alexametrics

Typo Tingkat Dewa, Surat Stafsus Jokowi Direvisi Warganet Layaknya Skripsi

Agung Sandy Lesmana | Muhammad Yasir
Typo Tingkat Dewa, Surat Stafsus Jokowi Direvisi Warganet Layaknya Skripsi
Tangkap layar surat Stafsus milenial dicoret-coret warganet layaknya revisi skripsi

"Sekarang musimnya musik indie. Ganti Rara Sekar (eks personel Banda Neira) atau Danilla saja!", tulisnya dengan pulpen merah.

Suara.com - Sebuah foto Surat Perintah dari Staf Khusus Milenial Presiden RI kepada Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri se-Indonesia viral di media sosial. Dalam surat tersebut terlihat banyak coretan pulpen mirip revisian skripsi.

Foto tersebut salah satunya diunggah oleh akun Twitter @trendingtopiq pada Sabtu (7/11/2020). Awalnya, pemilik akun Twitter @Sam_Ardi mengunggah foto Surat Perintah Staf Khusus Milenial Presiden RI yang masih bersih kepada @trendingtopiq untuk dikoreksi.

"Bapak @trendingtopiq agar menjadi periksa," kicau @Sam_Ardi, seperti dikutip Suara.com, Minggu (8/11/2020).

Kemudian, pemilik akun @trendingtopiq membalasnya.

Baca Juga: Dikira Amalan Doa Baik, Publik Terkecoh Baca Mantra Memanggil Arwah

Dia mengunggah foto Surat Perintah Staf Khusus Milenial Presiden RI yang telah dikoreksi.

Surat Perintah berkop Sekretariat Kabinet RI dengan Nomor Sprint-054/SKP-AM/11/2020 yang diteken oleh Aminuddin Ma'ruf di Jakarta, pada 5 November 2020 itu kini telah berubah penampakannya.

Terlihat banyak coretan pulpen warna merah pada kata-kata typo dan teknis penulisan yang salah. Jika dilihat ini mirip revisi skripsi mahasiswa.

Pengacara HAM Veronica Koman mengunggah sebuah surat perintah dari Staf Khusus Presiden RI dari kalangan milenial Aminuddin Ma'ruf untuk Dewa Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri se-Indonesia dalam rangka penyerahan rekomendasi sikap terkait omnibus law.  (Ist)
Pengacara HAM Veronica Koman mengunggah sebuah surat perintah dari Staf Khusus Presiden RI dari kalangan milenial Aminuddin Ma'ruf untuk Dewa Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri se-Indonesia dalam rangka penyerahan rekomendasi sikap terkait omnibus law. (Ist)

Salah satu poin yang direvisi dalam surat tersebut, yakni terkait penggunaan kata 'Surat Perintah'.

"Dewan Mahasiswa kan bukan lembaga negara, anak buah Staf Presiden, maupun rekan pengadaan barang/jasa. Jadi mereka lebih cocok diundang, alih-alih diperintah. Lebih sopan dan relevan," tulisannya menggunakan pulpen merah.

Baca Juga: Ngetweet Ajak Jangan Ragu Lapor Kejahatan, Publik Ramai-ramai Skakmat Polri

Selain itu, hal yang menarik lainnya yakni terkait kesalahan penulisan dalam surat tersebut yang tertulis 'Dewa Eksekutif Mahasiswa' yang semestinya Dewan Eksekutif Mahasiswa atau DEMA.

Komentar