Pria Australia Memotong Saluran Spermanya Karena Khawatir Perubahan Iklim

Siswanto, ABC

Selasa, 14 Desember 2021 | 17:03 WIB
Pria Australia Memotong Saluran Spermanya Karena Khawatir Perubahan Iklim
Ilustrasi bumi (pexels.com)

Suara.com - Saat Aaron menceritakan kepada teman-temannya jika ia sudah divasektomi, atau bahasa populernya dikebiri di usia 23 tahun, mereka hanya menanggapinya dengan satu kata.

"Drastis."

Tapi alasan Aaron tidak mau punya anak?

Ia khawatir soal perubahan iklim.

Aaron mengaku khawatir dengan masa depan anak-anaknya dengan planet Bumi yang semakin memanas, meski upaya mengurangi emisi akan terus dilakukan.

"Sangat menakutkan memikirkan bagaimana dunia saat ini dan seperti apa prediksi soal dunia dalam waktu 20 atau 30 tahun mendatang … Saya rasa Bumi bukanlah lagi tempat yang baik untuk membesarkan anak," ujar Aaron kepada program Hack dari ABC Triple J.

"Saya sendiri khawatir dengan masa depan saya, apalagi dengan masa depan generasi selanjutnya."

Aaron sudah melakukan pemesanan untuk prosedur vasektomi sejak ia berusia 21 tahun, tapi saat itu ia masih belum siap sehingga baru dua tahun kemudian ia melakukannya.

Vasektomi adalah prosedur yang memotong saluran air sperma dari bawah buah zakar sampai ke kantong sperma.

baca juga

Sebelum melakukan operasi, dokternya bertanya banyak hal.

"Dia cukup terkejut, karena mayoritas pasien yang ingin melakukannya adalah pria yang sudah memiliki anak di usia 40-an atau lebih," cerita Aaron.

 "Tapi akhirnya dia senang kalau ini adalah keputusan saya sendiri dan sudah dipikirkan cukup lama."

Dua alasan besar yang berpengaruh

Keputusan Aaron untuk tidak punya anak akibat perubahan iklim mungkin sebuah langkah yang ekstrem.

Tapi menurut Matthew Schneider Mayerson, profesor Studi Lingkungan di Yale NUS College di Singapura, banyak orang yang berpikir untuk melakukan hal yang sama.

Profesor Matthew pernah meneliti masalah iklim reproduksi, sebuah studi akademis pertama tentang masalah ini.

Studi tersebut menemukan ada dua alasan utama mengapa perubahan iklim memengaruhi keputusan mereka soal memiliki anak.

Alasan utamanya adalah ketakutan akan masa depan dunia yang akan dihadapi generasi berikutnya dengan iklim yang berubah.

"Mereka berpikir perubahan iklim yang cepat, kemungkinan adanya hal-hal yang lebih buruk dalam beberapa dekade mendatang terlepas dari upaya yang sedang kita lakukan, hingga rasa pesimis tentang kemampuan kita untuk menanggapi perubahan iklim, akan tetap membuat anak-anak menderita," jelasnya.

Alasan kedua, orang berpikir dengan memiliki anak akan menambah 'carbon footprint', atau jejak karbon, yang akan berdampak lebih banyak pada perubahan iklim.

Profesor Matthew juga mengatakan tidak mengherankan jika banyak orang memasukkan masalah perubahan iklim dalam rencana jangka panjang hidup mereka.

"Sekarang karena krisis iklim makin memburuk, saya rasa membuat orang-orang semakin mempertimbangkannya dalam mengambil keputusan hidup, soal di mana mereka ingin tinggal, pekerjaan seperti apa yang ingin mereka lakukan, dan tentu saja tentang apakah mereka ingin memiliki anak dan berapa banyak."

Mereka yang yakin soal masa depan

Tetapi tidak semua orang merasakan yang hal yang sama, termasuk mereka yang setiap harinya bekerja untuk mengurangi dampak perubahan iklim.

Ketan Joshi adalah seorang penulis dan analis data yang bekerja di bidang perubahan iklim dan energi yang memiliki dua orang anak.

