alexametrics

Kisah dari Puskesmas Pujer: Keluarga Tolak Pasien Dirujuk ke RS, Lalu Meninggal

Siswanto
Kisah dari Puskesmas Pujer: Keluarga Tolak Pasien Dirujuk ke RS, Lalu Meninggal
Ilustrasi jenazah atau mayat. [Shutterstock]

Selain terkonfirmasi positif Covid-19, perempuan tersebut mempunyai penyakit bawaan (komorbid): sakit jantung.

Suara.com - Sudah kesekian kalinya terjadi di Indonesia, warga memaksa membawa pulang jenazah pasien Covid-19. Baru-baru ini kejadian serupa terjadi di Puskesmas Pujer, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. 

Dalam laporan Jatimnet disebutkan, warga dari Desa Mangli, Kecamatan Pujer, berbondong-bondong ke Puskesmas Pujer pada Minggu, 25 Juli 2021.

Dalam video yang tersebar luas di tengah masyarakat terlihat warga yang tanpa mengenakan alat pelindung diri memaksa membawa jenazah ke sebuah mobil yang mereka bawa.

Kepala Puskesmas Pujer Widjajanto mengonfirmasi kejadian tersebut. “Benar, itu memang pasien Covid, kita sayangkan memang warga sampai seperti itu. Kita harap warga punya kesadaran mematuhui prokes demi kebaikan sendiri,” ujar Widjajanto.

Baca Juga: Ngeri! Peti Mati Misterius Tergeletak di Pinggir Jalan, Warga Ketakutan

Menolak dibawa ke RS

Jenazah tersebut seorang perempuan berusia 51 tahun asal Desa Mangli. Ketika dibawa warga ke puskesmas, dia masih hidup, tetapi kondisinya payah.

Selain terkonfirmasi positif Covid-19, perempuan tersebut mempunyai penyakit bawaan (komorbid): sakit jantung.

“Akan kita rujuk ke rumah sakit, tapi keluarga menolak,” kata Widjajanto.

Warga menolak pasien dibawa ke rumah sakit diduga setelah termakan isu RS sudah kebanyakan pasien.

Baca Juga: Larang Warganya Isoman di Rumah, Begini Alasan Waki Bupati Bondowoso

Laporan Jatimnet menyebutkan pasien tersebut selanjutnya dirawat di puskesmas dengan fasilitas terbatas. Tidak sampai dua hari, pasien meninggal dunia.

Sesuai protokol kesehatan, petugas puskesmas akan melakukan pemulasaraan jenazah sesuai protokol untuk menghindari penyebaran virus. Namun, keluarga almarhumah menolak, bahkan mereka membawa puluhan orang untuk merebut jenazah.

"Padahal, sebenarnya pemulasaraan bisa diikuti keluarga untuk menghindari kesalahpahaman dengan menggunakan APD lengkap,” kata Widjajanto.

Ketika warga datang ke puskesmas, sepuluh polisi ditambah sejumlah anggota Koramil Pujer didatangkan untuk mengendalikan massa, tetapi mereka kewalahan.

“Semoga tidak terjadi lagi. Karena di masa pandemi ini, setiap pasien Covid harus melewati protokol kesehatan demi keselamatan bersama. Agar tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain juga,” kata Widjajanto.

Komentar