Jeritan Hati Warga Palestina: Susun 10 Bata Saja Pasti Dihancurkan Israel

Syaiful Rachman | Suara.com

Sabtu, 27 Juni 2020 | 16:55 WIB
Jeritan Hati Warga Palestina: Susun 10 Bata Saja Pasti Dihancurkan Israel
Warga Palestina menceritakan kerasnya sikap Israel terhadap warga di Tepi Barat. [BBC]

Suara.com - Di tengah upaya gencar pemerintah Israel mencaplok sekitar 30% wilayah pendudukan Tepi Barat, wartawan BBC berkunjung ke kawasan-kawasan yang menjadi pusat sengketa.

BBC menemui warga Palestina yang telah tinggal di Tepi Barat selama beberapa generasi, Mohammed Yehya.

Ia menuturkan "cengkeraman" Israel makin lama dirasa makin keras.

"Andai saja, saya menyusun 10 batu bata di sini, Israel pasti akan datang dan menghancurkannya," katanya.

BBC juga menemui dua anak muda Israel yang mengatakan "Tepi Barat adalah milik Israel",

"Bagi orang-orang Yahudi, tanah ini sangat penting, kami tak punya tempat di negara lain untuk bermukim," kata mereka.

Berikut kisah perjalanan wartawan BBC, Tom Bateman.

Saya meninggalkan Yerusalem melalui jalan utama melewati jalan bebas hambatan yang diberi nama Menachem Begin.

Ia dikenal sebagai pemimpin Yahudi militan yang kemudian menjadi perdana menteri Israel ke-6.

Menachem Begin juga adalah ikon nasionalisme sayap kanan dan pendiri gerakan yang kemudian menjadi Likud, partai politik yang sekarang dipimpin oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Dari jalan ini, saya bisa melihat baliho raksasa berisi foto Presiden Trump dan Netanyahu.

Ada kalimat dalam bahasa Ibrani, yang jika diterjemahkan berbunyi: "Katakan tidak ke negara Palestina."

Baliho ini dipasang oleh sejumlah wali kota yang memimpin wilayah yang memiliki permukiman Yahudi di Tepi Barat.

Tepi Barat adalah satu dari beberapa kawasan yang diduduki Israel. Bagi para wali kota ini, wilayah di Tepi Barat adalah milik mereka.

Saya melanjutkan perjalanan, melewati pos pemeriksaan militer dan mengambil satu jalan kecil menuju Tepi Barat.

Di Tepi Barat menetap tak kurang dari tiga juta warga Palestina dan hampir setengah juta warga Israel yang tinggal di sejumlah permukiman.

Saya menemui Mohammed Yehya, warga Desa Irtas.

Dari sini, terlihat di kejauhan rumah-rumah berderet rapi dengan atap berwarna oranye. Semua warga di sini paham, itu adalah rumah yang dibangun Israel bagi para pemukim Yahudi.

Saya bertanya ke Yehya tentang pernyataan PM Netanyahu yang ingin mencaplok sekitar 30% wilayah Tepi Barat.

Ia menjawab, "Tak ada maknanya sama sekali ... wilayah ini [semuanya] telah dicaplok. Sepenuhnya ada di tangan mereka."

Yehya menuturkan keluarganya telah berada di sini selama beberapa generasi.

Namun semuanya berubah setelah Israel membangun permukiman Efrat, yang terletak tak jauh dari tanah milik Yehya, pada 1980-an.

Sejak itu ia merasakan "cengkeraman" Israel yang makin kuat.

"Andai saja, saya menyusun 10 batu bata di sini, pihak berwenang Israel pasti akan datang dan menghancurkannya," kata Yehya.

"Israel menguasai tanah-tanah [di sini] dengan alasan ini adalah tanah negara ... dan pemerintah [Israel ingin] membantu para pemukim [Yahudi]," ujar Yehya.

Palestina batalkan 'seluruh perjanjian dengan Israel dan Amerika Serikat' terkait rencana pencaplokan Tepi Barat Parlemen Israel sahkan permukiman Yahudi di Tepi Barat Apakah isu permukiman Yahudi bisa diselesaikan dalam konflik Israel-Palestina?

