Ingin Bertahan Hidup, Itulah Alasan Pengungsi Ada di Indonesia

BBC

BBC

Senin, 22 Juni 2020 | 15:00 WIB
Ingin Bertahan Hidup, Itulah Alasan Pengungsi Ada di Indonesia
[BBC].

Dari Kalideres, Abdul bersama keluarganya pindah ke pinggir Jalan Kebon Sirih, di depan kantor UNHCR. Mereka sempat ditempatkan di pos pengungsian Kalideres dan Bogor.

Saat ini mereka menyewa dua kamar di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, berbekal uang jatah bulanan dari UNHCR yang disebutnya sebesar Rp1,6 juta.

"Setiap orang punya tanah air, kita tidak bisa memilihnya. Tapi saat terjadi perang, kamu pasti tetap ingin bertahan hidup. Itulah kenapa saya berada di Indonesia," ujarnya.

"Rumah adalah tempat di mana saya dan keluarga bisa merasa aman. Tapi sekarang saya tak bisa memilih di mana rumah bagi keluarga saya itu."

"Saya berharap bisa jadi pengungsi beruntung yang dapat kesempatan itu. Mendapat rumah berupa negara baru, di mana keluarga saya bisa bekerja, mendapat fasilitas kesehatan, dan peluang mengejar cita-cita, sama seperti orang-orang pada umumnya," tutur Abdul.

Abdul masih menanti UNHCR memberinya tempat tinggal permanen di negara yang mengikatkan diri dengan konvensi internasional tentang pengungsi tahun 1951. Namun tak ada kepastian kapan dia bisa mendapat peluang itu.

Karena tidak meratifikasi konvensi itu, Indonesia tidak memberikan hak apapun kepada pengungsi, dari hak untuk bekerja, mempunyai rumah, hingga mengikuti pendidikan.

Setiap tahun UNHCR menempatkan pengungsi ke negara ketiga. Pada 2019, terdapat 760 pengungsi di Indonesia yang mereka tempatkan ke Kanada, Selandia Baru, Australia, dan AS.

Adapun pada selama lima bulan pertama 2020, ada 404 pengungsi di Indonesia yang sudah masuk program pemukiman kembali itu.

baca juga

'Saya putus harapan'

Bagaimanapun, tidak semua pengungsi di Indonesia mampu menjaga asa masa depan. Zakir Husein, pengungsi asal Pakistan berdarah Afghanistan, mengaku sangat terpuruk hidup tanpa kejelasan di Indonesia.

"Saya jauh dari hak untuk bekerja, pendidikan, dan mendapatkan tempat tinggal. Apa yang harus saya lakukan? Dari mana saya bisa mendapatkan uang untuk hidup secara normal? Ini lebih dari konflik," ujarnya.

"Saya juga tidak bisa kembali ke Pakistan. Jika saya hanya memikirkan diri sendiri, saya akan pulang dan tak risau apakah saya akan hidup atau terbunuh."

"Tapi saya punya keluarga. Jadi saya hanya bisa tinggal di pengungsian ini. Saya tidak memiliki harapan," kata Zakir.

Zakir, yang kini tinggal sementara di pos pengungsian Kalideres, datang ke Indonesia tahun 2017. Ia mengungsi bersama ayah, ibu, istri, serta keluarga abangnya.

Sempat hidup di Jakarta dengan biaya pribadi selama dua tahun pertama, keluarganya kini bergantung pada donasi makanan.

"Saat tiba di Indonesia tahun 2017, keluarga kami memiliki tabungan sehingga kami bisa hidup secara independen. Tapi walaupun Anda memiliki bank, jika Anda tidak memiliki pendapatan, uang Anda akan habis," ucapnya.

"Sekarang uang kami sudah habis. Kami terpaksa tinggal di sini," ujar Zakir.

'Pengungsi muda rentan terbaikan'

Trauma soal keselamatan jiwa dan keputusan meninggalkan tanah air menghantui sebagian besar pengungsi, menurut Realisa Masardi, dosen antropologi di Universitas Gadjah Mada.

Realisa, yang selama 10 tahun terakhir meriset isu pengungsi, menyebut kondisi psikologi para pelarian itu juga mudah terdampak minimnya hak dasar yang mereka dapatkan di Indonesia.

Para pengungsi muda, kata Realisa, adalah kelompok yang paling rentan karena tidak masuk daftar prioritas UNHCR dalam program penempatan ke negara ketiga.

"Jika melihat kriteria pengungsi yang diprioritaskan mendapat penempatan permanen, mereka seperti ditinggalkan. Penempatan ke negara ketiga lebih ditujukan untuk kelompok rentan."

