Nama Keturunan Budak seperti Murah, Jinak, Pasrah Boleh Ganti Secara Gratis

Siswanto, BBC

Sabtu, 11 September 2021 | 16:17 WIB
Nama Keturunan Budak seperti Murah, Jinak, Pasrah Boleh Ganti Secara Gratis
BBC

Suara.com - Keturunan budak-budak Afrika mengatakan kepada BBC bahwa mereka akan mengubah nama belakang, setelah kota Utrecht memutuskan untuk membebaskan biaya penggantian nama.

Dewan Kota Utrecht memutuskan untuk menghapus biaya sebesar €835 (sekitar Rp14 juta) dan memangkas birokrasi untuk membantu orang-orang menghapus "nama-nama budak" dan juga mempunyai pilihan untuk mengadopsi nama yang mencerminkan asal usul mereka dari Afrika.

Berdasarkan peraturan yang berlaku di Belanda, bila seseorang mempunyai nama belakang yang dianggap berlebihan misalnya Anus, Garlic atau Naked-born, tidak ada ketentuan untuk menyertakan bukti bahwa nama itu tidak diinginkan.

Namun, jika nama itu berasal dari warisan kolonial Belanda, yang punya nama seringkali harus menjalani tes kejiwaan yang mahal, selain harus membayar biaya perubahan nama.

"Tak benar meminta bayaran uang untuk mengubah nama," kata Linda Nooitmeer, kepala institut nasional untuk sejarah perbudakan Belanda.

Nama belakang Linda sendiri berarti Tidak Pernah Lagi. Walaupun ia cukup senang dengan nama itu karena dipilih oleh para leluhurnya, ia sedang mempertimbangkan untuk mengubahnya. Linda menilai langkah pemerintah kota Utrecht sebagai "bagian dari proses pemulihan, untuk mengembalikan kebebasan dan identitas mereka".

Perbudakan selama tiga abad

Antara tahun 1596 hingga 1829 Belanda mengirimkan lebih dari setengah juta orang Afrika melewati Samudera Atlantik untuk bekerja di perkebunan-perkebunan.

Mereka diperlakukan sebagai objek dan harta milik dan nama mereka dihapus, sebagai bagian dari hal yang oleh Linda Nooitmeer disebut sebagai proses "tak memanusiakan".

"Semuanya dihilangkan. Mereka bagian dari kargo, seperti ternak. Tidak hanya nama, kegiatan ritual, bahasa, identitas, seluruh bukti yang menunjukkan mereka orang Afrika dihapus."

baca juga

Belanda tercatat sebagai salah satu negara terakhir yang menghapuskan perbudakan pada 1863, atau 30 tahun sesudah Inggris menghapuskannya. Sekalipun demikian, para budak Belanda di Suriname, di kawasan Amerika Selatan timur laut, harus menunggu 10 tahun kemudian untuk benar-benar bebas.

Para budak juga dikirim ke Brasil, Haiti, Curaçao dan tempat-tempat lain di Karibia.

Stigma bagi keturunan budak

Budak-budak yang dibebaskan diberi nama-nama palsu, seringkali dikaitkan dengan pemilik budak, perkebunan atau peleburan acak dari kota-kota di Belanda atau kata-kata yang terdengar seperti bahasa Belanda, namun nama belakang Belanda yang umum dilarang digunakan.

Berghout dan Seedorf digunakan sebagai nama, demikian juga dengan Madretsma, ejaan terbalik dari Amsterdam dan Eendragt, nama perkebunan yang berarti harmoni. Nama-nama lain dapat diartikan sebagai Patuh, Murah, Jinak dan Pasrah.

Linda Nooitmeer meyakini nama-nama itu mengingatkan pemiliknya bahwa mereka sebelumnya adalah bawahan, dan rantai perbudakan tidak sepenuhnya dilepaskan.

Ratusan orang mengaku tertarik mengubah nama

Karena ikatan dengan tempat asal sudah lama dihapus, banyak orang mencari asal-usul Afrika mereka guna menemukan nama yang lebih mencerminkan jati diri mereka.

Di antara orang itu adalah Yaw, yang berkunjung ke Ghana. Dan karena sekarang Utrecht menghapus biaya pengubahan nama, pria ini ingin meresmikan nama Yaw, untuk menggantikan nama yang sekarang Guno Mac Intosch.

"Begitu pintu dibuka," katanya sambil menunjuk ke arah balai kota, "Saya akan berada di antrean depan."

Tahun lalu hampir 3.000 orang memilih untuk mengubah nama keluarga, tetapi hanya satu orang yang menyebut alasan konotasi kolonial.

Baca juga:

Janji kota Utrecht untuk menggratiskan biaya dan persyaratan kelengkapan dokumen telah mengundang minat ratusan orang.

