Vaksin AstraZeneca Ditangguhkan Beberapa Negara: Apakah Itu Langkah Tepat?

Siswanto | BBC | Suara.com

Rabu, 17 Maret 2021 | 11:21 WIB
Vaksin AstraZeneca Ditangguhkan Beberapa Negara: Apakah Itu Langkah Tepat?
BBC

Suara.com - Sejumlah negara memutuskan menunda penggunaan vaksin Oxford-AstraZeneca. Mereka menyebutnya sebagai upaya pencegahan setelah muncul laporan bahwa beberapa orang mengalami pembekuan darah setelah menerima vaksin itu.

Tapi apakah negara-negara itu terlalu berhati-hati? Apakah pemerintah ini luput melihat persoalan lebih besar yang mungkin akan muncul?

Sejumlah penundaan  diambil berdasarkan prinsip kehati-hatian. Ini adalah pendekatan mapan dalam bidang sains dan kedokteran yang menekankan perlunya menghentikan langkah sejenak dan meninjau ulang ketidakpastian.

Namun dalam masa pandemi yang berlangsung cepat, saat setiap keputusan bisa menimbulkan konsekuensi besar, pendekatan itu terkadang lebih merugikan daripada menguntungkan.

Dipicu vaksin atau sebuah kebetulan?

Merujuk data AstraZeneca, terdapat 37 laporan pembekuan darah dari total 17 juta orang yang telah menerima vaksin mereka di Eropa.

Tapi pertanyaan kunci yang harus ditanyakan, apakah kasus-kasus itu disebabkan vaksin atau muncul secara kebetulan? Apakah penggumpalan darah akan tetap terjadi tanpa pengaruh vaksin AstraZeneca?

Kejadian buruk seperti pembekuan darah kini sedang dipantau secara hati-hati. Regulator berharap dapat menilai apakah peluang penggumpalan darah itu lebih besar dari yang seharusnya.

Seluruh 37 laporan berada di bawah tingkat yang Anda harapkan. Terlebih lagi, tidak ada penjelasan biologis yang kuat tentang mengapa vaksin dapat menyebabkan penggumpalan darah.

Itulah mengapa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Regulator Obat-obatan Eropa (EMA) dan Badan Pengawas Obat Inggris menyatakan tidak ada hubungan antara pembekuan darah dan vaksin.

Dan itu juga alasan mengapa banyak ahli vaksinasi mempertanyakan langkah penundaan tadi.

Profesor Adam Finn, anggota kelompok kerja WHO untuk vaksin Covid-19, menyebut penghentian peluncuran vaksin seperti ini "sangat tidak diinginkan", dapat menggangu proyek vaksin bahkan dapat mengorbankan nyawa.

"Membuat keputusan tepat dalam situasi seperti ini tidak mudah, tapi kemampuan menguasai persoalan sangat dibutuhkan," ujarnya.

Apakah Eropa bermasalah dengan vaksin itu?

Ini bukan pertama kalinya negara-negara di Eropa berhati-hati terhadap vaksin AstraZeneca.

Jerman, Prancis dan beberapa negara Eropa lainnya telah menerapkan prinsip kehati-hatian ketika pada awalnya mereka tidak merekomendasikan penggunaan vaksin itu untuk orang-orang berusia di atas 65 tahun.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, bahkan menggunakan terminologi quasi-ineffective atau hampir tidak efektif.

Sikap mereka itu telah berubah, namun terlanjur merusak kepercayaan terhadap vaksin itu.

Sebagian persediaan vaksin tersebut di Jerman dan Prancis akan terbuang percuma. Dua negara itu baru menggunakan kurang dari setengah persediaan mereka sejauh ini.

Fakta itu memiliki konsekuensi yang mematikan. Prancis, Jerman, dan negara-negara besar Eropa lainnya memiliki tingkat infeksi yang lebih tinggi daripada Inggris.

Sebelum pandemi berangsur mereda, situasi di negara-negara tadi berpotensi memburuk.

Jika melihat kembali keputusan vaksinasi untuk orang di atas 65 tahun, Anda dapat melihat bagaimana kebijakan itu dibuat.

Merujuk uji klinis yang digelar, ada bukti terbatas tentang penggunaan vaksin terhadap kelompok usia yang lebih tua.

Penyelenggara uji klinis ingin merekrut orang dewasa yang lebih muda pada tahap awal untuk alasan keamanan.

Jadi saat hasil uji klinis sampai ke tangan pihak regulator yang menilai tingkat infeksi, data itu tidak cukup untuk mempertimbangkan dampaknya pada orang yang lebih tua.

Namun ada bukti dari sampel darah bahwa vaksin AstraZeneca mendorong respons kekebalan yang kuat pada kelompok usia yang lebih tua.

Jadi, tidak ada alasan yang masuk akal mengapa vaksin itu tidak akan berhasil di kalangan usia lanjut. Akan tetapi, waktu yang sempit tidak cukup untuk mengumpulkan bukti penggunaannya secara faktual.