"Namun banyak di antara mereka yang mampu keluar dari persoalan psikologi itu," ujar Realisa.

Walau begitu, Realisa menilai secara umum situasi itu tak serta-merta membuat para pengungsi muda di Indonesia kehilangan logika berpikir.

"Saya tidak melihat ada semacam kompetisi di antara pengungsi untuk mendapat kesempatan dari UNHCR. Pengungsi muda dan yang lajang harus menunggu peluang lebih lama, tapi kebanyakan dari mereka menjalin hubungan baik dengan sesama pengungsi," ucapnya.

"Ini adalah bukti mereka masih menjaga rasa kemanusiaan," ujar Realisa menjawab pertanyaan BBC Indonesia dalam seminar daring yang digagas lembaga advokasi pengungsi, Suaka, 19 Juni lalu.

Merujuk keterangan UNHCR, pengungsi yang dianggap perlu mengikuti program penempatan ke negara ketiga adalah mereka yang mengalami kerentanan di negara transit dan tak bisa kembali ke negara asal.

Di seluruh dunia, selama periode Januari hingga April 2020, kategori pengungsi yang mendapat prioritas UNHCR adalah 'yang membutuhkan perlindungan fisik dan hukum' (34 persen).

Kategori lainnya, antara lain korban kekerasan atau penyiksaan (31 persen) dan perempuan dalam kondisi rentan (20 persen).

UNHCR melalui situs mereka menyatakan, penempatan ke negara ketiga "bukan hak yang otomatis didapatkan semua orang berstatus pengungsi".

Dalam dokumen yang sama, UNHCR menyebut peluang pengungsi untuk ditempatkan secara permanen di negara ketiga juga tidak berkaitan dengan berapa lama mereka telah tinggal di negara transit seperti Indonesia.

"Kami mohon untuk tidak berulang kali menulis permintaan kepada kami untuk mendapat peluang pemukiman kembali di negara ketiga. Identifikasi didasarkan pada penilaian kasus per kasus, bukan permintaan yang kami terima dari pengungsi," tulis dokumen itu.

"Negara ketiga hanya menyediakan tempat terbatas setiap tahun, kurang dari 1% total pengungsi di seluruh dunia. Karena Indonesia menampung jumlah pengungsi yang cukup sedikit ketimbang negara lain, peluang penempatan kembali lebih sedikit dari yang diharapkan banyak orang."

UNHCR bahkan menyebut para pengungsi di Indonesia juga harus siap menerima kenyataan jika mereka tidak akan pernah meninggalkan Indonesia untuk ditempatkan ke negara ketiga.

"Anda mesti mempertimbangkan semua opsi yang ada, termasuk kembali ke negara asal, jika Anda bisa melakukannya secara aman."

Bagaimanapun, kata Perwakilan UNHCR di Indonesia, Ann Maymann, pihaknya akan terus berupaya mengatasi persoalan pengungsi, terutama saat pandemi Covid-19.

"Di banyak negara yang menampung pengungsi, pandemi menunjukkan krisis berlapis. Ini tugas berat bagi negara yang juga bertanggung jawab mengurusi warganya," kata Maymann dalam pidato Hari Pengungsi Sedunia, 20 Juni lalu.

"Tantangan yang ada sangat besar. Kami sangat menghargai dukungan dan solidaritas yang ditunjukkan pemerintah Indonesia selama periode yang sulit ini."

"Kami terus bekerja sama secara erat dengan otoritas untuk memastikan pengungsi mendapatkan akses penuh terhadap fasilitas kesehatan," tuturnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Pakai Cara Mirip di Indonesia, Malaysia Diguncang Ujaran Kebencian kepada Etnis Rohingya

Pakai Cara Mirip di Indonesia, Malaysia Diguncang Ujaran Kebencian kepada Etnis Rohingya

