Cara Partai Komunis Pimpin Rakyat Kerala India Menang Lawan Virus Corona

Reza Gunadha

Sabtu, 30 Mei 2020 | 09:35 WIB
Cara Partai Komunis Pimpin Rakyat Kerala India Menang Lawan Virus Corona
[BBC]

Suara.com - Ketika Kerala, di barat daya India, mencatat kasus Covid-19 untuk pertama kalinya, tampaknya negara bagian terpadat kedua di India itu akan kewalahan.

Kerala merupakan negara bagian pengirim pekerja migran, dan ekonominya bergantung pada kiriman uang pekerja mereka – khususnya yang bekerja di negara-negara Teluk.

Di sana juga ada ratusan pelajar dari China serta menerima lebih dari satu juta wisatawan asing setiap tahun.

Pada tanggal 27 Januari, kasus positif Covid-19 pertama kali ditemukan di Kerala, diduga berasal dari penerbangan dari Wuhan. Sesudah itu infeksi mulai menyebar dan negara bagian ini menjadi pusat infeksi.

Empat bulan kemudian, ketika infeksi meningkat di India, negara bagian dengan 35 juta penduduk ini berhasil meratakan kurva penularan.

Menurut Kementerian Kesehatan Kerala, secara keseluruhan terdapat 524 kasus positif Covid-19 dan empat kematian.

Antisipasi

Sebagian besar keberhasilan ini disebabkan oleh kewaspadaan dan perhatian besar yang diberikan oleh pemerintah negara bagian.

Pada tanggal 25 Maret, Kerala menerapkan karantina penduduk, sebelum pemerintah pusat menetapkan kebijakan ini.

baca juga

Mereka melakukan strategi pelacakan kontak yang tekun, merinci “peta jalan” orang-orang yang datang dari luar negeri.

Mereka juga membuat pusat informasi Covid-19 di seluruh distrik untuk mengakomodasi orang asing yang terperangkap di sana.

Tenaga kesehatan menyediakan pertolongan kepada orang tua yang hidup sendirian, terutama yang berkebutuhan khusus.

Psikolog melakukan ratusan ribu kali panggilan telepon untuk membantu masalah psikologis staf yang bekerja di wilayah infeksi, agar mereka bisa mengelola stres.

Ini tidak berarti Kerala melakukan banyak tes, kata Soutik Biswas, wartawan BBC di India.

Mereka melakukan tes sesuai dengan protokol yang ditetapkan oleh pemerintah federal. Ada belasan laboratrium yang melakukan 800 tes setiap harinya.

Namun yang membuat perbedaan, menurut para ahli, adalah sistem kesehatan yang tangguh di Kerala.

Ditambah lagi budaya demokrasi yang tumbuh di tingkat akar rumput yang memungkinkan pendelegasian wewenang kepada dewan-dewan komunal.

Dewan-dewan ini dipilih langsung oleh rakyat dan mewakili struktur pemerintahan tingkat terendah di India.

“Kami mempersiapkannya sejak sangat awal. Kami sadar akan datang badai, maka kami membangun pertahanan,” kata Shahina Saleem, ketua dewan komunal Chengala, satu desa pertanian dengan 66.000 penduduk.

Contoh Chengala terlihat di seluruh negara bagian.

Dewan melakukan penyebaran informasi ke komunitas, melacak kontak orang terinfeksi, serta menerapkan karantina penduduk secara massal.

Pemerintah Kerala setiap hari menyampaikan informasi mengenai perkembangan situasi.

Cepat tanggap

Di puncak sistem ini adalah KK Shailaja, seorang perempuan yang menjabat sebagai Menteri Kesehatan Kerala. Ia juga anggota Partai Komunis India.

Tiga hari sesudah mendengar tentang virus ini di China, Shailaja rapat dan membentuk tim cepat tanggap.

Mereka mendirikan kantor pengendalian, di ibu kota negara bagian dan juga di 14 distrik di sana.

Ketika kasus pertama dideteksi mereka sudah menerapkan protokol yang disarankan WHO untuk mengetes, melacak, mengisolasi dan mendukung (testing, tracing, isolation dan support).

Penumpang yang tiba dari China dicek suhu tubuhnya dan mereka yang demam diisolasi di rumah sakit terdekat. Penumpang lain dikarantina.

Tim pengawas melacak penyebaran virus untuk melihat kemungkinan orang terinfeksi dan kontak yang mereka lakukan.

Ini dikerjakan dengan bantuan iklan dan melalui media sosial.

Bagaimana mutasi memberi petunjuk tentang penyebaran dan asal-usul virus corona di Indonesia Apakah cuaca panas dapat memusnahkan Covid-19? Jumlah tes Covid-19 tak konsisten, peneliti: 'Puncak pandemi Covid-19 di Indonesia sulit diprediksi'

Penyebaran penyakit ini bisa dikendalikan sampai seluruh penerbangan ke India dibatalkan ketika pemerintah federal menetapkan karantina nasional.

