Studi SMRC Menyebut Semakin Banyak Penduduk Muslim, Skor Kebebasan Negara jadi Rendah, Kecuali di Indonesia

Chandra Iswinarno, Novian Ardiansyah

Jum'at, 27 Mei 2022 | 16:05 WIB
Studi SMRC Menyebut Semakin Banyak Penduduk Muslim, Skor Kebebasan Negara jadi Rendah, Kecuali di Indonesia
Saiful Mujani memaparkan studi yang dilakukan SMRC terkait kebebasan dan korelasinya dengan jumlah mayoritas penduduk beragama Islam. [Tangkapan layar]

Suara.com - Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) membuat perbandingan antara tingkat kebebasan atau di suatu negara dengan proporsi penduduk muslim di negara terkait. Hasil riset itu menunjukan hipotesis bahwa semakin banyak penduduk beragama Islam maka demokrasinya cenderung tidak berkembang.

Pendiri SMRC Saiful Mujani mengatakan, studi yang dibuatnya bersumber atau mengambil data dari Freedom House 2022 untuk urusan kebebasan dan data dari World Population on Review untuk hal terkait populasi.

"Saya punya pikiran, semakin banyak orang yang beragama Islam maka cenderung demokrasi tidak berkembang di situ, itu hipotesis. Demokrasi tidak berkembang di situ, kebebasan tidak berkembang di situ semakin ketika negara itu penduduknya yang beragama Islam makin banyak, itu hipotesis," tutur Saiful secara daring di kanal YouTube SMRC TV pada Jumat (27/5/2022).

Saiful menegaskan, risetnya itu bukan dimaksudkan untuk menyuarakan sikap anti terhadap Islam.

Namun, ia ingin melihat secara objektif perbandingan skor kebebasan dengan proporsi penduduk muslim di sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Dalam grafik yang ditayangkan, ada sejumlah negara yang tertera mulai dari negara dengan mayoritas hampir 100 persen penduduknya muslim, yakni Saudi Arabia, Afghanistan dan Pakistan. Kemudian negara dengan penduduk muslim sekitar 80 persen, yakni Indonesia dan Syria.

Malaysia dan Brunei Darussalam yang memiliki proporsi penduduk muslim sekitar 70-80 persen hingga sejumlah negara yang proporsi penduduk muslimnya di antara 0 hingga 20 persen, semisal Singapura, China, India, Swedia, Finlandia, Inggris, Norwegia dan Amerika Serikat.

Grafik tersebut memang mengonfirmasi hipotesis yang dibuat Saiful terkait semakin banyak penduduk muslim di suatu negara akan membuat demokrasi tidak berkembang.

Hal itu tampak dari grafik yang memperlihatkan negara Pakistan yang hanya menempati skor kebebasan negara di bawah 40 persen; Afghanistan dan Saudi Arabia yang bahkan skor kebebasannya di bawah 20 persen.

baca juga

"Kita menemukan pola dari 187 negara di dunia. Ini hasil kerjaan semalam ini, gitu ya. Kita melihat pola linear hubungan linear, semakin banyak orang Islam di sebuah negara maka kebebasan semakin rendah," kata Saiful.

Tetapi yang menarik dari grafik tersebut, Indonesia tidak mengikuti pola sebagaimana hipotesis.

Meski memiliki proporsi penduduk muslim di atas 80 persen, nyatanya skor kebebasan Indonesia masih berada di angka 60.

"Yang menarik di sini, Indonesia. Indonesia itu outlier keluar dari pola ini, pola umumnya adalah Islam itu berhubungan negatif dengan demokrasi tapi Indonesia tidak gitu lho, iya kan. Jadi menarik," kata Saiful.

Sementara itu, negara lain yang tidak mengikuti pola ialah China. Kendati proporsi penduduk muslim di negara tersebut sedikit, tetapi skor kebebasan di China justru anjlok di kisaran 0-20 persen.

"China juga outlier. China itu penduduk Islamnya sedikit dibanding penduduk yang non-islam, demokrasinya tidak berkembang," ujar Saiful.

Menurut Saiful, walaupun demokrasi di Indonesia belakangan mendapat kritik karena dianggap mengalami penurunan, namun melihat grafik tersebut, diketahui skor kebebasan Indonesia justru masih jauh lebih baik. Apalagi dibanding negara lain dengan mayoritas penduduknya memeluk agama Islam.

Saiful berkeyakinan skor kebebasan di Indonesia akan terus meningkat dari angka 60 menjadi 80. Hal itu tentu selama ke depan demokrasi Indonesia tidak mengalami penurunan.