News | Selasa, 08 September 2026 | 14:14 WIB

Anak Pengungsi Gempa NTT Jadi Korban Kekerasan Seksual di Tenda Pengungsian

Anak Pengungsi Gempa NTT Jadi Korban Kekerasan Seksual di Tenda Pengungsian

News | Rabu, 02 September 2026 | 14:10 WIB

Kebakaran Hebat Landa Kampung Nelayan di Jayapura, Ratusan Rumah Hangus

Kebakaran Hebat Landa Kampung Nelayan di Jayapura, Ratusan Rumah Hangus

Foto | Selasa, 01 September 2026 | 19:54 WIB

Makan Aman! Balita dan Lansia Korban Kebakaran Gambir Butuh Obat serta Selimut

Makan Aman! Balita dan Lansia Korban Kebakaran Gambir Butuh Obat serta Selimut

News | Selasa, 01 September 2026 | 15:07 WIB

Pengungsi Gempa NTT Menyusut 4.142 Orang, Ribuan Rumah Masih Rusak Berat

Pengungsi Gempa NTT Menyusut 4.142 Orang, Ribuan Rumah Masih Rusak Berat

News | Minggu, 30 Agustus 2026 | 18:58 WIB

Jeritan Ibu Pecah di Tengah Kebakaran, 14 Bayi di ICU Rumah Sakit Pakistan Tewas

Jeritan Ibu Pecah di Tengah Kebakaran, 14 Bayi di ICU Rumah Sakit Pakistan Tewas

News | Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:23 WIB

14 Bayi Tewas Terpanggang di Kebakaran Rumah Sakit Islamabad

14 Bayi Tewas Terpanggang di Kebakaran Rumah Sakit Islamabad

News | Rabu, 26 Agustus 2026 | 14:27 WIB

Anak-anak Pemikul Air di Gaza, Tinggalkan Sekolah Hingga Alami Kerusakan Tulang Belakang

Anak-anak Pemikul Air di Gaza, Tinggalkan Sekolah Hingga Alami Kerusakan Tulang Belakang

News | Selasa, 25 Agustus 2026 | 15:21 WIB

Lebih dari Sepekan Pascagempa Flores, Anak-Anak Hadapi Ancaman Berlapis

Lebih dari Sepekan Pascagempa Flores, Anak-Anak Hadapi Ancaman Berlapis

News | Selasa, 25 Agustus 2026 | 15:06 WIB

Panglima Pakistan Temui Iran Bahas Selat Hormuz, Apa Isi Pembicaraan Mereka?

Panglima Pakistan Temui Iran Bahas Selat Hormuz, Apa Isi Pembicaraan Mereka?

News | Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:18 WIB

Terkini

Awal Mula Betrand Peto Dilaporkan atas Dugaan Kekerasan Seksual, Ini Kata Ruben Onsu

Awal Mula Betrand Peto Dilaporkan atas Dugaan Kekerasan Seksual, Ini Kata Ruben Onsu

Entertainment | Minggu, 13 September 2026 | 10:43 WIB

Begini Aturan Ganjil-Genap Pengisian BBM Subsidi di Sulawesi Selatan

Begini Aturan Ganjil-Genap Pengisian BBM Subsidi di Sulawesi Selatan

Sulsel | Minggu, 13 September 2026 | 10:42 WIB

Maria Kristin Bongkar Kriteria Peraih Super Tiket Audisi Umum PB Djarum 2026: Kalah Masih Bisa Lolos

Maria Kristin Bongkar Kriteria Peraih Super Tiket Audisi Umum PB Djarum 2026: Kalah Masih Bisa Lolos

Sport | Minggu, 13 September 2026 | 10:35 WIB

Ketika Cinta Bertemu Realitas: Ulasan Film Before Sunset yang Mengiris Hati

Ketika Cinta Bertemu Realitas: Ulasan Film Before Sunset yang Mengiris Hati

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 10:35 WIB

Redmi Note 17 Series Siap Hadir di Indonesia, Apa yang Membuatnya Istimewa?

Redmi Note 17 Series Siap Hadir di Indonesia, Apa yang Membuatnya Istimewa?

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 10:25 WIB

Modus Pejabat Desa Jual Kawasan Hutan Rp2 M di Bengkalis, Terungkap dari Karhutla

Modus Pejabat Desa Jual Kawasan Hutan Rp2 M di Bengkalis, Terungkap dari Karhutla

Riau | Minggu, 13 September 2026 | 10:25 WIB

Anak Krakatau Sudah Siaga Sejak Juli, Lalu Mitigasi Pemerintah ke Mana?

Anak Krakatau Sudah Siaga Sejak Juli, Lalu Mitigasi Pemerintah ke Mana?

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 10:23 WIB

Bahas Chemistry Instan, Le Sserafim Comeback dengan Lagu 'Made My Night'

Bahas Chemistry Instan, Le Sserafim Comeback dengan Lagu 'Made My Night'

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 10:15 WIB

7 Cara Menghilangkan Noda Bekas Setrika yang Nempel di Baju dengan Mudah

7 Cara Menghilangkan Noda Bekas Setrika yang Nempel di Baju dengan Mudah

Lifestyle | Minggu, 13 September 2026 | 10:15 WIB

Harga Diri Dipertaruhkan! Wali Kota Bakar Semangat PSM Jelang Lawan Arema FC

Harga Diri Dipertaruhkan! Wali Kota Bakar Semangat PSM Jelang Lawan Arema FC

Sulsel | Minggu, 13 September 2026 | 10:13 WIB

×