Ketan merasa yakin masih ada waktu untuk memastikan generasi masa depan memiliki kehidupan yang aman dan inilah yang menjadi fokusnya.

"Saya rasa ini bukanlah perubahan yang tidak bisa dihindari, tapi bukan juga berarti tidak bisa diubah atau tidak ada solusinya," ujar Ketan.

"Perubahan iklim bukanlah sesuatu yang sudah pasti … kalaupun sudah pasti, rasanya bukan jadi pembenaran untuk tidak punya anak di masa depan."

Ketan malah lebih khawatir kalau kita malah terfokus pada pilihan pribadi dan membiarkan Pemerintah atau pelaku industri tidak melakukan apa-apa.

"Yang membuat saya marah adalah ketika ada pihak berwenang, di perusahaan dan di pemerintahan yang mengambil keputusan gegabah seperti mereka yang memutuskan untuk tidak mau punya anak."

'Hal yang bisa saya kendalikan'

Aaron, kini berusia 24 tahun, mengakui keputusannya untuk menjalani vasektomi terlalu drastis bagi kebanyakan orang.

"Saya sadar tidak semua orang perlu mengambil langkah yang sama. Saya tidak mengharapkan atau tidak ingin setiap orang di planet ini kemudian melakukan vasektomi, karena belum tentu baik untuk semua orang."

"Tapi saya punya kekuatan dan hak untuk membuat keputusan ini dalam hidup saya. Dan saya merasa berdaya untuk melakukannya."

"Dalam memerangi perubahan iklim ada yang banyak memiliki kendali, ada yang tidak. Dan keputusan ini adalah hal yang bisa saya kendalikan."

Ketan merasa tak ada kata terlambat untuk menghentikan perubahan iklim, tapi Aaron punya sudut pandang berbeda.

"Masa depan yang baik bisa jadi terjadi. Tetapi saya sadar untuk kita bisa sampai ke sana harus ada pengorbanan."

"Ini bisa berupa pengorbanan ekonomi atau pengorbanan pribadi. Dan keputusan [vasektomi] ini adalah pengorbanan pribadi yang ingin saya lakukan."

Artikel ini diproduksi oleh Erwin Renaldi dari laporannya dalam bahasa Inggris

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pemerintahan Prabowo Dorong Investasi Hijau dan Ketahanan Energi di PBB

Pemerintahan Prabowo Dorong Investasi Hijau dan Ketahanan Energi di PBB

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 22:57 WIB

Studi Ungkap Emosi soal Perubahan Iklim Tak Otomatis Ubah Perilaku, Mengapa?

Studi Ungkap Emosi soal Perubahan Iklim Tak Otomatis Ubah Perilaku, Mengapa?

Lifestyle | Selasa, 22 September 2026 | 13:30 WIB

Salju Abadi Terakhir di Papua Terus Menyusut, Kini Tinggal 2 Persen dari Luas 1988

Salju Abadi Terakhir di Papua Terus Menyusut, Kini Tinggal 2 Persen dari Luas 1988

News | Jum'at, 18 September 2026 | 11:30 WIB

Media Eropa Gambarkan Kengerian Krakatau Meletus: Tahun 1883 Bikin Dunia Dingin, 2018 Tsunami

Media Eropa Gambarkan Kengerian Krakatau Meletus: Tahun 1883 Bikin Dunia Dingin, 2018 Tsunami

News | Selasa, 08 September 2026 | 10:22 WIB

Paradoks Nepal, Emisi Karbon Rendah Tapi Jadi Korban Perubahan Iklim

Paradoks Nepal, Emisi Karbon Rendah Tapi Jadi Korban Perubahan Iklim

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 11:30 WIB

Banjir Bandang Nepal: Penjelasan Runtuhan Gletser, Benarkah Dampak Nyata Perubahan Iklim?

Banjir Bandang Nepal: Penjelasan Runtuhan Gletser, Benarkah Dampak Nyata Perubahan Iklim?

