Warga Rusia Kehilangan Pekerjaan karena Menentang Perang

Siswanto | BBC | Suara.com

Selasa, 22 Maret 2022 | 16:34 WIB
Warga Rusia Kehilangan Pekerjaan karena Menentang Perang
BBC

Suara.com - Bagi guru geografi berusia 28 tahun, Kamran Manafly, segalanya bermula dari sebuah unggahan di Instagram. "Saya tidak mau menjadi cerminan propaganda negara," tulisnya di situs media sosial tersebut, beberapa hari sebelum tulisan itu dilarang di Rusia.

"Saya punya pendapat sendiri! Banyak guru begitu. Dan tahu tidak? Itu tidak sama dengan pendapat Negara."

Manafly tak bisa menahan dorongan untuk menulis komentar tersebut setelah pertemuan staf di sekolah menengah tempat ia mengajar di pusat kota Moskow. Dalam pertemuan itu, ia dan rekan-rekannya diberi tahu bagaimana cara berbicara dengan murid-murid mereka tentang situasi di Ukraina - supaya tidak menyimpang dari posisi pemerintah.

Dua jam setelah mengunggah, ia ditelepon kepala sekolah yang menyuruhnya untuk segera menghapus unggahan itu, atau ia akan kehilangan pekerjaannya.

"Saya tidak mau menghapusnya," kata Manafly kepada BBC. "Saya langsung tahu tidak ada gunanya berdebat, jadi saya pikir langkah yang terbaik adalah mengundurkan diri."

Baca juga:

https://www.instagram.com/p/Ca2ISadqMO6/?utm_medium=copy_link


Ketika ia tiba di sekolah keesokan hari untuk mengambil barang-barangnya dan menandatangani surat pengunduran diri, ia dilarang masuk ke area sekolah.

"Mereka mengatakan dapat perintah untuk tidak membiarkan saya masuk. Anak-anak mulai turun ke jalan untuk mendukung saya, mengucapkan selamat tinggal dan sebagainya. Kemudian seseorang menelepon polisi dan mengatakan saya mengadakan unjuk rasa tanpa izin."

Video yang dilihat oleh BBC menunjukkan anak-anak berkerumun di sekitar Manafly, bertepuk tangan, tersenyum, dan mengucapkan selamat tinggal.

Manafly akhirnya bisa mengambil barang-barangnya, dan keesokan harinya ia bertemu dengan kepala sekolah, yang meminta penjelasan resmi tentang alasan ia mengungkapkan pandangan politiknya di media sosial. Ia menolak memberi penjelasan, dan memang sudah berniat untuk mengundurkan diri, tetapi ia diberi tahu bahwa situasinya telah berubah, dan ia akan dipecat.

"Dua hari kemudian, saya diberi tahu bahwa saya telah dipecat karena perilaku tidak bermoral di tempat kerja," kata Manafly. "Bagi saya, yang paling aneh ialah mereka menganggap ekspresi pendapat pribadi sebagai 'tidak bermoral'."

Kepala sekolah tidak menanggapi permintaan komentar, tetapi dalam pesan WhatsApp yang dilihat oleh BBC, orang tua di sekolah diberitahu bahwa unggahan Manafly di media sosial telah melanggar perjanjian kerja dengan atasannya, yang ia bantah.


Rusia menyerang Ukraina:


Penumpasan 'informasi palsu'

Sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari, ribuan warga Rusia, terutama di Kota Moskow dan St Petersburg, menyatakan penentangan mereka terhadap hal yang disebut Kremlin "operasi militer khusus" dengan menandatangani petisi, memposting di media sosial, atau turun ke jalanan untuk bergabung dengan unjuk rasa anti-perang.

Negara lalu merespons dengan tangan besi, menahan ribuan pengunjuk rasa dan memberlakukan undang-undang baru yang membuat penyebar 'informasi palsu' tentang militer Rusia dapat dihukum hingga 15 tahun penjara.

