Anak-anak Gaza, Tumbuh Besar dengan Depresi dan Mimpi Buruk

Reza Gunadha, BBC

Kamis, 27 Mei 2021 | 22:44 WIB
Anak-anak Gaza, Tumbuh Besar dengan Depresi dan Mimpi Buruk
[BBC]

Suara.com - Anak-anak di Jalur Gaza, Palestina, tidak bisa tumbuh kembang selayaknya bocah-bocah di negeri lain. Mereka harus tumbuh di antara peperangan, ketakutan, ancaman, serta kekejaman militer Israel.

"Saya senang, saya masih hidup. Secara psikologis saya sangat terguncang," kata Ola Abu Hasaballah.

Perempuan berusia 32 tahun ini adalah ibu seorang anak yang tinggal di Gaza.

Ia berharap anaknya yang berusia tiga tahun tak akan mengalami pemboman dan penghancuran yang ia saksikan sendiri.

Pertempuran antara kelompok Hamas dan Israel yang berlangsung 11 hari menyebabkan paling tidak 248 orang di Gaza dan 12 di Israel meninggal. Gencatan senjata mulai diberlakukan Jumat lalu (21/05).

Setidaknya 65 anak di Gaza dan dua di Israel termasuk korban meninggal.

Kedua belah pihak mengklaim menang dalam konflik itu. Namun Ola mengatakan ia tahu siapa yang kalah.

Selain anak-anak yang meninggal, ia mengatakan bertahan dan selamat dalam perang meninggalkan luka yang sangat mendalam pada anak-anak.

"Banyak di antara mereka yang kehilangan orang tua dan sangat sedih. Kembali ke kehidupan normal sangat sulit. Sebagian dari mereka perlu bantuan seperti konseling serta terapi," katanya.

baca juga

Trauma stres

Ola mendapatkan gelar S2 dalam bidang kejiwaan dan bekerja sebagai psikolog dan pendidikan anak di Dewan Pengungsi Norwegia,

Dalam 13 tahun terakhir ia membantu anak-anak yang terdampak perang di Gaza.

Ia mengatakan anak-anak yang kehilangan orang tua, kakak atau adik atau rumah mereka akan mengalami gangguan stress pascatrauma, post-traumatic stress disorder (PTSD).

"Gejalanya termasuk tak bisa tidur, mimpi buruk, merasa bersalah, merasa terkucilkan, ngombol, merasa kebal, tak punya harapan, marah, pikiran negatif tentang masa depan untuk mereka sendiri dan depresi," katanya.

Setelah pengeboman berakhir, Ola kembali bekerja dan bertemu dengan lima anak perempuan yang berusia 11 tahun dan semuanya ketakutan.

Salah seorang teman di kelas mereka meninggal karena pengeboman.

Ola mengatakan, "Salah seorang dari mereka mengatakan kepada saya setiap mendengar ledakan, ia merasa akan tewas seperti temannya, Dima."

Menurut Norwegian Refugee Council, 11 anak tewas dalam pengeboman terakhir telah melakukan konseling.

Bagian dari koseling adalah meminta anak-anak itu menggambar.

"Semua anak menggambar rumah mereka," kata Ola karena rumah sebagai tempat yang mereka anggap paling aman.

Namun, hancurnya rumah mereka, merupakan sesuatu yang sering terjadi saat konflik.

Banyak gedung di Gaza hancur akibat serangan udara dan lebih dari 100.000 warga Palestina mengungsi.

Sebagai seorang anak, kehilangan rumah berarti hilangnya mainan mereka, buku dan pakaian - barang yang memberikan kenyaman bagi mereka.

"Bila mereka juga kehilangan orang tua, artinya mereka kehilangan orang yang melindungi dan mengasihi mereka. Selain itu, banyak anak yang luka parah. Mereka perlu bertahun-tahun bantuan."

Survei PBB

Gaza adalah salah satu wilayah terpadat di dunia.

Daerah kantung ini memiliki penduduk dua juta jiwa, 42% di antaranya berusia di bawah 15 tahun.

Survei PBB pada 2018 menunjukkan satu dari empat anak di Gaza perlu dukungan kejiwaan karena trauma.

Ola sendiri mengalami masa itu pada awal tahun 2000an.

Serangan udara yang menimbulkan sikap agresif

Satu hari ketika ia tengah bermain di luar dengan kakak dan adiknya, pesawat Israel membom kawasan tempat tinggalnya.

