Komandan Tank Rusia Dijatuhi Hukuman Seumur Hidup di Ukraina

Siswanto, BBC

Selasa, 24 Mei 2022 | 11:24 WIB
Komandan Tank Rusia Dijatuhi Hukuman Seumur Hidup di Ukraina
Tentara Rusia [BBC]

Suara.com - Seorang komandan tank Rusia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan di Ukraina karena membunuh seorang warga sipil. Ini merupakan pengadilan pertama kejahatan perang sejak invasi.

Sersan Vadim Shishimarin dihukum karena membunuh Oleksandr Shelipov, 62 tahun, di desa Chupakhivka, timur laut Ukraina, pada 28 Februari.

Dia mengaku menembak Shelipov, tapi tindakannya itu dilakukan berdasarkan perintah. Shishimarin lalu meminta pengampunan dari istri Shelipov.

Banyak dugaan kejahatan perang lainnya sedang diselidiki oleh Ukraina.

Dan dalam sebuah konflik yang sengaja menargetkan warga sipil, hasil putusan pengadilan pada Senin itu (23/05) menjadi preseden hukum yang signifikan.

Moskow selalu membantah pasukannya telah menargetkan warga sipil, meskipun banyak bukti menunjukkan sebaliknya. Ukraina mengatakan lebih dari 11.000 kejahatan mungkin telah terjadi.

Kemungkinan Ukraina akan membawa lebih banyak kasus seperti ini ke pengadilan untuk membongkar penyangkalan Moskow.

Hasil putusan pengadilan ini tidak mungkin langsung mengubah taktik yang digunakan oleh pasukan Rusia, tetapi hal itu membawa keadilan bagi istri Oleksandr Shelipov, Kateryna Shelipova.

Baca juga:

baca juga

Saat menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup, Hakim Serhiy Agafonov mengatakan Shishimarin, 21 tahun, telah menjalankan "perintah kejahatan" dari seorang prajurit yang berpangkat lebih tinggi.

"Mengingat kejahatan yang dilakukan adalah kejahatan terhadap perdamaian, keamanan, kemanusiaan, dan ketertiban hukum internasional, pengadilan tidak melihat kemungkinan menjatuhkan hukuman penjara [yang lebih singkat]," katanya.

Shishimarin, mengenakan kaus bertudung biru dan abu-abu, menyaksikan persidangan tanpa suara dari kotak kaca di ruang sidang dan tidak menunjukkan emosi saat putusan dibacakan.

Pengacaranya mengatakan akan mengajukan banding.

Lantas bagaimana respons Rusia? Kremlin sedang merancang undang-undang dan menggelar pengadilan di Rusia untuk mengadili beberapa tahanan Ukraina sebagai penjahat perang.

Hal ini menunjukkan bahwa kedua negara kini memperlebar ketegangan lewat putusan hukum di meja hijau, sementara konflik bersenjata masih berkecamuk.

Shishimarin bertugas di divisi tank Kantemirovskaya Rusia. Pada saat pembunuhan itu, dia dan tentara lainnya sedang bepergian menggunakan mobil yang mereka sita, setelah konvoi mereka diserang dan mereka terpisah dari unitnya.

Lalu mereka melihat Shelipov sedang bertelepon lewat ponselnya, kata Shishimarin di hadapan pengadilan. Dia mengaku diperintahkan untuk menembak Shelipov dengan senapan serbu.

Pengacara pembelanya mengatakan kepada pengadilan pada hari Jumat (20/5) bahwa Shishimarin baru melepaskan tembakan setelah dua kali menolak melaksanakan perintah tersebut. Disebutkan juga hanya satu dari tiga sampai empat peluru yang mengenai Shelipov.

Dia mengatakan Shishimarin terpaksa menembak karena takut akan keselamatannya sendiri. Pengacaranya mempertanyakan apakah jika kondisinya seperti itu, berarti terdakwa berniat membunuh?

Dalam satu momen dramatis, istri korban, Kateryna Shelipova berhadapan dengan Shishimarin di ruang sidang. "Tolong beri tahu saya, mengapa Anda [orang Rusia] datang ke sini? Untuk melindungi kami?" dia bertanya, dengan mengutip pernyataan Presiden Rusia, Vladimir Putin, ketika mengutarakan alasan invasi ke Ukraina.

"Melindungi kami dari siapa? Apakah Anda melindungi saya dari suami saya, yang Anda bunuh?"

Prajurit itu tidak bisa menjawab. Dengan terlebih dahulu meminta maaf kepada istri Shelipov, Shishimarin berkata: "Tapi saya mengerti Anda tidak akan bisa memaafkan saya."

Shelipova mengatakan kepada BBC: "Saya merasa sangat kasihan padanya, tetapi untuk kejahatan seperti itu - saya tidak bisa memaafkannya."

Baca juga:

Sejak Presiden Putin mengirim pasukan Rusia ke Ukraina pada 24 Februari, setidaknya 3.838 warga sipil telah tewas dan 4.351 terluka, menurut PBB.

Di antara yang tewas, terdapat banyak tersangka korban kejahatan perang di kota-kota yang diduduki pasukan Rusia, seperti Bucha.

Awal bulan ini, BBC memperoleh rekaman CCTV dari pembunuhan kejam dua warga sipil Ukraina yang diduga dilakukan oleh tentara Rusia, dan kasus ini sedang diselidiki oleh jaksa sebagai dugaan kejahatan perang.


Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terkini

Jenguk YTR di RSHS, KSP Dudung Langsung Hubungi Dirut BPJS Soal Biaya Perawatan

Jenguk YTR di RSHS, KSP Dudung Langsung Hubungi Dirut BPJS Soal Biaya Perawatan

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 07:55 WIB

Koalisi Sipil Kritik Draf RUU HAM, Sebut Ada Pasal Karet hingga Ancam Independensi Komnas HAM

Koalisi Sipil Kritik Draf RUU HAM, Sebut Ada Pasal Karet hingga Ancam Independensi Komnas HAM

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 07:38 WIB

3  Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan

3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 22:42 WIB

Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km

Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 22:41 WIB

Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya

Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:44 WIB

KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar

KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:44 WIB

Gus Ipul Ajak SP2MI Ambil Peran di Program Sekolah Rakyat

Gus Ipul Ajak SP2MI Ambil Peran di Program Sekolah Rakyat

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:43 WIB

19 Ribu Anak Garut Putus Sekolah, Bupati 'Todong' ASN hingga Pengusaha Jadi Orang Tua Asuh!

19 Ribu Anak Garut Putus Sekolah, Bupati 'Todong' ASN hingga Pengusaha Jadi Orang Tua Asuh!

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:28 WIB

Riset Ungkap Skema Hibah dan Pinjaman Lunak Paling Efektif Danai PLTS Komunitas

Riset Ungkap Skema Hibah dan Pinjaman Lunak Paling Efektif Danai PLTS Komunitas

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:26 WIB

Hari Pelaut Sedunia, Pelindo Dukung Potensi Ekonomi di Selat Malaka

Hari Pelaut Sedunia, Pelindo Dukung Potensi Ekonomi di Selat Malaka

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:26 WIB