"Mungkin tidak persis sama dengan nama leluhur kami," jelas Nooitmeer, "Tetapi nama itu diberikan dengan semangat Afrika. Dan itu benar-benar bermakna untuk memberikannya kepada anak-anak dan keturunan." Nama-nama mereka adalah bagian integral dari identitas mereka, lanjut Linda Nooitmeer.

Setelah era emansipasi, sejumlah orang membentuk koperasi dan membeli perkebunan kapas.

Bagi mereka, mengadopsi nama baru adalah pemberdayaan, karena yang dulunya hak milik orang lain telah berubah menjadi pemilik. Nooitmeer yakin para budak akan memahami mengapa keturunan mereka berusaha menemukan kembali apa yang disebutnya sebagai energi Afrika.

Pameran perbudakan baru-baru ini digelar di Rijksmuseum, Amsterdam, dikurasi oleh kepala bagian sejarah museum nasional itu, Valika Smuelders.

Kami bertemu di Lange Voorhout, Den Haag pusat yang bersejarah, yang menurutnya dibangun dari kekayaan hasil perdagangan budak.

Smuelders berdarah campuran dan keturunan dari budak, pemilik budak dan kontraktor. Namanya mengandung unsur Belanda, Skotlandia dan Portugis. Ia menganggapnya "sarat akan sejarah kolonial".

Baginya, mengubah nama belakang rumit, pilihan pribadi dan kemungkinan tidak akan membuat orang terburu-buru melakukannya di kalangan satu juta orang keturunan budak di Belanda.

"Orang memberikan tanggapan sangat berbeda atas situasi yang terjadi. Jadi bagi sebagian orang, [nama mereka] mungkin saja menjadi sesuatu yang ingin mereka pertahankan," kata dia.

Banyak orang yang mempunyai nama Belanda berencana tidak mengubahnya, karena berbagai penelitian menunjukkan nama yang terdengar asing di Belanda berisiko menimbulkan diskriminasi dalam bidang pendidikan, perumahan atau lapangan kerja.

Putra Yaw mengatakan bahwa nama Skotlandia Mac In Tosch mungkin membukakan pintu baginya di dunia korporasi.

Sambil duduk di balik bayang-bayang tugu peringatan perbudakan di taman Oosterpark yang ramai di Amsterdam, Linda Nooitmeer ingat saat Wali Kota Femke Halsema meminta maaf atas peran dewan kota dalam perdagangan budak.

"Itu benar-benar mempengaruhi saya. Saya tidak membayangkannya bahkan empat tahun lalu, tak pernah. Jadi kami mengalami kemajuan."

Ketika saya berbincang-bincang dengan Yaw di luar balai kota Utrecht, seorang laki-laki datang dan meneriakkan kata-kata berbau rasial: "Anda bukan orang Afrika, hanya karena kulit Anda hitam. Jika Anda berpikir sebagai orang Afrika, pulanglah! Datang ke sini untuk mendapatkan tunjangan."

Orang-orang melirik sampai seorang pria berkulit putih lain turun tangan.

Peristiwa itu mengejutkan tetapi Yaw tetap tenang. Ia memandang Belanda masih dalam perjalanan dan pengakuan atas keinginan warga untuk menghapus nama-nama budak menunjukkan adanya langkah kecil tapi penting.

"Orang Belanda mengaku sebagai orang yang bebas dan negaranya bebas, lalu kita mengalami hal-hal ini, sikap ini," kata Yaw.

Gerakan Black Lives yang menyebar di seluruh dinia, menurutnya, telah membawa perubahan,dan perubahan nama belakang adalah bagian dari proses yang mencerminkan kesadaran lebih tinggi.

"Kami di sini, kami membangun negeri ini, dan kami tidak membiarkan orang mengusir kami dengan alasan kami tidak pantas berada di sini."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Nathan Tjoe-A-On Main Penuh saat Willem II Bungkam Helmond

Nathan Tjoe-A-On Main Penuh saat Willem II Bungkam Helmond

Bola | Rabu, 28 Oktober 2026 | 10:18 WIB

Belanda Kembalikan 20 Barang Curian ke Indonesia: dari Berlian hingga Alquran Kuno

Belanda Kembalikan 20 Barang Curian ke Indonesia: dari Berlian hingga Alquran Kuno

News | Senin, 19 Oktober 2026 | 22:00 WIB

Tawa Puas Pemain Belanda Prank Publik Malaysia, Mengaku Punya 1/4 Darah Melayu

Tawa Puas Pemain Belanda Prank Publik Malaysia, Mengaku Punya 1/4 Darah Melayu

Bola | Sabtu, 17 Oktober 2026 | 17:30 WIB

Pulang dari Belanda ke Jakarta: Kapan Artefak Adat Benar-Benar Merdeka?

Pulang dari Belanda ke Jakarta: Kapan Artefak Adat Benar-Benar Merdeka?