"Kami melihat api dari pesawat dan kemudian bom meledak. Kami lari ke rumah dan kami berteriak mencari orang tua kami. Sangat menakutkan."

Dalam pengeboman lain, ia ingat harus menjaga adiknya yang berlari dan memeluknya.

"Saat anak-anak bercerita soal suara ledakan, saya ingat saat rumah saya goyang karena pengeboman. Saya dapat merasakan ketakutan yang mereka ceritakan," katanya lagi.

Namun Ola mengatakan anak-anak memiliki mekanisme bertahan sendiri.

"Ada rasa ketakutan. Saya punya empat kakak laki yang jadi sangat agresif setelah serangan udara. Terkadang mereka memukul saya."

Ola mengaitkan agresi kakak lakinya karena ketakutan dan mekanisme menyelamatkan diri.

Namun selama pengeboman, baik Ola dan kakak adiknya tak pernah mendapatkan konselingn kejiwaan, satu hal yang membuatnya memilih menjadi psikolog anak.

"Saya tahu bahwa anak-anak Israel juga mengalami trauma sendiri," kata Ola.

"Tetapi jumlah anak-anak Palestina yang meninggal dalam konflik terakhir, enam kali lebih banyak dari jumlah korban keseluruhan di Israel, termasuk tentara. Jumlah menggambarkan apa yang terjadi."

Tanah penuh kenangan

Selama pertempuran terakhir, Ola berupaya melakukan kegiatan secara normal dan memberikan rasa tenang untuk anaknya yang berusia tiga tahun. Ia besarkan anaknya sendiri setelah bercerai dari suaminya.

"Ia terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi. Saat terjadi ledakan ia lari ke arah saya, dan saya katakan, ibu akan selalu lindungi kamu."

Ola tak ingin putranya melalui saat sulit seperti yang ia alami, namun ia mengatakan ia tak pernah mempertimbangkan untuk pindah ke tempat lain.

"Kalau ia sudah besar, saya akan memberitahukannya bahwa Gaza bukan hanya tempat biasa, tapi tanah kakek neneknya, kuburan neneknya, tanah kenangan dan identitas saya."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Guru Sebar Hoaks Presiden Israel, Disdik DKI: Belum Ada Sanksi

Guru Sebar Hoaks Presiden Israel, Disdik DKI: Belum Ada Sanksi

News | Kamis, 27 Mei 2021 | 20:04 WIB

Tewas saat Bentrokan, Pria Yahudi Donorkan Ginjalnya untuk Ibu Arab Palestina

Tewas saat Bentrokan, Pria Yahudi Donorkan Ginjalnya untuk Ibu Arab Palestina

News | Kamis, 27 Mei 2021 | 18:56 WIB

Palestina-Israel sampai Kiamat Tak Akan Bisa Damai, Gus Baha Ungkap Alasannya

Palestina-Israel sampai Kiamat Tak Akan Bisa Damai, Gus Baha Ungkap Alasannya

News | Kamis, 27 Mei 2021 | 16:52 WIB

Silaturahmi dengan Sultan Kasepuhan Cirebon, Ulama Gaza Beberkan Kondisi Terbaru Palestina

Silaturahmi dengan Sultan Kasepuhan Cirebon, Ulama Gaza Beberkan Kondisi Terbaru Palestina

Jabar | Kamis, 27 Mei 2021 | 16:05 WIB

Viral Warga Malaysia Ditahan Tentara Israel

Viral Warga Malaysia Ditahan Tentara Israel

Sulsel | Kamis, 27 Mei 2021 | 11:27 WIB

CEK FAKTA: Benarkah China Donasikan Rp 230 Triliun Untuk Bantu Palestina?

CEK FAKTA: Benarkah China Donasikan Rp 230 Triliun Untuk Bantu Palestina?

News | Kamis, 27 Mei 2021 | 11:55 WIB

OKI Desak Penyelidikan Pelanggaran Israel di Wilayah Palestina

OKI Desak Penyelidikan Pelanggaran Israel di Wilayah Palestina

News | Kamis, 27 Mei 2021 | 11:00 WIB

Terkini

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:16 WIB

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:04 WIB

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:25 WIB

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Bola | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:00 WIB

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:59 WIB

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:35 WIB

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Video | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:30 WIB

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:00 WIB

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:47 WIB

×