alexametrics

Gajah Lapar Serbu Pembuangan Sampah, Makan Plastik Hingga Mati Perlahan

Reza Gunadha | Rima Suliastini
Gajah Lapar Serbu Pembuangan Sampah, Makan Plastik Hingga Mati Perlahan
Ilustrasi kawanan gajah. [Paweldotio/Unsplash]

Kawanan gajah lapar itu makan sampah dan plastik hingga akhirnya mati perlahan.

Suara.com - Kawanan gajah kelaparan kerap menyerbu tempat pembuangan sampah di dekat kota bagian timur Ampara, Sri Lanka. Pemerintah mulai mencari cara untuk mencegah mereka masuk kembali ke kawasan tersebut.

Menyadur Channel News Asia Sabtu (28/11), pemerintah kini sedang menggali parit di sekitar tempat pembuangan sampah untuk mencegah kawanan gajah masuk ke sana.

Puluhan gajah keluar dari hutan setiap hari dan mengobrak-abrik gundukan sampah untuk mencari sisa sayuran yang layu. Ini telah menjadi pemandangan umum di tiga tempat pembuangan sampah terbesar di negara itu, yang terletak di sebelah zona perlindungan satwa liar.

Para pejabat mengatakan gajah mengkonsumsi plastik dan sisa makanan dan hal ini membunuh mereka secara perlahan. Pada 2019, tercatat 361 gajah mati karena manusia, lapor kelompok lingkungan setempat.

Baca Juga: Pembunuh Buruh Perempuan di Sukabumi Ditangkap di Tempat Pembuangan Sampah

TPA Ampara dibuat sekitar satu dekade lalu di tengah koridor gajah yang menjadi rumah bagi 200 hingga 300 gajah. Pagar listrik yang dipasang tidak berfungsi untuk menjauhkan gajah kelaparan tersebut.

Ilustrasi gajah. (Unsplash/Jager)
Ilustrasi gajah. (Unsplash/Jager)

"Tidak ada rencana atau sistem yang tepat untuk ini,"" kata PH Kumara, bagian dari komite petani Gal Oya, sebuah kelompok tani di wilayah sekitar Ampara.

"Institusi pemerintah telah mendirikan tempat pembuangan sampah di perbatasan zona perlindungan satwa liar. Setelah itu dilakukan, gajah liar dan hewan liar lain mati karena makan sampah."

Kini, pemerintah mencoba parit di sekitar fasilitas untuk mencegah hewan tersebut masuk. Penduduk desa yang hidup berdampingan dengan kawanan liar mengatakan situasinya semakin buruk.

"Gajah-gajah liar yang datang ke TPA berkeliaran di sini siang dan malam. Kemudian mereka pergi ke desa tetangga dan merugikan penduduk desa, harta benda dan tanah pertanian mereka."

Baca Juga: Sungai di Pulau Jawa Kritis, BNPB: Jadi Tempat Pembuangan Sampah Raksasa

"Akhirnya, konflik antara manusia dan gajah semakin parah dan kita kehilangan gajah yang merupakan aset nasional."

Komentar