Aneksasi sekitar 30% wilayah di Tepi Barat tercantum dalam rencana perdamaian Timur Tengah yang diusulkan Presiden Trump.

Berdasarkan usul ini, unsur negara Palestina di masa depan, antara lain adalah, 70% wilayah Tepi Barat.

Usulan lain yang diajukan Trump adalah, pembekuan selama empat tahun semua kegiatan pembangunan permukiman Yahudi di luar wilayah-wilayah yang dianeksasi oleh Israel.

Saya tanyakan ke Yehya apa pendapatnya tentang usul Trump ini.

"Siapa sih Trump itu, sampai ia berani mengajukan usul tersebut? Apa tanah ini milik dia?" kata Yehya.

Ia memetik buah persik, membelahnya dan memberikannya ke saya.

"Saya bisa memberi buah ini ke Anda, karena buah ini milik saya. Kalau ini bukan milik saya, bagaimana mungkin saya bisa menyerahkannya ke Anda?"

Warga Yahudi: 'Mestinya seluruh Tepi Barat diambil Israel'

Saya melanjutkan perjalanan ke Efrat.

Saya melewati dinding, pagar dan pos pemeriksaan. Ini adalah pemisah fisik yang oleh Israel dibangun untuk "melindungi keselatan warga mereka dari serangan bom bunuh diri".

Dinding pemisah dibangun antara 2000 hingga 2005.

Namun bagi banyak pihak, dinding pemisah semacam ini adalah "alat untuk merampok tanah".

Pembangunan permukiman di sini adalah pelanggaran hukum internasional.

Dalam hukum ini disebutkan secara jelas, negara yang menduduki satu wilayah secara militer dilarang memindahkan warga mereka ke wilayah yang diduduki tersebut.

Israel menyatakan tidak sependapat dengan argumen ini. Bagi mereka, Tepi Barat "bukan wilayah pendudukan" namun "wilayah yang dipersengketakan".

Saya memasuki kawasan Efrat setelah mendapat lampu hijau dari penjaga yang dilengkapi senjata api.

Jalan-jalan di sini tak terlalu ramai. Di luar satu kafe saya menemui Yedidia Mosawi Sharon Barazani, dua anak muda berusia 20-an tahun.

Mosawi mengatakan ia tadinya tinggal di satu permukiman di Hebron, yang terletak di Tepi Barat selatan.

Ia mengatakan Tepi Barat sangat penting bagi Israel.

Ia mengatakan rencana PM Netanyahu mencapok 30% wilayah Tepi Barat tak cukup.

"Mestinya hukum Israel berlaku di semua kawasan [Tepi Barat]. Dalam sejarah, tanah ini milik kami. Bagi orang-orang Yahudi, tanah ini sangat penting, kami tak punya tempat di negara lain untuk bermukim," kata Mosawi.

Barazani menambahkan, "Anda tak bisa meminta orang untuk meninggalkan tanah mereka, rumah mereka."

Membangun infrastruktur besar-besaran

Selain rumah-rumah bagi warga Yahudi, Israel membangun infrastruktur lain, seperti jembatan besar yang nantinya menghubungkan Yerusalem dengan Efrat dan permukiman-permukiman lain di Tepi Barat selatan.

Banyak yang mengatakan, apa yang diusulkan Presiden Trump tak lebih dari "formalisasi realitas di lapangan", bahwa selama 50 tahun ini Israel melaksanakan pembangunan infrastruktur, yang oleh masyarakat internasional dikatakan ilegal.

"Inilah kisah Tepi Barat dalam 53 tahun terakhir," kata Dror Etkes, direktur lembaga nonpemerintah di Israel yang memantau pembangunan permukiman bagi warga Yahudi.

"Yang dilakukan [Israel] adalah menyita tanah dan memberikannya kepada warga Israel. Itu pertama. Yang kedua, mereka mencegah perluasan komunitas Palestina," kata Etkes.

Etkes mengatakan pembangunan yang dilakukan Israel adalah yang terbesar yang pernah mereka lakukan di Tepi Barat dalam dua dekade terakhir.