"Harapan kita itu (skor kebebasan) angkanya di angka 80-an ke depan. Kalau tidak menurun dalam lima tahun terakhir ini itu bisa jadi di atas angkanya ya, di atas 80 untuk kebebasannya. Ini sekarang 60 kurang lebih tapi lumayan dibanding Malaysia, misalnya dibanding Pakistan apalagi Saudi Arabia," kata Saiful.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Inaya Wahid: Tipe Bapak Itu Bukan "Heh Inaya, Ini yang Harus Kamu Lakukan! Demokrasi Itu Begini-begini"

Inaya Wahid: Tipe Bapak Itu Bukan "Heh Inaya, Ini yang Harus Kamu Lakukan! Demokrasi Itu Begini-begini"

wawancara | Senin, 23 Mei 2022 | 18:09 WIB

Hasil Survei SMRC: Kebebasan Sipil Mengalami Pelemahan

Hasil Survei SMRC: Kebebasan Sipil Mengalami Pelemahan

News | Sabtu, 21 Mei 2022 | 17:19 WIB

Demokrasi Indonesia Alami Kemunduran, Amnesty International Singgung Otsus Papua hingga KPK Terpuruk di Era Jokowi

Demokrasi Indonesia Alami Kemunduran, Amnesty International Singgung Otsus Papua hingga KPK Terpuruk di Era Jokowi

News | Jum'at, 20 Mei 2022 | 21:31 WIB

Terkini

Penumpang MRT Dievakuasi Massal, Gerbong Berasap di Stasiun Bukit Gombak

Penumpang MRT Dievakuasi Massal, Gerbong Berasap di Stasiun Bukit Gombak

News | Selasa, 15 September 2026 | 15:52 WIB

Kini Bela SC Heerenveen, Mees Hilgers Kecewa Gagal Gabung ke Juara 2X Liga Champions

Kini Bela SC Heerenveen, Mees Hilgers Kecewa Gagal Gabung ke Juara 2X Liga Champions

Bola | Selasa, 15 September 2026 | 15:52 WIB

Warga 9 Kelurahan Jakbar dan Jakut Siap-Siap, Pasokan Air Bersih Terganggu hingga Besok

Warga 9 Kelurahan Jakbar dan Jakut Siap-Siap, Pasokan Air Bersih Terganggu hingga Besok

News | Selasa, 15 September 2026 | 15:51 WIB

Purbaya Dicopot, DPRD DIY Tantang Menkeu Baru Batalkan Seluruh Pemangkasan Anggaran Daerah

Purbaya Dicopot, DPRD DIY Tantang Menkeu Baru Batalkan Seluruh Pemangkasan Anggaran Daerah

Jogja | Selasa, 15 September 2026 | 15:51 WIB

Buat Kaget! Hoshi SEVENTEEN Alami Cedera Lutut saat Ikuti Wajib Militer

Buat Kaget! Hoshi SEVENTEEN Alami Cedera Lutut saat Ikuti Wajib Militer

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 15:50 WIB

MBG Ikut Dongkrak Harga Pangan, Pedagang Pasar Mulai Tertekan

MBG Ikut Dongkrak Harga Pangan, Pedagang Pasar Mulai Tertekan

Bisnis | Selasa, 15 September 2026 | 15:49 WIB

Hakim Kabulkan Praperadilan Roy Suryo, Menkeu Kena Perintah Bayar Ganti Rugi

Hakim Kabulkan Praperadilan Roy Suryo, Menkeu Kena Perintah Bayar Ganti Rugi

News | Selasa, 15 September 2026 | 15:45 WIB

Suahasil Gantikan Purbaya, DPR: Gaya 'Koboi' Kini Berganti Sosok Pendiam yang Bekerja

Suahasil Gantikan Purbaya, DPR: Gaya 'Koboi' Kini Berganti Sosok Pendiam yang Bekerja

News | Selasa, 15 September 2026 | 15:44 WIB

Modernisasi Keselamatan Kelautan: Dari Analisis Pascatragedi Menuju Pencegahan Dini Berbasis AI

Modernisasi Keselamatan Kelautan: Dari Analisis Pascatragedi Menuju Pencegahan Dini Berbasis AI

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 15:41 WIB

Era Mobil Bensin Terancam Usai: Mobil Pembakaran Internal Perlahan Sirna di China

Era Mobil Bensin Terancam Usai: Mobil Pembakaran Internal Perlahan Sirna di China

Otomotif | Selasa, 15 September 2026 | 15:40 WIB

×