alexametrics

Menkes Terawan Buka Suara Soal RS Palsukan Kematian Pasien Covid-19

Bimo Aria Fundrika | Novian Ardiansyah
Menkes Terawan Buka Suara Soal RS Palsukan Kematian Pasien Covid-19
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto (tengah). [ANTARA FOTO/Galih Pradipta]

Terawan menganggap semua hal di dunia memiliki pertanggungjawaban kelak di kehidupan setelah kematian.

Suara.com - Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menanggapi ihwal tuduhan kepada rumah sakit yang dianggap memalsukan data pasien Covid-19. Ia berujar hal tersebut tidak mungkin dilakukan.

Berkaca pada profesinya selaku dokter di rumah sakit sebelum ditunjuk sebagai menteri, Terawan mengatakan pihak rumah sakit tentunya akan melaporkan sesuai data dan fakta yang ada. Apabila memang kematian tidak disebabkan Covid-19 maka laporannya pun tidak.

"Saya masih memandang, saya kan pernah kerja di rumah sakit. Kita punya nurani yang kalau iya dikatakan iya, kalau tidak katakan tidak," kata Terawan dalam webinar HUT ke-56 Partai Golkar, Selasa (20/10/2020).

Terawan menganggap semua hal di dunia memiliki pertanggungjawaban kelak di kehidupan setelah kematian. Sehingga Terawan meyakini, hal culas semisal memalsukan data kematian pasien Covid-19 tidak dilakukan rumah sakit.

Baca Juga: Perhimpunan Dokter Gigi Tolak Permenkes Terawan dan Berita Populer Lainnya

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto (ketiga kiri) didampingi jajarannya mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (4/5). [ANTARA FOTO/Galih Pradipta]
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto (ketiga kiri). [ANTARA FOTO/Galih Pradipta]

"Karena bagaimanapun apalagi menyatakan orang yang meninggal itu harus benar-benar kita pertanggung jawabkan di hadapan yang Maha Kuasa. Karena itu saya masih berpikiran yang positif, ndak ada seperti itu, itu aja yang bisa saya sampaikan," tutur Terawan.  

Sebelumnya banyak bereddar kabar di media sosial yang menyatakan bahwa sejumlah rumah sakit memalsukan data tentang kematian pasien yang dinyatakan Covid-19. Hal itu diduga agar rumah sakit bisa mendapatkan insentif dari pemerintah. 

Komentar