Namun, kiriman Instagram Manafly tidak melanggar undang-undang tersebut, menurut surat kabar Rusia Novaya Gazeta, yang merasa dapat mempublikasikannya secara penuh bahkan setelah peraturan baru itu mulai berlaku.


Meskipun risikonya semakin besar, bagi Katya Dolinina, invasi Ukraina adalah saat ia merasa tidak bisa diam lagi. Biasanya, sebagai manajer dua bioskop di jaringan bioskop Moskino yang berafiliasi dengan Negara, Dolinina cenderung menyimpan pandangan politiknya untuk diri sendiri.

"Saya suka pekerjaan saya, saya menikmatinya. Saya tidak ingin kehilangan pekerjaan itu," katanya kepada BBC, menjelaskan alasan ia tidak ambil bagian dalam protes sebelumnya terhadap pemerintah.

Tetapi ketika perang dimulai, sikapnya berubah. Ketika kawan-kawannya sesama pekerja di sektor budaya mengirimkan surat terbuka terhadap hal yang disebut pemerintah Rusia sebagai "operasi khusus", ia tidak ragu untuk menambahkan namanya.

"Saya setuju dengan pendapat bahwa operasi ini harus segera dihentikan, bahwa ini tidak baik-baik saja," katanya.

Segera setelah menandatangani surat itu, Dolinina ditelepon oleh bosnya. Ia harus segera menghapus namanya dari surat itu, atau mengundurkan diri. Jika ia menolak untuk melakukan keduanya, ia akan dipecat. Moskino tidak menanggapi permintaan komentar dari BBC.

"Saya merasa itu tidak penting lagi. Saya tidak tahu bagaimana saya akan bekerja jika mereka tidak meminta saya untuk mengundurkan diri. Setelah operasi khusus ini dimulai, saya tidak merasakan motivasi untuk melakukan apa pun yang tidak terkait dengannya," ujarnya.

Dolinina pun mengundurkan diri tanpa ribut-ribut, katanya, karena ia khawatir bosnya akan menemukan dalih untuk memecatnya, yang akan menyebabkan lebih banyak masalah di masa depan.

Seluruh proses pengunduran dirinya hanya butuh waktu beberapa jam, dan suasana pada pertemuan terakhir dengan manajernya berlangsung ramah - mereka mengatakan kepada Dolinina bahwa mereka sedih melihatnya pergi, meskipun ia sekarang bertanya-tanya apakah itu hanya upaya untuk menghindari konflik.

Tetapi bagi Anna Levadnaya, seorang dokter anak dan pemengaruh dengan lebih dari dua juta pengikut di Instagram, pertemuan saat ia mengetahui harus mengundurkan diri jauh dari ramah.

Ia sedang berlibur ke luar negeri ketika invasi Ukraina dimulai. Hari itu, ia mengunggah foto di Instagram dari jendela pesawat terbang, disertai gambar merpati perdamaian.

"Saya tidak memilih agresi," tulisnya. "Saya takut akan [nasib] kita semua." Ia menjelaskan akar keluarganya dari Ukraina, dan meminta supaya "neraka ini" berakhir sesegera mungkin.

Dengan pengikut yang begitu besar di Instagram, unggahan itu tidak mungkin luput dari perhatian tempat kerjanya, sebuah pusat medis besar yang dikelola Negara di Moskow.

Beberapa hari kemudian, Levadnaya, yang masih di luar negeri, mendengar dari rekan-rekannya bahwa direktur pusat medis mengecam komentar anti-perangnya selama rapat pagi di hadapan lebih dari 100 rekannya. Ia menerima rekaman video dari acara tersebut.

"Itu mempermalukan saya di depan publik," kata Levadnaya kepada BBC. "Mereka dengan gamblang mengatakan bahwa seseorang yang tidak mendukung tujuan pemerintah seharusnya tidak bekerja di lembaga yang dikelola negara."

