Australia Akui Puluhan Pilotnya Terbangkan Drone Bersenjata di Timur Tengah

SiswantoABC Suara.Com
Jum'at, 22 April 2022 | 11:09 WIB
Australia Akui Puluhan Pilotnya Terbangkan Drone Bersenjata di Timur Tengah
Ilustrasi pesawat nirawak. [DW]

Suara.com - Departemen Pertahanan Australia untuk pertama kalinya mengakui jumlah pilot Angkatan Udara mereka yang ditempatkan di Inggris dalam misi rahasia mengoperasikan pesawat drone bersenjata di Timur Tengah.

Lewat UU Kebebasan Informasi, departemen tersebut menyebutkan adanya 32 pilot angkatan udara Australia yang saat ini ditugaskan di 'unit sistem pesawat tidak berawak' di Inggris dan satu orang bekerja di Amerika Serikat. 

Rincian mengenai penugasan mereka memang sangat dirahasiakan, tapi di tahun 2020 beberapa peneliti Inggris melaporkan bahwa pilot Angkatan Udara Australia (RAAF) menerbangkan pesawat drone MQ-9A buatan Amerika Serikat di atas wilayah Suriah dan Irak.

Para pilot tersebut bekerja sebagai kontraktor swasta untuk Angkatan Udara Inggris (RAF).

Pengungkapan kepada publik di Inggris bahwa pilot Australia mengoperasikan pesawat drone bersenjata milik angkatan udara Inggris termuat dalam laporan tahunan 2020 Otoritas Proyek dan Infrastruktur Inggris (IPA).

Menurut IPA, penempatan pilot asal Australia dilakukan karena kurangnya tenaga di angkatan udara Inggris yang menurut pengamat disebabkan karena trauma psikologis ketika mengoperasikan pesawat-pesawat tidak berawak yang bisa melakukan serangan mematikan.

Belasan personel angkatan udara Australia juga sedang membantu militer Inggris dalam proses transisi untuk menggunakan drone yang baru, MQ-9B, yang nantinya akan menggantikan armada Reaper.

Australia juga sebelumnya berencana menggunakan drone bersenjata MQ-9B lewat program SkyGuardian, namun proyek bernilai A$1,3 miliar tersebut akhirnya dibatalkan menjelang pengumuman anggaran belanja negara tahun 2022.

Ditempatkannya para pilot Australia dalam menerbangkan pesawat drone MQ-9A Reaper milik Inggris dianggap sebagai pengalaman pelatihan yang berguna bagi Angkatan Udara Australia namun sekarang masa depannya jadi tidak menentu.

Baca Juga: Perang di Ukraina Dorong Timur Tengah Upayakan Swasembada Pangan

Departemen Pertahanan Australia menolak menyebutkan dampak dari dihentikannya proyek SkyGuardian terhadap pertukaran pilot dengan Inggris, namun ABC mendapat laporan dari departemen tersebut bahwa mereka masih melakukan kajian.

Partai oposisi Partai Buruh mengatakan akan mempertimbangkan untuk melanjutkan proyek tersebut yang akan membeli pesawat drone dari Amerika Serikat bila mereka menang pemilu yang akan diselenggarakan bulan Mei mendatang.

Di tahun 2015 dilaporkan bahwa dua teroris terkenal asal Australia Khaled Sharrouf dan Mohamed Elomar tewas dalam serangan drone ketika keduanya bergabung dengan jaringan Negara Islam (IS) di Irak.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Film Makoto Shinkai Mana yang Menggambarkan Kisah Cintamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Jadi Superhero, Kamu Paling Mirip Siapa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Destinasi Liburan Mana yang Paling Cocok dengan Karakter Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Merek Sepatu Apa yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Karakter Utama di Drama Can This Love be Translated?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Menu Kopi Mana yang "Kamu Banget"?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Tipe Kepribadian MBTI Apa Sih Sebenarnya?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Zodiak Paling Cocok Jadi Jodohmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tua Usia Kulitmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apa Mobil yang Cocok untuk Introvert, Ambivert dan Ekstrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Detail Sejarah Isra Miraj?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI