Perjalanan mereka bebas karbon. Grey yakin ini penting untuk diperlihatkan bahwa perjalanan tanpa mesin bisa dilakukan.
Pasangan ini menjual tempat tinggal mereka di Seattle, Amerika Serikat, dan membeli perahu. Nova awalnya ingin membangun kapal Pinisi – kapal model Bugis – tapi membutuhkan banyak sekali kayu tropis.
Maka mereka akhirnya membuat sekunar layar bertiang ganda berlunaskan baja.
“Layar ganda ini mirip Pinisi, mirip dengan cita-cita kami,” kata Nova yang ibunya berasal dari suku Bugis, Indonesia.
“Sebagai keturunan Bugis, saya sedih saya harus belajar melaut dan sangat sedikit generasi saya yang mengerti soal ini,” katanya.
Ia juga termotivasi oleh fakta bahwa perempuan Bugis biasanya dilarang melaut.
“Maka ini jadi misi saya pribadi untuk bisa melaut,” katanya.
Berharap bisa berlabuh di Indonesia
Sedangkan bagi Sarah, ekspedisi ini merupakan perjalanan ini sempurna karena ia seorang pelaut dan juru lampu, selain juga “sangat mencintai Bumi dan butuh melindunginya".
Awak asal Inggris lainnya, Claire Fauset, bergabung dengan ekspedisi ini sesudah terpikat pada “rencana gila dan perahu yang cantik serta tim penyintas kiamat zombie” ini.
Grey dan Nova meminjam uang sekitar £250,000 (sekitar Rp4,5 miliar), maka ekspedisi ini harus mendatangkan uang, melalui pertunjukan atau memungut bayaran dari penumpang.
Sesudah membangun sekunar di Rotterdam, Belanda, serta tampil di atas kapal di Eropa, Kepulauan Kanari, Panama dan Meksiko, mereka sedang berada di tengah-tengah Pasifik ketika wabah virus corona melanda seluruh dunia.
Grey dan seorang awak lagi, keduanya warga negara AS, bisa saja tinggal di Hawaii.
Yang lainnya – asal Inggris, Spanyol dan Portugal – dapat visa satu bulan.
Mereka bisa mengisi ulang perahu dengan makanan. Nova terbang dari Meksiko untuk menyiapkan kedatangan perahu di Indonesia.