Direktur memberikan pidato, selama beberapa menit, yang menjelaskan bahwa jika Levadnaya mendapat informasi yang lebih baik tentang peristiwa dunia, ia akan mendukung "operasi khusus" Rusia. Segera setelah itu, ia diperintahkan untuk menulis surat pengunduran diri, dan jika menolak ia akan dipecat.

Suratnya terdiri dari hanya satu kalimat, menjelaskan dengan singkat bahwa ia "tidak mungkin untuk melanjutkan pekerjaannya".

Dalam unggahan-unggahan di media sosialnya, Levadnaya menjelaskan isu-isu medis terkini dengan cara yang menarik dan masuk akal bagi para audiens. Ia telah belajar untuk hidup dengan para troll dan komentar marah warganet, katanya, tetapi invasi Ukraina membawanya ke level yang berbeda.

"Bahkan vaksin Covid yang menciptakan begitu banyak perselisihan, tidak menyebabkan kebencian di antara masyarakat seperti perang ini. Ada perpecahan besar dalam masyarakat sekarang, karena semua orang hanya percaya kebenaran mereka sendiri."

Banyak yang menemukan diri mereka di sisi yang berlawanan dengan pihak Negara dalam perpecahan itu mengalami hidup mereka berubah 180 derajat karena perang di Ukraina. Beberapa kehilangan pekerjaan, yang lain mengundurkan diri sebagai protes. Ikatan keluarga telah menjadi tegang, seringkali di sepanjang garis generasi.

Bagi Kamran Manafly dan ribuan lainnya, satu-satunya pilihan adalah meninggalkan negara itu. Tetapi tidak semua orang bisa, atau ingin, untuk mengambil langkah itu.

"Tidak setiap orang Rusia yang tidak setuju dengan propaganda Kremlin dapat meninggalkan negara ini," kata Katya Dolinina. "Kami masih di sini. Kami masih punya harapan. Kami berusaha untuk tidak menyerah.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Minyak Mentah Rusia Segera Masuk RI, Bahlil Pastikan Stok BBM Nasional Aman

Minyak Mentah Rusia Segera Masuk RI, Bahlil Pastikan Stok BBM Nasional Aman

Bisnis | Sabtu, 02 Mei 2026 | 18:52 WIB

Temui Menlu Iran, Putin Sebut Siap Mediasi Konflik di Timur Tengah

Temui Menlu Iran, Putin Sebut Siap Mediasi Konflik di Timur Tengah

Video | Rabu, 29 April 2026 | 19:00 WIB

Kedubes Rusia Sampaikan Duka atas Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

Kedubes Rusia Sampaikan Duka atas Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

News | Rabu, 29 April 2026 | 19:44 WIB

Ukraina Tuduh Israel Bantu Perdagangan Gandum Curian Rusia

Ukraina Tuduh Israel Bantu Perdagangan Gandum Curian Rusia

News | Rabu, 29 April 2026 | 10:36 WIB

Abbas Araghchi Jumpa Putin, Rusia Buka Peluang Jadi Mediator Iran-AS

Abbas Araghchi Jumpa Putin, Rusia Buka Peluang Jadi Mediator Iran-AS

News | Selasa, 28 April 2026 | 09:46 WIB

Kapal Mewah Rp8 T Milik Taipan Rusia Tembus Blokade Hormuz, AS Gak Berani Nyerang

Kapal Mewah Rp8 T Milik Taipan Rusia Tembus Blokade Hormuz, AS Gak Berani Nyerang

News | Selasa, 28 April 2026 | 07:24 WIB

Menlu Iran Abbas Araghchi ke Rusia di Tengah Negosiasi Buntu Teheran-Washington

Menlu Iran Abbas Araghchi ke Rusia di Tengah Negosiasi Buntu Teheran-Washington

News | Senin, 27 April 2026 | 11:58 WIB

Indonesia Impor Minyak Rusia Hingga 150 Juta Barel, Belum Cukup Sampai Akhir Tahun

Indonesia Impor Minyak Rusia Hingga 150 Juta Barel, Belum Cukup Sampai Akhir Tahun

