Sekjen PBB Antonio Guterres: Tak Ada Vaksin untuk Planet Ini

Siswanto, BBC

Kamis, 03 Desember 2020 | 14:17 WIB
Sekjen PBB Antonio Guterres: Tak Ada Vaksin untuk Planet Ini
DW

Suara.com - Rekor kenaikan suhu, kekeringan parah, dan pemanasan suhu laut yang cepat memastikan bahwa emisi masih terus meningkat. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengajak dunia berkoalisi untuk capai netralitas karbon.

Antonio Guterres membahas soal ancaman perubahan iklim yang mengerikan, pada Rabu (02/12), lewat pidatonya tentang keadaan planet di Universitas Columbia di New York, Amerika Serikat.

"Keadaan planet ini rusak, umat manusia mengobarkan perang terhadap alam," kata Guterres. "Alam selalu menyerang balik, dan melakukannya dengan kekuatan dan amarah,” tambahnya.

Mengacu pada laporan sementara “Keadaan Iklim Global 2020” yang dirilis Rabu (02/12) oleh Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organizations/WMO), Guterres menegaskan kembali bahwa suhu dalam dekade terakhir adalah yang terpanas dalam sejarah.

Dikatakannya bahwa lapisan es menurun, permafrost mencair, kebakaran hutan dan lahan yang luas dan badai yang belum pernah terjadi sebelumnya hanyalah sebagian dari akibatnya.

"Hentikan perampasan," lanjut Guterres, mengacu pada penggundulan hutan yang juga memicu perubahan iklim. "Dan mulailah penyembuhan.”

Menurutnya, kebijakan iklim saat ini telah gagal menjawab tantangan tersebut. Dia mengatakan bahwa emisi pada tahun 2020 tercatat 60% lebih tinggi daripada tahun 1990.

"Kita sedang menuju kenaikan suhu 3 sampai 5 derajat celcius (pada tahun 2100),” sebutnya.

Namun, sekjen WHO itu melihat harapan untuk tahun 2021, dengan mengatakan inilah saatnya untuk "membangun koalisi global menuju netralitas karbon."

baca juga

Misi ini membutuhkan target nol emisi gas rumah kaca pada tahun 2050. Lebih dari 110 negara telah berkomitmen untuk mencapai netralitas karbon.

Misi ini mendorong energi terbarukan dan menghentikan pembiayaan dan subsidi bahan bakar fosil secara bertahap.

“Tidak ada “vaksin” untuk planet ini,” ujarnya, terkait perlunya membangun gerakan aksi penanganan iklim global.

Rekor enam tahun terpanas Laporan kondisi iklim WMO yang dirujuk oleh Guterres menegaskan bahwa 2020 menjadi tahun terpanas kedua, jika dibandingkan dengan periode yang setara di masa lalu.

Serangkaian gejala planet bumi yang memanas termasuk, seringnya terjadi kekeringan parah, badai besar yang tak tertandingi, es lautan yang mencair, hujan lebat dan banjir di seluruh Asia dan Afrika, serta gelombang panas laut yang luas.

Namun, 2016 tetap menjadi tahun terpanas dalam sejarah hingga saat ini. Empat tahun kemudian, suhu memanas ini terus berlanjut, meskipun fase cuaca La Nina yang lebih dingin terjadi pada bulan September, dan El Nino – kondisi suhu air laut di Samudra Pasifik memanas – menjadi relatif lemah.

Suhu rata-rata global untuk Januari hingga Oktober 2020 adalah sekitar 1,2 derajat celcius, yang berarti di atas suhu rata-rata tahun 1850–1900.

"Dengan 2020 menjadi salah satu dari tiga tahun terpanas dalam catatan, dan enam tahun terakhir 2015-2020, kemungkinan besar menjadi enam tahun terpanas dalam catatan," kata laporan iklim WMO.

Suhu di Arktik Siberia lebih dari 5 derajat celcius di atas rata-rata pada tahun 2020. Suhu mencapai 38 celcius di Verkhoyansk pada akhir Juni, diketahui sebagai suhu tertinggi di utara Lingkaran Arktik.

“Kami melihat suhu ekstrem baru di darat, laut dan terutama di Kutub Utara,” kata Sekretaris Jenderal WMO Petteri Taalas.

"Kebakaran hutan melanda wilayah yang luas di Australia, Siberia, Pantai Barat AS dan Amerika Selatan, mengirimkan gumpalan asap ke seluruh dunia,” tambahnya.

Di masa pandemi, gas rumah kaca tetap meningkat Lockdown yang diterapkan untuk mencegah penyebaran virus corona hanya menghasilkan "pengurangan emisi sementara" pada tahun 2020, menurut laporan itu.

Gas rumah kaca yang sebagian besar dihasilkan oleh pembakaran dari bahan bakar fosil mencapai titik tertinggi baru pada tahun 2019.

Tingkat karbon dioksida (CO2), metana (CH4) dan nitrous oksida (N2O) meningkat ke level yang lebih tinggi dari tahun 2018 (2,6 bagian per satu juta), dibandingkan peningkatan dari dua tahun sebelumnya.

"Data real-time dari lokasi tertentu, termasuk Mauna Loa (Hawaii) dan Cape Grim (Tasmania) menunjukkan bahwa tingkat CO2, CH4 dan N2O terus meningkat pada tahun 2020," kata laporan itu.

Gejala pemanasan global yang semakin parah

Laporan tersebut juga mencatat bahwa permukaan laut telah naik lebih tinggi dari tahun ke tahun, sebagian akibat peningkatan pencairan lapisan es di Greenland dan Antartika.