Ada juga persoalan menafsirkan hasil uji klinis.

Muncul sejumlah hal tidak konsisten di berbagai situs yang digunakan selama uji coba. Pada dasarnya, berarti ada empat uji coba berbeda dalam satu uji klinis.

Protokol dan praktik yang diterapkan juga bervariasi di masing-masing tempat uji klinis, termasuk penggunaan setengah dalam satu dosis.

Hal-hal tadi menciptakan kumpulan data yang berantakan untuk ditafsirkan.

Pengambilan keputusan yang berani mungkin jadi kebijakan yang terbaik

Inggris melihat melewati tahap uji klinis dan mengambil lompatan besar.

Dalam beberapa bulan saja, Inggris mencatatkan hasil "spektakuler" untuk menurunkan tingkat penyakit serius di kelompok umur lebih dari 80 tahun.

Pendekatan pragmatis dalam pengambilan keputusan inilah yang juga menyebabkan Inggris merekomendasikan jeda hingga tiga bulan antardosis.

Keputusan Inggris soal jeda ini menimbulkan banyak kontroversi ketika diumumkan akhir Desember silam.

Vaksin Pfizer tidak diuji seperti itu dalam tahap uji klinis. Interval pemberian antardosisnya pun hanya tiga pekan.

Namun, sekali lagi, ketiadaan bukti bukan berarti langkah tersebut tidak akan berhasil atau tidak berdasarkan logika.

Uji coba AstraZeneca memang memiliki interval yang lebih lama untuk beberapa peserta, yang tampaknya membuatnya lebih efektif.

Sementara itu, vaksin Moderna, yang merupakan jenis vaksin yang mirip dengan Pfizer, juga menunjukkan bahwa vaksin itu dapat bekerja efektif.

Ada juga bukti kuat bahwa dalam vaksin dua dosis, sebagian besar perlindungan diberikan oleh dosis pertama. Dosis kedua berperan meningkatkan dan memberikan perlindungan yang lebih tahan lama.

Dengan kasus yang meningkat pesat pada saat kebijakan itu diambil, Inggris jelas ingin memaksimalkan pasokan vaksin yang tersedia. Tujuannya, memberikan perlindungan kepada lebih banyak orang. Itu pilihan logis meski bukti uji klinis tidak secara langsung mendukungnya.

Profesor David Spiegelhalter, seorang pakar yang mendalami risiko dari Universitas Cambridge, menyebut bahwa terkadang Anda harus berani mengambil keputusan.

'Prinsip kehati-hatian bisa menjadi cara yang masuk akal untuk membuat keputusan dalam menghadapi ketidakpastian ilmiah.

"Prinsip ini menyebut kelambanan sebagai cara mengurangi risiko. Tapi, masalahnya, ini bukan waktu yang normal dan kelambanan bisa lebih berisiko daripada pengambilan tindakan," kata dia.

Yang dibutuhkan dalam keadaan seperti ini, menurut Sir David, adalah mencari tahu yang paling mungkin terjadi pada keseimbangan probabilitas.

Proses itu membutuhkan bukti yang dilihat secara langsung dan tidak langsung serta konteks pengambilan keputusannya.

"Membuat keputusan ketika ada ketidakpastian seperti itu sangatlah sulit, tapi terkadang berbahaya untuk menunggu kepastian. Tidak memvaksin orang akan mengorbankan nyawa," ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Heboh Timbul Efek Samping Pembekuan Darah, BPOM Sebut Vaksin AstraZeneca Sudah Tidak Beredar di Indonesia

Heboh Timbul Efek Samping Pembekuan Darah, BPOM Sebut Vaksin AstraZeneca Sudah Tidak Beredar di Indonesia

Health | Senin, 06 Mei 2024 | 10:09 WIB

BPOM Tegaskan Tidak Ada Kejadian Pembekuan Darah karena Vaksin Covid-19 AstraZeneca

BPOM Tegaskan Tidak Ada Kejadian Pembekuan Darah karena Vaksin Covid-19 AstraZeneca

Health | Senin, 06 Mei 2024 | 09:56 WIB

Bikin Heboh Vaksin AstraZeneca Akui Timbulkan Efek Samping Langka

Bikin Heboh Vaksin AstraZeneca Akui Timbulkan Efek Samping Langka

Video | Sabtu, 04 Mei 2024 | 07:00 WIB

Penerima Vaksin AstraZeneca Alami Cedera Otak Permanen, Menkes: Benefit Lebih Besar dari Risiko

Penerima Vaksin AstraZeneca Alami Cedera Otak Permanen, Menkes: Benefit Lebih Besar dari Risiko

News | Jum'at, 03 Mei 2024 | 17:38 WIB

Mengenal Thrombosis with Thrombocytopenia Syndrome, Efek Samping Vaksin Covid-19 AstraZeneca yang Heboh di Inggris

Mengenal Thrombosis with Thrombocytopenia Syndrome, Efek Samping Vaksin Covid-19 AstraZeneca yang Heboh di Inggris