Mereka membangun jalan, pipa air, sistem penjernihan, dan sistem pembuangan, yang menurut Etkes, membuka pintu lebar-lebar bagi peningkatan jumlah pemukim Israel secara signifikan di masa mendatang.

Satu lembaga kajian di Amerika Serikat memperkirakan, aneksasi 30% wilayah Tepi Barat bisa berdampak langsung bagi sekitar 110.000 warga Palestina.

'Kami tak akan menyerah, kami tak ingin jadi pengkhianat'

Saya melanjutkan perjalanan menuju Ramallah, kota yang menjadi kantor pusat Otorita Palestina.

Lembaga ini lahir setelah dicapai Perjanjian Oslo pada 1990-an, salah satu tonggak penting dalam upaya menyelesaikan konflik Israel-Palestina.

Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, mengatakan Otorita Palestina tak lagi terikat dengan perjanjian yang telah disepakati dengan Israel dan Amerika.

Beberapa pihak khawatir, jika memang ini menjadi kenyataan, akan terjadi kekacauan di Tepi Barat.

Di dalam negeri, terjadi persaingan sengit antara kelompok Fatah pimpinan Presiden Abbas dan Hamas, kelompok yang menguasai Jalur Gaza.

Di Ramallah, saya menghadiri keterangan pers oleh Perdana Menteri Palestina, Mohammad Shtayyeh.

"Proses perdamaian telah menemui jalan buntu," kata Shtayyeh.

Ia juga mengatakan kepemimpinan Palestina menghadapi ujian besar.

Saya tanyakan nasib masa depan Otorita Palestina di masa depan.

Ia menjawab, "Ini masalah yang sangat serius. Otorita Palestina bukan hadiah. Ini adalah bentuk mandat dari rakyat Palesrina ... kami tak akan menyerah begitu saja."

Proposal Trump adalah "resep bagi kehancuran negara Palestina".

"Menyetujui usulan Presiden Trump adalah bentuk pengkhianatan dan kami tak ingin menjadi kumpulan para pengkhianat," kata Shtayyeh.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Doa Saja Tidak Cukup, Vatikan Minta Umat Katolik AS Bergerak Hentikan Perang Amoral Trump di Iran

Doa Saja Tidak Cukup, Vatikan Minta Umat Katolik AS Bergerak Hentikan Perang Amoral Trump di Iran

News | Minggu, 12 April 2026 | 16:42 WIB

Trump Ucap 'Alhamdulillah': Klaim Iran Kalah dan Proses Pembersihan Hormuz Dimulai

Trump Ucap 'Alhamdulillah': Klaim Iran Kalah dan Proses Pembersihan Hormuz Dimulai

Tekno | Minggu, 12 April 2026 | 16:24 WIB

Saat AS dan Iran Negosiasi, Donald Trump Justru Asyik Nonton UFC di Miami

Saat AS dan Iran Negosiasi, Donald Trump Justru Asyik Nonton UFC di Miami

News | Minggu, 12 April 2026 | 14:28 WIB

Donald Trump Murka, China Akan Hadapi Masalah Besar Jika Nekat Pasok Senjata ke Iran

Donald Trump Murka, China Akan Hadapi Masalah Besar Jika Nekat Pasok Senjata ke Iran

News | Minggu, 12 April 2026 | 08:20 WIB

Penembakan Pemuda Palestina di Deir Jarir Ungkap Eskalasi Brutalitas Pemukim Ilegal Israel

Penembakan Pemuda Palestina di Deir Jarir Ungkap Eskalasi Brutalitas Pemukim Ilegal Israel

News | Minggu, 12 April 2026 | 07:46 WIB

Update Data Korban Perang Lebanon, 2020 Orang Tewas Menyusul Serangan Israel di Wilayah Selatan

Update Data Korban Perang Lebanon, 2020 Orang Tewas Menyusul Serangan Israel di Wilayah Selatan

News | Minggu, 12 April 2026 | 06:26 WIB

Jeritan Ayah di Gaza Menanti Evakuasi 4 Anaknya yang 6 bulan Terkubur Beton di Masa Gencatan Senjata

Jeritan Ayah di Gaza Menanti Evakuasi 4 Anaknya yang 6 bulan Terkubur Beton di Masa Gencatan Senjata

News | Minggu, 12 April 2026 | 06:09 WIB

Lagi-lagi Singgung Iran, Ini Sesumbar Donald Trump Soal Pasokan Minyak

Lagi-lagi Singgung Iran, Ini Sesumbar Donald Trump Soal Pasokan Minyak

News | Jum'at, 10 April 2026 | 21:24 WIB

Trump Minta Bagian Tarif Kapal di Selat Hormuz, Picu Sorotan Global!

