facebook
abcaustralia

Pria Australia Memotong Saluran Spermanya Karena Khawatir Perubahan Iklim

Siswanto | ABC
Pria Australia Memotong Saluran Spermanya Karena Khawatir Perubahan Iklim
Ilustrasi bumi (pexels.com)

Aaron mengaku khawatir dengan masa depan anak-anaknya dengan planet Bumi yang semakin memanas, meski upaya mengurangi emisi akan terus dilakukan.

Suara.com - Saat Aaron menceritakan kepada teman-temannya jika ia sudah divasektomi, atau bahasa populernya dikebiri di usia 23 tahun, mereka hanya menanggapinya dengan satu kata.

"Drastis."

Tapi alasan Aaron tidak mau punya anak?

Ia khawatir soal perubahan iklim.

Baca Juga: Sri Mulyani Ingatkan Pertamina Soal Perubahan Iklim

Aaron mengaku khawatir dengan masa depan anak-anaknya dengan planet Bumi yang semakin memanas, meski upaya mengurangi emisi akan terus dilakukan.

"Sangat menakutkan memikirkan bagaimana dunia saat ini dan seperti apa prediksi soal dunia dalam waktu 20 atau 30 tahun mendatang … Saya rasa Bumi bukanlah lagi tempat yang baik untuk membesarkan anak," ujar Aaron kepada program Hack dari ABC Triple J.

"Saya sendiri khawatir dengan masa depan saya, apalagi dengan masa depan generasi selanjutnya."

Aaron sudah melakukan pemesanan untuk prosedur vasektomi sejak ia berusia 21 tahun, tapi saat itu ia masih belum siap sehingga baru dua tahun kemudian ia melakukannya.

Vasektomi adalah prosedur yang memotong saluran air sperma dari bawah buah zakar sampai ke kantong sperma.

Baca Juga: Klaim Siap Atasi Perubahan Iklim, Jokowi Mau Pamer Hutan Mangrove di Bali ke KTT G20

Sebelum melakukan operasi, dokternya bertanya banyak hal.

"Dia cukup terkejut, karena mayoritas pasien yang ingin melakukannya adalah pria yang sudah memiliki anak di usia 40-an atau lebih," cerita Aaron.

 "Tapi akhirnya dia senang kalau ini adalah keputusan saya sendiri dan sudah dipikirkan cukup lama."

Dua alasan besar yang berpengaruh

Keputusan Aaron untuk tidak punya anak akibat perubahan iklim mungkin sebuah langkah yang ekstrem.

Tapi menurut Matthew Schneider Mayerson, profesor Studi Lingkungan di Yale NUS College di Singapura, banyak orang yang berpikir untuk melakukan hal yang sama.

Profesor Matthew pernah meneliti masalah iklim reproduksi, sebuah studi akademis pertama tentang masalah ini.

Studi tersebut menemukan ada dua alasan utama mengapa perubahan iklim memengaruhi keputusan mereka soal memiliki anak.

Alasan utamanya adalah ketakutan akan masa depan dunia yang akan dihadapi generasi berikutnya dengan iklim yang berubah.

"Mereka berpikir perubahan iklim yang cepat, kemungkinan adanya hal-hal yang lebih buruk dalam beberapa dekade mendatang terlepas dari upaya yang sedang kita lakukan, hingga rasa pesimis tentang kemampuan kita untuk menanggapi perubahan iklim, akan tetap membuat anak-anak menderita," jelasnya.

Alasan kedua, orang berpikir dengan memiliki anak akan menambah 'carbon footprint', atau jejak karbon, yang akan berdampak lebih banyak pada perubahan iklim.

Profesor Matthew juga mengatakan tidak mengherankan jika banyak orang memasukkan masalah perubahan iklim dalam rencana jangka panjang hidup mereka.

"Sekarang karena krisis iklim makin memburuk, saya rasa membuat orang-orang semakin mempertimbangkannya dalam mengambil keputusan hidup, soal di mana mereka ingin tinggal, pekerjaan seperti apa yang ingin mereka lakukan, dan tentu saja tentang apakah mereka ingin memiliki anak dan berapa banyak."

Mereka yang yakin soal masa depan

Tetapi tidak semua orang merasakan yang hal yang sama, termasuk mereka yang setiap harinya bekerja untuk mengurangi dampak perubahan iklim.

Ketan Joshi adalah seorang penulis dan analis data yang bekerja di bidang perubahan iklim dan energi yang memiliki dua orang anak.

Ketan merasa yakin masih ada waktu untuk memastikan generasi masa depan memiliki kehidupan yang aman dan inilah yang menjadi fokusnya.

"Saya rasa ini bukanlah perubahan yang tidak bisa dihindari, tapi bukan juga berarti tidak bisa diubah atau tidak ada solusinya," ujar Ketan.

"Perubahan iklim bukanlah sesuatu yang sudah pasti … kalaupun sudah pasti, rasanya bukan jadi pembenaran untuk tidak punya anak di masa depan."

Ketan malah lebih khawatir kalau kita malah terfokus pada pilihan pribadi dan membiarkan Pemerintah atau pelaku industri tidak melakukan apa-apa.

"Yang membuat saya marah adalah ketika ada pihak berwenang, di perusahaan dan di pemerintahan yang mengambil keputusan gegabah seperti mereka yang memutuskan untuk tidak mau punya anak."

'Hal yang bisa saya kendalikan'

Aaron, kini berusia 24 tahun, mengakui keputusannya untuk menjalani vasektomi terlalu drastis bagi kebanyakan orang.

"Saya sadar tidak semua orang perlu mengambil langkah yang sama. Saya tidak mengharapkan atau tidak ingin setiap orang di planet ini kemudian melakukan vasektomi, karena belum tentu baik untuk semua orang."

"Tapi saya punya kekuatan dan hak untuk membuat keputusan ini dalam hidup saya. Dan saya merasa berdaya untuk melakukannya."

"Dalam memerangi perubahan iklim ada yang banyak memiliki kendali, ada yang tidak. Dan keputusan ini adalah hal yang bisa saya kendalikan."

Ketan merasa tak ada kata terlambat untuk menghentikan perubahan iklim, tapi Aaron punya sudut pandang berbeda.

"Masa depan yang baik bisa jadi terjadi. Tetapi saya sadar untuk kita bisa sampai ke sana harus ada pengorbanan."

"Ini bisa berupa pengorbanan ekonomi atau pengorbanan pribadi. Dan keputusan [vasektomi] ini adalah pengorbanan pribadi yang ingin saya lakukan."

Artikel ini diproduksi oleh Erwin Renaldi dari laporannya dalam bahasa Inggris

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar