alexametrics

Pengungsi Palestina Kekurangan Pasokan Makanan & Kebutuhan Sehari-hari

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
Pengungsi Palestina Kekurangan Pasokan Makanan & Kebutuhan Sehari-hari
Ribuan warga Australia melakukan demo untuk memprotes serangan brutal Israel di Masjid Al Aqsa dan jalur Gaza di Balai Kota Sydney, Australia, Sabtu (15/5). BIANCA DE MARCHI / AFP

"Kami membutuhkan makanan, pakaian, selimut, kasur dan susu," kata salah seorang pengungsi.

Suara.com - Konflik antara Palestina dan Israel yang terjadi sejak pekan lalu telah menimbulkan kerusakan, kematian, dan banyak orang yang mengungsi di Gaza kekurangan pasokan kebutuhan sehari-hari.

Kondisi ini pun terjadi pada Suheir al-Arbeed (30), yang baru melahirkan dua minggu lalu. Ia mengungsi di sebuah sekolah di Kota Gaza bersama keenam anaknya.

"Kami membutuhkan makanan, pakaian, selimut, kasur, dan susu. Punggungku sakit karena tidur di atas selimut tipis di lantai," kata al-Arbeed, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (18/5/2021).

Al-Arbeed juga harus meminta persediaan popok pengungsi lainnya dan buah hatinya itu terus menangis walau sudah mendapatkan ASI.

Baca Juga: Ridwan Kamil Pastikan Masyarakat Jawa Barat Selalu Bersama Rakyat Palestina

"Aku mencoba menyusui dia tapi dia masih lapar dan terus menangis," lanjutnya.

Ribuan warga Australia melakukan demo untuk memprotes serangan brutal Israel di Masjid Al Aqsa dan jalur Gaza di Balai Kota Sydney, Australia, Sabtu (15/5).  BIANCA DE MARCHI / AFP
Ribuan warga Australia melakukan demo untuk memprotes serangan brutal Israel di Masjid Al Aqsa dan jalur Gaza di Balai Kota Sydney, Australia, Sabtu (15/5). BIANCA DE MARCHI / AFP

Al-Arbeed merupakan satu dari ratusan keluarga yang meninggalkan rumah mereka pada Kamis (13/5/2021) malam, ketika tembakan dan pemboman dari Israel mengguncang tempat tinggal mereka.

Para anggota keluarga melarikan diri dengan berjalan kaki dengan jarak beberapa kilometer ke sekolah Gaza al-Jadeeda. Ini adalah salah satu dari banyaknya sekolah yang dikelola oleh UNRWA, badan PBB untuk pengungsi Palestina.

"Tidak ada mobil atau transportasi yang tersedia," kata al-Arbeed, yang rumahnya terletak di daerah Shujaiyah di timur laut Gaza.

Hal yang sama terjadi pada Umm Jamal al-Attar. Ia dan keluarganya sudah berulang kali mengungsi, termasuk saat konflik perang Gaza 2014 silam yang telah menewaskan anak-anaknya.

Baca Juga: WHO: Petugas Kesehatan di Wilayah Konflik Palestina Israel Harus Dilindungi

"Israel membombardir kami dengan rudal dan penembakan. Mereka juga menembakkan semacam gas," ungkap Umm Jamal, seraya menambahkan bahwa dia belum bisa pulang ke rumah untuk mendapatkan pakaian atau makanan.

Komentar