Amarah Warga Kehilangan Anggota Keluarga Setelah Tentara Salah Tembak

Siswanto, BBC

Jum'at, 17 Desember 2021 | 14:01 WIB
Amarah Warga Kehilangan Anggota Keluarga Setelah Tentara Salah Tembak
BBC

Suara.com - Sekelompok perempuan duduk, muram dan diam, di luar sebuah gubuk jerami di sebuah desa di Negara Bagian Nagaland, timur laut India.

Di dalam, seorang perempuan muda yang baru saja menikah 10 hari yang lalu, menangis.

"Siapa yang akan menjaga saya sekarang?" tanya Monglong, 25 tahun.

Suaminya, Hokup Konyak, adalah salah satu dari enam orang yang tewas awal bulan ini di Distrik Mon, dekat perbatasan Myanmar, ketika pasukan keamanan India menembaki sekelompok buruh tambang batu bara yang baru pulang kerja.

Baca juga:

Delapan warga sipil lainnya tewas setelah pasukan menembaki pengunjuk rasa yang marah dan menyerang kamp tentara. Seorang tentara juga tewas dalam bentrokan itu.

Ini adalah peristiwa kekerasan paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir di Nagaland, yang sudah lama diguncang oleh pemberontakan yang dipimpin oleh kelompok-kelompok militan setempat.

Menteri Dalam Negeri India, Amit Shah, telah menyatakan "kesedihan mendalam" atas pembunuhan tersebut.

Namun pernyataan Shah di parlemen, bahwa tentara menembak karena truk yang membawa penduduk desa berusaha untuk tancap gas ketika diminta untuk berhenti, telah membuat para pengunjuk rasa semakin marah.

baca juga

Mereka menuduh patroli tentara menghentikan truk dan dengan sengaja membunuh orang-orang itu.

Tentara telah menyatakan bahwa operasi yang gagal itu adalah hasil dari "kekeliruan identitas", dan bahwa mereka menyangka penduduk desa itu sebagai pemberontak.

Dewan desa Distrik Mon mengorganisir demonstrasi besar-besaran pekan lalu, menuntut permintaan maaf dari sang menteri atas klaimnya yang "keliru".

Kemarahan itu tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.

Naga Hoho, dewan pemimpin tertinggi masyarakat adat Naga, memperingatkan bahwa aksi protes saat ini akan semakin keras sampai tuntutan mereka terpenuhi.

"Kami ingin komisi independen menyelidiki pembunuhan berdarah dingin itu terhadap anak-anak kami yang tidak bersalah. Pemerintah tidak dapat terus membuat kami menunggu," kata HK Zhimoni, kepala Naga Hoho, kepada BBC.

Pemerintah dan tentara telah memerintahkan penyelidikan terpisah atas insiden tersebut.

Para pengunjuk rasa juga menuntut permintaan maaf dari pemerintah atas pembunuhan itu, serta pencabutan Undang-Undang Kekuatan Khusus Angkatan Bersenjata (AFSPA).

Kelompok-kelompok etnis di timur laut India sudah lama menentang UU itu - undang-undang federal kontroversial yang memberi tentara kekuatan besar, termasuk perlindungan dari penuntutan bagi tentara yang secara keliru membunuh warga sipil.

Undang-undang tersebut telah disalahkan atas "pembunuhan palsu" dan para pegiat mengatakan aturan itu sering disalahgunakan.

Seruan untuk mencabut AFSPA digaungkan oleh badan hak asasi manusia Human Rights Watch, dan menteri utama Nagaland serta Negara Bagian Meghalaya di dekatnya.

Bahkan para pemimpin Partai Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa di India, dan merupakan mitra koalisi di pemerintah Nagaland, setuju.

"Pasukan keamanan seharusnya melindungi manusia. Kami ingin mengatakan kepada menteri dalam negeri India Shah bahwa undang-undang AFSPA yang kejam ini tidak profesional, berdasarkan masukan intelijen yang tidak profesional, serta kegagalan total," kata Hosea Konyak, seorang pemimpin senior BJP dari distrik Mon.

Desa Oting tempat Mon tinggal - rumah bagi 12 dari 14 warga sipil yang tewas dalam insiden tersebut - tengah semangat-semangatnya mempersiapkan Natal ketika tragedi itu terjadi.

Semua toko di daerah itu kini tutup sebagai bentuk protes. Gereja lokal, dihiasi dengan bintang Natal, tampak sepi.

Anggota keluarga Langwang dan Thapwang - kembar berusia 25 tahun di antara buruh tambang yang tewas - mengatakan mereka hanya ingin dua saudara itu kembali.

"Kakak-kakak saya menafkahi kami berdelapan dengan pendapatan mereka. Sekarang mereka berbaring di kuburan, karena ulah tentara," kata adik laki-laki mereka, Nenwang, yang kehilangan penglihatan di mata kanannya setelah kecelakaan di masa kecil.