Your Say | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 18:15 WIB

Belanda Untung Rp11 Triliun Lebih dari Perbudakan, Indonesia Pernah Jadi Korban

Belanda Untung Rp11 Triliun Lebih dari Perbudakan, Indonesia Pernah Jadi Korban

News | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:00 WIB

Belanda Tekuk Serbia 2-1, Xavi Soroti Brace Mexx Meerdink dan Umpan Akurat Veerman

Belanda Tekuk Serbia 2-1, Xavi Soroti Brace Mexx Meerdink dan Umpan Akurat Veerman

Bola | Senin, 28 September 2026 | 08:25 WIB

Eropa Diminta Lindungi Mahkamah Pidana Internasional dari Amerika Serikat

Eropa Diminta Lindungi Mahkamah Pidana Internasional dari Amerika Serikat

News | Kamis, 24 September 2026 | 07:32 WIB

Cara Kejam Xavi Hernandez Tak Pilih Eks Pelatih Timnas Indonesia Patrick Kluivert

Cara Kejam Xavi Hernandez Tak Pilih Eks Pelatih Timnas Indonesia Patrick Kluivert

Bola | Rabu, 23 September 2026 | 15:57 WIB

Kasus Dugaan Korupsi Dokter Jantung Belanda Tembus Indonesia, Ada Aliran Dana Jutaan Euro ke Jakarta

Kasus Dugaan Korupsi Dokter Jantung Belanda Tembus Indonesia, Ada Aliran Dana Jutaan Euro ke Jakarta

News | Kamis, 17 September 2026 | 13:34 WIB

Paranoia Kolonial di Tanah Suci: Membedah Politik Haji Pada Masa Penjajahan

Paranoia Kolonial di Tanah Suci: Membedah Politik Haji Pada Masa Penjajahan

Your Say | Senin, 14 September 2026 | 20:45 WIB

Terkini

OJK Bongkar 3 Skandal Besar, Saham BOGA dan PANR Digoreng Habis-habisan

OJK Bongkar 3 Skandal Besar, Saham BOGA dan PANR Digoreng Habis-habisan

Bisnis | Kamis, 05 November 2026 | 07:51 WIB

4 Sleeping Moisturizer Atasi Kulit yang Kering dan Kemerahan Hanya Semalam

4 Sleeping Moisturizer Atasi Kulit yang Kering dan Kemerahan Hanya Semalam

Your Say | Kamis, 05 November 2026 | 07:50 WIB

MARK Siapkan Dana Rp75 Miliar untuk Bagi-bagi Dividen Ini Jadwalnya

MARK Siapkan Dana Rp75 Miliar untuk Bagi-bagi Dividen Ini Jadwalnya

Bisnis | Kamis, 05 November 2026 | 07:48 WIB

KontraS Aceh Kecam Penembakan Warga Saat Maulid di Pidie, Desak Investigasi Independen!

KontraS Aceh Kecam Penembakan Warga Saat Maulid di Pidie, Desak Investigasi Independen!

News | Kamis, 05 November 2026 | 07:44 WIB

Cara Transfer File dari HP Lama ke HP Baru dengan Cepat dan Praktis

Cara Transfer File dari HP Lama ke HP Baru dengan Cepat dan Praktis

Tekno | Kamis, 05 November 2026 | 07:44 WIB

Viral Pendaki Ditandu Naik Gunung Merbabu, Biaya Capai Rp30 Juta

Viral Pendaki Ditandu Naik Gunung Merbabu, Biaya Capai Rp30 Juta

Surakarta | Kamis, 05 November 2026 | 07:44 WIB

Beli HP 5G Rp3,5 Juta Ini Dilengkapi Internet Unlimited Selama 2 Tahun

Beli HP 5G Rp3,5 Juta Ini Dilengkapi Internet Unlimited Selama 2 Tahun

Tekno | Kamis, 05 November 2026 | 07:40 WIB

Apa Itu Makar? Ramai Dibahas Dalam Kasus Penyadapan Prabowo yang Menyeret Eks Kapolri Listyo Sigit

Apa Itu Makar? Ramai Dibahas Dalam Kasus Penyadapan Prabowo yang Menyeret Eks Kapolri Listyo Sigit

News | Kamis, 05 November 2026 | 07:33 WIB

Jokowi akan Tunjukkan Ijazah SD hingga Sarjana UGM di Sidang Roy Suryo Hari Ini!

Jokowi akan Tunjukkan Ijazah SD hingga Sarjana UGM di Sidang Roy Suryo Hari Ini!

News | Kamis, 05 November 2026 | 07:31 WIB

Kritik Pemerintah Tak Berarti Ngebet Ganti Presiden: Salah Kaprah Demokrasi

Kritik Pemerintah Tak Berarti Ngebet Ganti Presiden: Salah Kaprah Demokrasi

Your Say | Kamis, 05 November 2026 | 07:20 WIB

×