Bisnis | Jum'at, 24 April 2026 | 15:21 WIB

Perang Dunia III di Depan Mata! Jerman Kekurangan Tentara, Warga 70 Tahun Jadi Pilihan

Perang Dunia III di Depan Mata! Jerman Kekurangan Tentara, Warga 70 Tahun Jadi Pilihan

News | Kamis, 23 April 2026 | 11:17 WIB

40 Warga Israel Ditahan di Bandara Rusia, Diintrogasi 5 Jam

40 Warga Israel Ditahan di Bandara Rusia, Diintrogasi 5 Jam

News | Kamis, 23 April 2026 | 10:22 WIB

Terkini

Rugikan Negara Rp1,77 Triliun, Eks Direktur Gas Pertamina Cuma Divonis 4,5 Tahun Penjara!

Rugikan Negara Rp1,77 Triliun, Eks Direktur Gas Pertamina Cuma Divonis 4,5 Tahun Penjara!

News | Senin, 04 Mei 2026 | 15:03 WIB

Krisis Sampah Jakarta Kian Mendesak, Edukator Sebut Perubahan Harus Dimulai dari Rumah Tangga

Krisis Sampah Jakarta Kian Mendesak, Edukator Sebut Perubahan Harus Dimulai dari Rumah Tangga

News | Senin, 04 Mei 2026 | 14:57 WIB

Kebijakan Terbaru Donald Trump Bikin Kanselir Jerman Kesal: Kasih Pukulan ke Seluruh Eropa

Kebijakan Terbaru Donald Trump Bikin Kanselir Jerman Kesal: Kasih Pukulan ke Seluruh Eropa

News | Senin, 04 Mei 2026 | 14:55 WIB

Dilaporkan ke Bareskrim, Abu Janda hingga Ade Armando Dituding Provokasi Potongan Video JK

Dilaporkan ke Bareskrim, Abu Janda hingga Ade Armando Dituding Provokasi Potongan Video JK

News | Senin, 04 Mei 2026 | 14:50 WIB

Polda Jambi Tahan Mantan Kadisdik Varial Adhi Putra Terkait Kasus Korupsi DAK SMK Rp21,8 Miliar!

Polda Jambi Tahan Mantan Kadisdik Varial Adhi Putra Terkait Kasus Korupsi DAK SMK Rp21,8 Miliar!

News | Senin, 04 Mei 2026 | 14:43 WIB

Kualitas Udara Jakarta Terburuk, Pramono Anung Janji Percepat Bus Listrik dan PLTSa

Kualitas Udara Jakarta Terburuk, Pramono Anung Janji Percepat Bus Listrik dan PLTSa

News | Senin, 04 Mei 2026 | 14:42 WIB

Revisi UU Pemilu Mendesak, Eks Penyelenggara Ingatkan Waktu Kian Sempit Jelang 2026

Revisi UU Pemilu Mendesak, Eks Penyelenggara Ingatkan Waktu Kian Sempit Jelang 2026

News | Senin, 04 Mei 2026 | 14:39 WIB

Rekaman Bocor! Benjamin Netanyahu Bongkar Strategi Rahasia Israel Kalahkan Iran

Rekaman Bocor! Benjamin Netanyahu Bongkar Strategi Rahasia Israel Kalahkan Iran

News | Senin, 04 Mei 2026 | 14:28 WIB

Mengejutkan! OPEC Naikkan Kuota Produksi Minyak Usai UEA Mundur, Pengaruh ke Dunia Apa?

Mengejutkan! OPEC Naikkan Kuota Produksi Minyak Usai UEA Mundur, Pengaruh ke Dunia Apa?

News | Senin, 04 Mei 2026 | 14:25 WIB

Revisi UU Pemilu Mandek, Koalisi Sipil Desak DPR Bergerak Sebelum Agustus 2026

Revisi UU Pemilu Mandek, Koalisi Sipil Desak DPR Bergerak Sebelum Agustus 2026

News | Senin, 04 Mei 2026 | 14:23 WIB