News | Kamis, 27 Agustus 2026 | 18:12 WIB

Ikan Kiamat Muncul di Lombok Usai Gempa NTT, Pakar Singgung Dampak Perubahan Iklim

Ikan Kiamat Muncul di Lombok Usai Gempa NTT, Pakar Singgung Dampak Perubahan Iklim

News | Rabu, 26 Agustus 2026 | 16:59 WIB

Hadapi Perubahan Iklim, BRIN Dorong Riset Kelautan Indonesia-Tiongkok

Hadapi Perubahan Iklim, BRIN Dorong Riset Kelautan Indonesia-Tiongkok

News | Rabu, 26 Agustus 2026 | 14:16 WIB

Karhutla Kembali Kepung Kalimantan, Ini Dampaknya bagi Iklim

Karhutla Kembali Kepung Kalimantan, Ini Dampaknya bagi Iklim

Your Say | Minggu, 23 Agustus 2026 | 18:35 WIB

Gelombang Panas Laut Makin Sering Terjadi, Apa Dampaknya bagi Ekosistem dan Masyarakat Pesisir?

Gelombang Panas Laut Makin Sering Terjadi, Apa Dampaknya bagi Ekosistem dan Masyarakat Pesisir?

News | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 19:50 WIB

Terkini

Gaya Hidup Deputi II Bakom Timothy Ivan Triyono Disorot, Terseret Dugaan Skandal Rp1,5 Miliar

Gaya Hidup Deputi II Bakom Timothy Ivan Triyono Disorot, Terseret Dugaan Skandal Rp1,5 Miliar

News | Jum'at, 25 September 2026 | 19:38 WIB

Warga Eks Bantaran Rel Pasar Gaplok Ingin Huntara Senen Jadi Tempat Tinggal Tetap

Warga Eks Bantaran Rel Pasar Gaplok Ingin Huntara Senen Jadi Tempat Tinggal Tetap

News | Jum'at, 25 September 2026 | 19:37 WIB

Starting XI Timnas Indonesia vs Singapura: Trisula Lini Depan Romeny, Baker, Vickery

Starting XI Timnas Indonesia vs Singapura: Trisula Lini Depan Romeny, Baker, Vickery

Bola | Jum'at, 25 September 2026 | 19:31 WIB

Korea Selatan Libatkan Warga Lawan Deepfake, Indonesia Bisa Belajar Apa?

Korea Selatan Libatkan Warga Lawan Deepfake, Indonesia Bisa Belajar Apa?

Your Say | Jum'at, 25 September 2026 | 19:30 WIB

Cara Dapat Merchandise Eksklusif Pestapora 2026 dari BRI

Cara Dapat Merchandise Eksklusif Pestapora 2026 dari BRI

Bri | Jum'at, 25 September 2026 | 19:10 WIB

Korps Kadet RI di Sekolah: Perlukah Bela Negara Jadi Ekstrakurikuler?

Korps Kadet RI di Sekolah: Perlukah Bela Negara Jadi Ekstrakurikuler?

Your Say | Jum'at, 25 September 2026 | 19:10 WIB

Pemerintah Siapkan Teknologi Anyar Pemburu Truk ODOL di Jalan

Pemerintah Siapkan Teknologi Anyar Pemburu Truk ODOL di Jalan

Otomotif | Jum'at, 25 September 2026 | 19:10 WIB

Temuan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong, Sahroni Desak Aparat Usut Tuntas

Temuan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong, Sahroni Desak Aparat Usut Tuntas

News | Jum'at, 25 September 2026 | 19:08 WIB

Vonis Nadiem Makarim Didiskon Jadi 9 Tahun, Kejagung Bakal Ajukan Kasasi?

Vonis Nadiem Makarim Didiskon Jadi 9 Tahun, Kejagung Bakal Ajukan Kasasi?

News | Jum'at, 25 September 2026 | 19:02 WIB

Kulit Durian Tak Lagi Jadi Sampah, Kini Bisa Menyala Jadi Bahan Bakar

Kulit Durian Tak Lagi Jadi Sampah, Kini Bisa Menyala Jadi Bahan Bakar

Lifestyle | Jum'at, 25 September 2026 | 19:00 WIB

×