Trump Minta Bagian Tarif Kapal di Selat Hormuz, Picu Sorotan Global!

Video | Sabtu, 11 April 2026 | 08:00 WIB

Tentara Israel Klaim Temukan Buku Mein Kampf Saat Cari Prajurit yang Tewas di Lebanon

Tentara Israel Klaim Temukan Buku Mein Kampf Saat Cari Prajurit yang Tewas di Lebanon

News | Jum'at, 10 April 2026 | 19:28 WIB

Terkini

'Pak Minta Nama!', Cerita Haru Nenek di Istana hingga Prabowo Usulkan Nama Adi Dharma

'Pak Minta Nama!', Cerita Haru Nenek di Istana hingga Prabowo Usulkan Nama Adi Dharma

News | Minggu, 12 April 2026 | 22:15 WIB

Puji Kontribusi Masif Warga Jateng, Pramono Anung: Pilar Penting Jakarta Menuju Kota Global!

Puji Kontribusi Masif Warga Jateng, Pramono Anung: Pilar Penting Jakarta Menuju Kota Global!

News | Minggu, 12 April 2026 | 22:00 WIB

Petaka Parkir di Bahu Jalan! Sigra 'Nangkring' di Pembatas Jalan Usai Dihantam Fortuner di Tangerang

Petaka Parkir di Bahu Jalan! Sigra 'Nangkring' di Pembatas Jalan Usai Dihantam Fortuner di Tangerang

News | Minggu, 12 April 2026 | 21:00 WIB

Iran Berencana Kenakan Biaya untuk Kapal yang Melintas Selat Hormuz

Iran Berencana Kenakan Biaya untuk Kapal yang Melintas Selat Hormuz

News | Minggu, 12 April 2026 | 20:42 WIB

Fasilitas Pipa Minyak Arab Saudi Pulih, Penyaluran Capai 7 Juta Barel Per Hari

Fasilitas Pipa Minyak Arab Saudi Pulih, Penyaluran Capai 7 Juta Barel Per Hari

News | Minggu, 12 April 2026 | 20:32 WIB

Satpol PP Gandeng TNI-Polri Sikat Preman Tanah Abang, Pangkalan Bajaj Liar Ikut Ditertibkan

Satpol PP Gandeng TNI-Polri Sikat Preman Tanah Abang, Pangkalan Bajaj Liar Ikut Ditertibkan

News | Minggu, 12 April 2026 | 20:30 WIB

Vladimir Putin Siap Bersua Prabowo Subianto di Moskow, Isu Energi hingga Global Dibahas

Vladimir Putin Siap Bersua Prabowo Subianto di Moskow, Isu Energi hingga Global Dibahas

News | Minggu, 12 April 2026 | 20:27 WIB

Negosiasi dengan AS Gagal, Iran: Selat Hormuz Sepenuhnya di Tangan Kami!

Negosiasi dengan AS Gagal, Iran: Selat Hormuz Sepenuhnya di Tangan Kami!

News | Minggu, 12 April 2026 | 20:19 WIB

Jelaskan Anggaran EO Capai Rp113,9 M, Kepala BGN: Mekanisme Sesuai Aturan dan Terbuka untuk Diawasi

Jelaskan Anggaran EO Capai Rp113,9 M, Kepala BGN: Mekanisme Sesuai Aturan dan Terbuka untuk Diawasi

News | Minggu, 12 April 2026 | 20:00 WIB

Bukan Emas atau Berlian, Pemuda di Rembang Pinang Kekasih dengan Mahar Bibit Pohon Mangga!

Bukan Emas atau Berlian, Pemuda di Rembang Pinang Kekasih dengan Mahar Bibit Pohon Mangga!

News | Minggu, 12 April 2026 | 19:30 WIB