Setiap orang di komunitas yang erat itu punya cerita.

Tingai Konyak, seorang pengusaha lokal, mengatakan ia melakukan perjalanan setiap hari dengan rute yang sama dengan para penambang.

Tetapi pada hari penembakan, ia memutuskan untuk mengambil jalan memutar karena hari sudah gelap.

"Sekitar pukul tujuh malam, keluarga saya menelepon untuk menanyakan apakah saya mendengar suara tembakan. Saya akan sudah mati jika bukan karena jalan memutar," katanya.

Monglong, si pengantin muda, masih syok. Dia menunggu berjam-jam malam itu, berharap suaminya akan kembali.

Ketika ia menghubungi ponsel suaminya, seorang kawannya menjawab dan mengatakan kepadanya bahwa Hokup sedang dibawa ke rumah sakit.

"Saya bersikeras ingin bicara dengannya, tapi dia hampir tidak bisa melakukannya. Satu jam kemudian, semuanya berakhir," katanya.

Para penduduk desa sekarang berdoa untuk pemulihan cepat bagi dua orang yang selamat dari penembakan itu dan saat ini masih dirawat di rumah sakit.

Salah satu dari dua pria itu mengatakan kepada surat kabar The Indian Express bahwa pasukan keamanan menembak lurus ke arah mereka, tanpa memberikan sinyal untuk berhenti.

Pemerintah federal telah mengumumkan kompensasi masing-masing 1,6 juta rupee (sekitar Rp300 juta) kepada keluarga para korban. Tapi penduduk desa Oting menolak tawaran itu.

Mulai turun gerimis saat kami memulai perjalanan panjang kami pulang dari desa.

Tiba-tiba, seorang perempuan muda dengan bayi di lengannya berlari mengejar kami.

"Jika tentara dapat membunuh suami saya tanpa alasan, mereka harus datang ke sini dan mengadopsi anak saya juga," teriak Ngamlem, 29 tahun.

Suaranya bergema di telinga kami saat kami menuruni bukit.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terkini

KPK Bongkar Dugaan Setoran Upah Pungut ke Bupati Klaten, Nilainya Rp280 Juta

KPK Bongkar Dugaan Setoran Upah Pungut ke Bupati Klaten, Nilainya Rp280 Juta

News | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 22:24 WIB

Sinopsis Film Pirunduk, Saat Aulia Sarah Terjerat Ilmu Hitam demi Menaklukkan Suami

Sinopsis Film Pirunduk, Saat Aulia Sarah Terjerat Ilmu Hitam demi Menaklukkan Suami

Entertainment | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 22:04 WIB

Pertalite Makin Menipis! Bahlil Ungkap Stok BBM Subsidi Tinggal 16-18 Hari

Pertalite Makin Menipis! Bahlil Ungkap Stok BBM Subsidi Tinggal 16-18 Hari

Video | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 22:00 WIB

KPK Ungkap Bupati Klaten Diduga Terima Fee Proyek Rp2,14 Miliar, Uangnya untuk Bayar Utang Pilkada

KPK Ungkap Bupati Klaten Diduga Terima Fee Proyek Rp2,14 Miliar, Uangnya untuk Bayar Utang Pilkada

News | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 21:51 WIB

66 Daerah Belum Punya RS Tipe C, Pasien Kanker Berisiko Harus Berobat Jauh

66 Daerah Belum Punya RS Tipe C, Pasien Kanker Berisiko Harus Berobat Jauh

Jogja | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 21:48 WIB

OTT Muara Enim Bikin Suap Rp400 Juta Bupati Klaten Tertunda, Temuan Audit Tetap Dihapus

OTT Muara Enim Bikin Suap Rp400 Juta Bupati Klaten Tertunda, Temuan Audit Tetap Dihapus

News | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 21:44 WIB

Perubahan Iklim Ancam Kehidupan, Generasi Muda Punya Peran Besar Selamatkan Masa Depan

Perubahan Iklim Ancam Kehidupan, Generasi Muda Punya Peran Besar Selamatkan Masa Depan

Lifestyle | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 21:18 WIB

Kabut Asap Selimuti Sumut, Semua Sekolah Terapkan PJJ hingga 21 Oktober

Kabut Asap Selimuti Sumut, Semua Sekolah Terapkan PJJ hingga 21 Oktober

Sumut | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 21:18 WIB

Rehabilitasi 121 Faskes Pascabencana Sumatera Dikebut, Progres Capai 74,4 Persen

Rehabilitasi 121 Faskes Pascabencana Sumatera Dikebut, Progres Capai 74,4 Persen

News | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 21:15 WIB

Teknologi Flash Charging BYD Bisa Digunakan Mobil Listrik Merek Lain, Ada Tapinya...

Teknologi Flash Charging BYD Bisa Digunakan Mobil Listrik Merek Lain, Ada Tapinya...

Otomotif | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 21:10 WIB

×