Suara.com - Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka atau TPNPB-OPM melaporkan tindakan brutal aparat TNI-Polri terhadap para demonstran warga sipil yang menolak pemekaran wilayah di Papua kepada Perdana Menteri Australia yang baru terpilih, Anthony Albanese.
Ketua Dewan Diplomatik TPNPB-OPM, Akouboo Amatus Douw melalui suratnya kepada PM Anthony mengingatkan bahwa Papua dan Australia berada dalam satu region yang sama Indopacific, sehingga eskalasi konflik bersenjata di Papua juga harus menjadi perhatian PM Anthony.
"Banyak warga sipil Papua Barat telah terbunuh dan dipukuli selama protes minggu ini terhadap kebijakan pemisahan provinsi dan otonomi khusus yang dibuat Jakarta," kata Akouboo dalam suratnya kepada PM Anthony, Senin (6/6/2022).
![Ilustrasi Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) di Pegunungan Tengah, Papua. [Foto: Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/11/20/31577-ilustrasi-tentara-pembebasan-nasional-papua-barat-organisasi-papua-merdeka-tpnpb-opm.jpg)
Dia juga menyebut hampir 100.000 warga sipil telah mengungsi, termasuk perempuan dan anak-anak, lalu telah terjadi pembunuhan ekstra yudisial, termasuk seorang anak laki-laki berusia tahun, oleh pasukan TNI-Polri selama operasi seperti yang dilaporkan pakar PBB baru-baru ini.
"Oleh karena itu, saya mendorong kekuatan regional Australia untuk mendukung seruan pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk membawa situasi kritis ini ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mendapatkan perhatian," tegasnya.
Akouboo juga meminta PM Anthony untuk menyinggung isu-isu konflik bersenjata di Papua dalam lawatannya ke Indonesia untuk bertemu Presiden Joko Widodo atau Jokowi.