Sementara itu, lebih dari 80% wilayah lautan telah mengalami setidaknya satu gelombang panas pada tahun 2020. Dan 43% wilayah lautan mengalami gelombang panas laut yang tergolong "kuat".

Selain itu, suhu panas laut pada tahun 2019 tercatat yang tertinggi. Hujan deras dan banjir besar melanda sebagian besar wilayah Afrika dan Asia pada tahun 2020, terutama di sebagian besar Sahel, negara-negara di the Greater Horn Afrika, anak benua India, dan daerah sekitarnya, Cina, Korea, dan Jepang.

Dengan 30 badai (per 17 November 2020), musim badai Atlantik utara mencatat jumlah badai tertinggi yang pernah ada.

Kekeringan parah memengaruhi sebagian besar bagian Amerika Selatan pada tahun 2020, dengan daerah yang terkena dampak parah termasuk Argentina utara, Paraguay dan daerah perbatasan barat Brasil.

"Peristiwa iklim dan cuaca telah memicu perpindahan penduduk yang signifikan dan sangat memengaruhi orang-orang yang rentan mengungsi, termasuk di kawasan Pasifik dan Amerika Tengah," kata laporan iklim. (pkp/ha)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Cek Fakta: Prabowo Usulkan Referendum di Aceh dan Papua Barat ke PBB, Benarkah ?

Cek Fakta: Prabowo Usulkan Referendum di Aceh dan Papua Barat ke PBB, Benarkah ?

News | Minggu, 03 Agustus 2025 | 15:47 WIB

Sekjen PBB Desak Gencatan Senjata Penuh Demi Kemanusiaan di Jalur Gaza: Segera Bebaskan Sandera Tanpa Syarat!

Sekjen PBB Desak Gencatan Senjata Penuh Demi Kemanusiaan di Jalur Gaza: Segera Bebaskan Sandera Tanpa Syarat!

News | Rabu, 29 November 2023 | 14:49 WIB

Kondisi Dunia Genting, Sekjen PBB: KTT G20 akan Tentukan Kehidupan Umat Manusia

Kondisi Dunia Genting, Sekjen PBB: KTT G20 akan Tentukan Kehidupan Umat Manusia

News | Selasa, 15 November 2022 | 11:48 WIB

Menlu Retno Bertemu Sekjen PBB Antonio Guterres, Ini Yang Dibahas

Menlu Retno Bertemu Sekjen PBB Antonio Guterres, Ini Yang Dibahas

News | Senin, 19 September 2022 | 12:15 WIB

Terkini

Viva Whitening Cream Dipakai Setelah Apa? Ini Urutan dan Cara Pakainya

Viva Whitening Cream Dipakai Setelah Apa? Ini Urutan dan Cara Pakainya

Lifestyle | Kamis, 27 Agustus 2026 | 12:37 WIB

Detik-detik Militer Israel Tembak Remaja Palestina di Gedung PBB, Netanyahu Bilang Itu Sah

Detik-detik Militer Israel Tembak Remaja Palestina di Gedung PBB, Netanyahu Bilang Itu Sah

News | Kamis, 27 Agustus 2026 | 12:35 WIB

Kelompok Anarko Coba Tunggangi Demo DPR, Manfaatkan Isu RUU Perampasan Aset

Kelompok Anarko Coba Tunggangi Demo DPR, Manfaatkan Isu RUU Perampasan Aset

News | Kamis, 27 Agustus 2026 | 12:32 WIB

Bakar Sampah Berujung Petaka, Warga Srengseng Sawah Kena Denda Rp 500 Ribu

Bakar Sampah Berujung Petaka, Warga Srengseng Sawah Kena Denda Rp 500 Ribu

News | Kamis, 27 Agustus 2026 | 12:29 WIB

Link CCTV Pantau Situasi Demo di Depan DPR RI untuk Hindari Kemacetan

Link CCTV Pantau Situasi Demo di Depan DPR RI untuk Hindari Kemacetan

Tekno | Kamis, 27 Agustus 2026 | 12:28 WIB

Daihatsu Perkuat Dominasi di Jawa Timur Lewat Gelaran GIIAS Surabaya 2026

Daihatsu Perkuat Dominasi di Jawa Timur Lewat Gelaran GIIAS Surabaya 2026

Otomotif | Kamis, 27 Agustus 2026 | 12:27 WIB

Hot Wheels Monster Trucks: Glow-n-Fire Siap Mengguncang Jakarta November Ini

Hot Wheels Monster Trucks: Glow-n-Fire Siap Mengguncang Jakarta November Ini

Your Say | Kamis, 27 Agustus 2026 | 12:26 WIB

Telin Hadirkan ignitePRO dalam BATIC 2026 untuk Dorong Transformasi AI ke Aksi Nyata

Telin Hadirkan ignitePRO dalam BATIC 2026 untuk Dorong Transformasi AI ke Aksi Nyata

Bisnis | Kamis, 27 Agustus 2026 | 12:24 WIB

Alasan Desta Pamit dari Vindes Setelah 5 Tahun Bersama Vincent Rompies

Alasan Desta Pamit dari Vindes Setelah 5 Tahun Bersama Vincent Rompies

Entertainment | Kamis, 27 Agustus 2026 | 12:24 WIB

Para Penjaga Lemo Nakai: Cerita Masyarakat Batu Raja R Hidup Selaras Tanpa Korbankan Hutan

Para Penjaga Lemo Nakai: Cerita Masyarakat Batu Raja R Hidup Selaras Tanpa Korbankan Hutan

News | Kamis, 27 Agustus 2026 | 12:22 WIB

×