Pada puncak penyebaran di Kerala, 170.000 orang dikarantina di bawah pengawasan ketat dan mendapat kunjungan rutin dari tenaga kesehatan.

Mereka yang tak punya kamar mandi di rumahya, ditampung di unit isolasi darurat dan ditanggung oleh pemerintah.

Dengan ini angka karantina bisa ditekan hingga 21.000 orang.

Pemerintah Kerala juga mengakomodasi dan memberi makan 150.000 buruh migran dari negara bagian tetangga yang terperangkap di Kerala, kata KK Shailaja kepada koran Inggris The Guardian.

Para buruh ini kini dipulangkan ke daerah mereka masing-masing dengan kereta yang disewa oleh pemerintah.

Investasi dalam bidang kesehatan dan pendidikan

Tanggapan pemerintah yang cepat ini mengikut pada model ekonomi dan politik negara bagian Kerala yang sudah dibangun lebih dari setengah abad.

Sejak 1960-an Kerala dipimpin oleh partai sayap kiri, termasuk Partai Komunis yang kini berkuasa. Sejak akhir 1950-an, partai ini bertekad menghormati dan berpartisipasi dalam pemilu.

Model tersebut didasarkan pada reformasi agraria yang dilakukan lewat undang-undang untuk meningkatkan kepemilikan tanah bagi petani.

Selain itu mereka melakukan desentralisasi sistem kesehatan, serta investasi di pendidikan publik.

Setiap desa memiliki satu pusat layanan kesehatan, dan ada rumah sakit di setiap tingkat administrasi serta 10 rumah sakit universitas.

Kerala memiliki tingkat harapan hidup tertinggi dan kematian bayi terendah di antara seluruh negara bagian lain di India, sekalipun ia merupakan salah satu negara bagian termiskin.

Sistem kesehatan yang beroperasi tiga tingkat di bawah rumah sakit pemerintah, merupakan hasil investasi sistem kesehatan yang sudah berlangsung lebih dari setengah abad.

“Kerala berinvestasi di kesehatan dan pendidikan lebih daripada negara bagian yang lain,” kata ahli ekonomi Dr Jakob John kepada BBC.

Kerala juga merupakan negara bagian dengan tingkat melek huruf tertinggi (sekitar 95%).

Kepada The Guardian, Shailaja mengatakan tingkat melek huruf itu membuat warga mengerti mengapa mereka harus menjalankan karantina.

"Kami bisa menjelaskannya kepada mereka."

"Dewan komunal bertanggung jawab untuk mengawasi dan menegakkan karantina massal, melalui persetujuan warga," kata Ekbal, seorang ahli saraf dan anggota panel penanganan virus yang dibentuk pemerintah India.

Lebih jauh, Dr John yakin pendelegasian wewenang di Kerala dari pemerintah ke pemerintah kota lalu ke dewan komunal juga berhasil membuat negara bagian ini mengatasi bencana banjir dan wabah virus nipah yang menyerang dalam tiga tahun terakhir.

Persiapan

Tahun 2018, Kerala diserang oleh infeksi virus nipah yang sangat mudah menular. Virus ini menyebabkan masalah pernapasan akut serta ensepalitis yang mematikan.

Menurut Shailja, epidemi nipah ini menyiapkan mereka menghadapi Covid-19 karena ia sadar bahwa untuk menghadapi wabah tanpa obat dan tanpa vaksin hanya bisa dengan bertindak serius dan persiapan yang memadai.

Sekalipun Kerala berhasil mengendalikan wabah virus corona, mereka belum bisa mendeklarasikan kemenangan karena 70% populasi di luar mereka masih bermasalah.

Kerala merupakan negara bagian dengan penyakit menular terbanyak di India.

Selain itu kedatangan musim penghujan bulan Juni kerap diikuti oleh penyakit-penyakit seperti influenza, demam berdarah dan sejenis tifus.

Gejala pada penyakit-penyakit tersebut adalah demam, dan ini bisa mempersuilt diagnosa Covid-19, demikian dokter sudah memperingatkan.

Pelonggaran bertahap juga akan diikuti oleh aliran masuk pekerja migran dari luar negeri dan negara bagian lain.