Health | Jum'at, 03 Mei 2024 | 13:57 WIB

Heboh Vaksin AstraZeneca Beri Efek Samping Pembekuan Darah, Menkes Budi Gunadi Sadikin Buka Suara

Heboh Vaksin AstraZeneca Beri Efek Samping Pembekuan Darah, Menkes Budi Gunadi Sadikin Buka Suara

Health | Kamis, 02 Mei 2024 | 12:47 WIB

Jay Idzes Alami Pembekuan Darah, Bisa Fatal Sampai Gangguan Paru-Paru, Jantung dan Otak

Jay Idzes Alami Pembekuan Darah, Bisa Fatal Sampai Gangguan Paru-Paru, Jantung dan Otak

Bola | Sabtu, 20 April 2024 | 07:35 WIB

Terapi Profilaksis Disebut Bisa Bantu Obati Penyakit Langka Hemofilia, Sudah Ditanggung BPJS Kesehatan?

Terapi Profilaksis Disebut Bisa Bantu Obati Penyakit Langka Hemofilia, Sudah Ditanggung BPJS Kesehatan?

Health | Sabtu, 22 Juli 2023 | 14:43 WIB

Rahasia agar Skincare Diterima Masyarakat, Newlab: Harus Melewati Riset dan Proses Uji Klinis

Rahasia agar Skincare Diterima Masyarakat, Newlab: Harus Melewati Riset dan Proses Uji Klinis

Bisnis | Rabu, 07 Juni 2023 | 23:10 WIB

Akses Informasi untuk Penyandang Hemofilia Perlu Ditingkatkan, Dokter Ungkap Alasannya

Akses Informasi untuk Penyandang Hemofilia Perlu Ditingkatkan, Dokter Ungkap Alasannya

Health | Jum'at, 02 Juni 2023 | 12:19 WIB

Terkini

DPR Murka, Debt Collector Gunakan Ambulans dan Damkar untuk Tagih Utang

DPR Murka, Debt Collector Gunakan Ambulans dan Damkar untuk Tagih Utang

News | Jum'at, 24 April 2026 | 16:27 WIB

Iran Kecam Usulan Italia Gantikan Posisi Timnas di Piala Dunia 2026: Kebangkrutan Moral

Iran Kecam Usulan Italia Gantikan Posisi Timnas di Piala Dunia 2026: Kebangkrutan Moral

News | Jum'at, 24 April 2026 | 16:18 WIB

Tarif Rp1 Bikin Transjakarta Diserbu, Penumpang Membludak di Kampung Rambutan

Tarif Rp1 Bikin Transjakarta Diserbu, Penumpang Membludak di Kampung Rambutan

News | Jum'at, 24 April 2026 | 16:15 WIB

Orang Kencing Sembarangan Makin Tak Terkendali, Walkot New York Mau Bangun Toilet Rp62 Miliar

Orang Kencing Sembarangan Makin Tak Terkendali, Walkot New York Mau Bangun Toilet Rp62 Miliar

News | Jum'at, 24 April 2026 | 16:10 WIB

Lansia 71 Tahun Gagal Putar Balik, Honda HRV Tabrak Pejalan Kaki hingga Depot Air di Jakbar!

Lansia 71 Tahun Gagal Putar Balik, Honda HRV Tabrak Pejalan Kaki hingga Depot Air di Jakbar!

News | Jum'at, 24 April 2026 | 16:01 WIB

Donald Trump Longgarkan Aturan Ganja Medis, Pak Prabowo Gak Mau Ikutan?

Donald Trump Longgarkan Aturan Ganja Medis, Pak Prabowo Gak Mau Ikutan?

News | Jum'at, 24 April 2026 | 15:58 WIB

DPR Ingatkan Risiko Global di Balik Wacana Tarif Kapal Selat Malaka

DPR Ingatkan Risiko Global di Balik Wacana Tarif Kapal Selat Malaka

News | Jum'at, 24 April 2026 | 15:51 WIB

Bikin Skenario Brutal Serang Orang Yahudi, Dua Remaja AS Terancam Hukuman Berat

Bikin Skenario Brutal Serang Orang Yahudi, Dua Remaja AS Terancam Hukuman Berat

News | Jum'at, 24 April 2026 | 15:46 WIB

KPK Dalami Aliran Dana CSR di Kasus Madiun, Dirut Perumda Ikut Diperiksa

KPK Dalami Aliran Dana CSR di Kasus Madiun, Dirut Perumda Ikut Diperiksa

News | Jum'at, 24 April 2026 | 15:42 WIB

Jakarta Jadi Sering Mati Lampu, ESDM Investigasi Dugaan Kerusakan Gardu PLN, Apa Penyebabnya?

Jakarta Jadi Sering Mati Lampu, ESDM Investigasi Dugaan Kerusakan Gardu PLN, Apa Penyebabnya?

News | Jum'at, 24 April 2026 | 15:41 WIB