Heran Omnibus Law Disahkan saat Pandemi, dr Tirta: Urgensinya di Mana?

Reza Gunadha | Farah Nabilla | Suara.com

Rabu, 07 Oktober 2020 | 08:53 WIB
Heran Omnibus Law Disahkan saat Pandemi, dr Tirta: Urgensinya di Mana?
Dokter Tirta di ILC TV One. (Youtube/IndonesiaLawyersClub)

Suara.com - Dokter sekaligus influencer Tirta Mandira Hudhi mengomentari tentang pengesahan UU Cipta Kerja. Ia mempertanyakan di mana urgensi UU tersebut hingga disahkan si tengah pandemi.

Ia berpendapat pengesahan UU Cipta Kerja seharusnya bisa dipahami para pejabat terutama DPR RI akan memunculkan polemik dan demonstrasi.

Selain itu, ia juga menyinggung soal 18 anggota DPR RI yang tertular Covid-19 pasca pengesahan RUU Cipta Kerja.

"Sudah tahu mengesahkan Omibus Law itu berpotensi menghasilkan demonstrasi. Di sisi lain 18 DPR terpapar corona," komentar dokter Tirta dilansir Suara.com dari tayangan Indonesia Lawyers Club TV One, Rabu (7/10/2020).

Dokter Tirta pun mempertanyakan alasan mengapa pemerintah begitu ngotot mengesahkan UU tersebut di saat pandemi masih melanda Indonesia.

"Urgensinya di mana? kenapa disahkan di kala pandemi?" tanya dia.

Untuk diketahui, sebanyak 18 anggota DPR positif corona setelah mengesahkan UU Cipta Kerja. Hal itu dipastikan Wakil Ketua DPR Azis Syamsudin.

Tak hanya mereka, ada 40 staf anggota DPR juga positif corona.

"Ya anggota ada 18, 40 orang dan staf tenaga ahli," kata Azis di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (6/10/2020).

Selain menyoroti pengesahan RUU Omnibus Law Cipta Kerja, Tirta juga mengomentari digelarnya Pilkada pada Desember mendatang.

Ia mengatakan Pilkada berpotensi menjadi kluster dari hajatan yang digelar sebagai salah satu rangkaian kampanye paslon.

"Pilkada memang aman, tapi hajatannya? Kampanye pasti buat hajatan, dangdutan. Sementara dokter berjuang mati-matian, rakyat kelaparan, beli masker enggak bisa," kata dokter Tirta.

Menurutnya, keputusan pemerintah tetap menggelar Pilkada kontradiktif dengan penerapan pengetatan protokol kesehatan dan pembatasan sosial yang selama ini dilakukan.

"Kan kontradiktif, di Jakarta PKL kalau buka dibungkus kursinya, di Bekasi cafe buka digerebek. Sementara Pilkada selalu ada kampanye," komentar dia.

Ia mengatakan Pilkada mungkin bisa dilakukan dengan menyesuaikan protokol kesehatan, namun ia juga mengkhawatirkan pesta demokrasi pemilihan kepala daerah itu bisa menjadi klaster baru penularan virus corona.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dibungkam, Politikus Demokrat: Yang Bilang Mic Saya Mati Otomatis, Ngawur!

Dibungkam, Politikus Demokrat: Yang Bilang Mic Saya Mati Otomatis, Ngawur!

News | Rabu, 07 Oktober 2020 | 08:02 WIB

Mahasiswa Makassar Akan Kembali Gelar Unjuk Rasa Hari Ini

Mahasiswa Makassar Akan Kembali Gelar Unjuk Rasa Hari Ini

Sulsel | Rabu, 07 Oktober 2020 | 07:01 WIB

Demo Mahasiswa Tolak UU Cipta Kerja Tutup Jalan, Pengendara Angkat Motor

Demo Mahasiswa Tolak UU Cipta Kerja Tutup Jalan, Pengendara Angkat Motor

Sulsel | Rabu, 07 Oktober 2020 | 06:25 WIB

Beri Diskon Kader PD & PKS, Penjual Nasi Kebuli: PDIP Juga Dikasih Andai...

Beri Diskon Kader PD & PKS, Penjual Nasi Kebuli: PDIP Juga Dikasih Andai...

Jakarta | Rabu, 07 Oktober 2020 | 06:35 WIB

Begini Kronologis Demo Mahasiswa Tolak UU Cipta Kerja yang Berujung Ricuh

Begini Kronologis Demo Mahasiswa Tolak UU Cipta Kerja yang Berujung Ricuh

Riau | Selasa, 06 Oktober 2020 | 23:20 WIB

Pengumuman Kandidat SATU Indonesia Awards 2020: Semangat Meski Pandemi

Pengumuman Kandidat SATU Indonesia Awards 2020: Semangat Meski Pandemi

Otomotif | Selasa, 06 Oktober 2020 | 23:05 WIB

Terkini

Biar Nggak Merasa Ketipu, Ini Alasan Hukum Kenapa Kuota Internet Kamu Hangus Saat Masa Aktif Habis

Biar Nggak Merasa Ketipu, Ini Alasan Hukum Kenapa Kuota Internet Kamu Hangus Saat Masa Aktif Habis

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 19:45 WIB

Bukan 18 Tahun, Nadiem Makarim Bongkar Hitungan Jaksa: Total Saya Dituntut 27 Tahun Penjara!

Bukan 18 Tahun, Nadiem Makarim Bongkar Hitungan Jaksa: Total Saya Dituntut 27 Tahun Penjara!

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 19:35 WIB

Prabowo Bangga, Gaji Hakim RI Naik 280 Persen dan Kini di Atas Malaysia

Prabowo Bangga, Gaji Hakim RI Naik 280 Persen dan Kini di Atas Malaysia

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 19:28 WIB

Prabowo Tantang Satgas PKH: Takut Bandit atau Berani Bela Rakyat?

Prabowo Tantang Satgas PKH: Takut Bandit atau Berani Bela Rakyat?

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 19:18 WIB

Budisatrio Djiwandono Siap Hadirkan Para Dubes untuk Simak Sinergi Karang Taruna - Sekolah Rakyat

Budisatrio Djiwandono Siap Hadirkan Para Dubes untuk Simak Sinergi Karang Taruna - Sekolah Rakyat

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 19:15 WIB

Dituding Lamban oleh DPR, KNKT Bongkar Alasan Investigasi Kereta Bekasi Tak Kunjung Usai

Dituding Lamban oleh DPR, KNKT Bongkar Alasan Investigasi Kereta Bekasi Tak Kunjung Usai

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:56 WIB

Staf Ahli TP PKK Yane Ardian Minta Pemda Perkuat UP2K dan Berdayakan Lansia

Staf Ahli TP PKK Yane Ardian Minta Pemda Perkuat UP2K dan Berdayakan Lansia

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:53 WIB

Jakarta-Kelantan Sepakat Perkuat Kerja Sama, Penerbangan Langsung Dimulai 16 Juni

Jakarta-Kelantan Sepakat Perkuat Kerja Sama, Penerbangan Langsung Dimulai 16 Juni

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:33 WIB

Jaksa Tuntut Nadiem Bayar Uang Pengganti Rp 5,6 Triliun

Jaksa Tuntut Nadiem Bayar Uang Pengganti Rp 5,6 Triliun

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:29 WIB

Bongkar Modus Birokrat 'Kickback' Perizinan, Prabowo Mau Efisiensi Izin 2 Tahun jadi 2 Minggu

Bongkar Modus Birokrat 'Kickback' Perizinan, Prabowo Mau Efisiensi Izin 2 Tahun jadi 2 Minggu

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:25 WIB