Ini akan berdampak pada peningkatan pengawasan yang berarti lebih banyak ongkos yang harus ditanggung pemerintah.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Pelaku Pedofil Mengintai Anak-anak di Tengah Lockdown Corona

Pelaku Pedofil Mengintai Anak-anak di Tengah Lockdown Corona

News | Jum'at, 29 Mei 2020 | 14:29 WIB

Demi Nafkah, Buruh Meksiko Berjejal di Terowongan Menuju AS, Abaikan Corona

Demi Nafkah, Buruh Meksiko Berjejal di Terowongan Menuju AS, Abaikan Corona

News | Jum'at, 29 Mei 2020 | 12:53 WIB

Satu Siswa Positif Corona, Sekolah Ini Kembali Ditutup, Rekannya Diisolasi

Satu Siswa Positif Corona, Sekolah Ini Kembali Ditutup, Rekannya Diisolasi

News | Jum'at, 29 Mei 2020 | 11:32 WIB

Dr. Fauci: Virus Corona Takkan Hilang dalam Waktu Dekat

Dr. Fauci: Virus Corona Takkan Hilang dalam Waktu Dekat

News | Kamis, 28 Mei 2020 | 13:04 WIB

Media Asing Sebut Bali Bagaikan Kota Hantu Akibat Pandemi Covid-19

Media Asing Sebut Bali Bagaikan Kota Hantu Akibat Pandemi Covid-19

News | Kamis, 28 Mei 2020 | 10:26 WIB

Berpotensi Sebarkan Corona, Aktivitas Bernyanyi Dilarang di Jerman

Berpotensi Sebarkan Corona, Aktivitas Bernyanyi Dilarang di Jerman

News | Rabu, 27 Mei 2020 | 18:42 WIB

WHO: Dunia Masih di Tengah Gelombang Pertama Wabah Virus Corona!

WHO: Dunia Masih di Tengah Gelombang Pertama Wabah Virus Corona!

Health | Rabu, 27 Mei 2020 | 19:30 WIB

Studi: Virus Corona Mudah Menyebar di Transportasi Umum

Studi: Virus Corona Mudah Menyebar di Transportasi Umum

News | Rabu, 27 Mei 2020 | 14:42 WIB

Terkini

Bagaimana Cara Menghitung Hari Baik Pindah Rumah Berdasarkan Weton?

Bagaimana Cara Menghitung Hari Baik Pindah Rumah Berdasarkan Weton?

Lifestyle | Minggu, 27 September 2026 | 07:09 WIB

Trailer Baru The Apothecary Diaries Season 3 Ungkap Lagu Penutup oleh Eve

Trailer Baru The Apothecary Diaries Season 3 Ungkap Lagu Penutup oleh Eve

Your Say | Minggu, 27 September 2026 | 07:05 WIB

Jelang Duel Panas di GBK, Striker Naturalisasi Malaysia Sesumbar Permalukan Timnas Indonesia!

Jelang Duel Panas di GBK, Striker Naturalisasi Malaysia Sesumbar Permalukan Timnas Indonesia!

Your Say | Minggu, 27 September 2026 | 07:05 WIB

4 Moisturizer Peptide Dukung Produksi Kolagen untuk Jaga Kekencangan Kulit

4 Moisturizer Peptide Dukung Produksi Kolagen untuk Jaga Kekencangan Kulit

Your Say | Minggu, 27 September 2026 | 06:45 WIB

Meritokrasi Sudah Mati, Kenali Fenomena 'Neo-Feodalisme' di Kantormu!

Meritokrasi Sudah Mati, Kenali Fenomena 'Neo-Feodalisme' di Kantormu!

Your Say | Minggu, 27 September 2026 | 05:58 WIB

Menolak Mati di Usia 30: Kebangkitan 'Case 15', Cetak Biru Punk Rock Superman Is Dead

Menolak Mati di Usia 30: Kebangkitan 'Case 15', Cetak Biru Punk Rock Superman Is Dead

Entertainment | Minggu, 27 September 2026 | 00:01 WIB

TPA Cikundul Sukabumi Terbakar, Api Merambat Hingga Dasar Gunungan Sampah

TPA Cikundul Sukabumi Terbakar, Api Merambat Hingga Dasar Gunungan Sampah

News | Sabtu, 26 September 2026 | 23:28 WIB

Tim Gabungan Buka Pintu Satu per Satu Usut Dugaan Pelanggaran di Lapas Cibinong

Tim Gabungan Buka Pintu Satu per Satu Usut Dugaan Pelanggaran di Lapas Cibinong

Jabar | Sabtu, 26 September 2026 | 23:20 WIB

Klarifikasi Pengelola TPST Abu & Co di Tangsel, Mengaku Belum Mengantongi Izin dan Dokumen IPAL

Klarifikasi Pengelola TPST Abu & Co di Tangsel, Mengaku Belum Mengantongi Izin dan Dokumen IPAL

Banten | Sabtu, 26 September 2026 | 22:44 WIB

Kejar PAD Rp520 Juta dari Sektor Parkir 2026, Dishub Kota Tangsel Imbau Pengelola Taat Regulasi

Kejar PAD Rp520 Juta dari Sektor Parkir 2026, Dishub Kota Tangsel Imbau Pengelola Taat Regulasi

Banten | Sabtu, 26 September 2026 | 22:34 WIB

×