh dunia. Hal itu dilaporkan UNODC, badan PBB untuk Narkoba dan Kejahatan dalam laporan yang diterbitkan pada Kamis (6/5/2020).

UNODC, dalam laporan COVID-19, menilai pandemi memiliki efek signifikan terhadap produksi obat di berbagai daerah dan penyelundupan melalui udara, darat dan laut, tetapi tren keseluruhan di negara-negara tempat obat dikonsumsi tampaknya relatif seragam.

"Banyak negara di semua wilayah telah melaporkan kekurangan berbagai jenis obat di tingkat ritel, serta kenaikan harga, penurunan kemurnian dan bahwa pengguna narkoba telah beralih dalam menggunakan zat (misalnya, dari heroin ke opioid sintetis) dan/atau semakin mengakses perawatan dengan obat," kata laporan itu.

"Sementara berbagai jenis opioid, seperti heroin, hampir seluruhnya diangkut melalui darat, yang mengalami peningkatan pemeriksaan hingga dapat mengganggu pengiriman, kokaina terutama dikirim melalui laut. Peningkatan baru-baru ini dalam penyitaan heroin di Samudera Hindia mungkin mengindikasikan ada peningkatan pengiriman heroin ke Eropa melalui laut," kata UNODC.

Seorang petugas dari Garda Nasional Venezuela menunjukkan uji kemurnian kokaina di Puerto Ordaz, Bolivar, Venezuela. (REUTERS/Edwin Montilva)
Seorang petugas dari Garda Nasional Venezuela menunjukkan uji kemurnian kokaina di Puerto Ordaz, Bolivar, Venezuela. (REUTERS/Edwin Montilva)

Kurangnya penerbangan saat ini mungkin akan memiliki efek "sangat drastis" pada penyelundupan obat-obatan sintetis, termasuk metamfetamin, ke negara-negara seperti Korea Selatan, Jepang dan Australia.

Di Afghanistan, produsen heroin terbesar di dunia, panen opium antara bulan Maret dan Juni mungkin terganggu jika pekerja tidak dapat atau tidak mau keluar rumah.

"Kekurangan opium telah diamati di provinsi barat dan selatan negara itu, terutama karena penutupan perbatasan yang melintasi Pakistan," katanya seperti dikutip Antara dari Reuters.

"Namun, para wanita semakin terlibat dalam menanam opium, demikian pula dengan orang-orang yang kehilangan pekerjaan karena krisis COVID-19."

Di negara-negara Andean, tempat tanaman koka --asal kokaina dikembangkan, menunjukkan situasi beragam.

Baca Juga: Tewas Dibunuh saat 20 Tahun, Anjani Bee Ternyata Janda Pernah 2 Kali Kawin

"Produksi kokaina tampaknya terhambat, karena produsen, terutama di Kolombia timur, kekurangan bensin, yang sebelumnya diselundupkan dari Venezuela dan sangat penting dalam produksi kokaina."

Di Bolivia, tantangan baru-baru ini terkait dengan penyebaran COVID-19, dikombinasikan dengan kekacauan politik pada akhir 2019, yang membatasi kemampuan otoritas negara untuk mengendalikan penanaman koka.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI