Starlink: Mengapa Elon Musk Luncurkan Ribuan Satelit ke Ruang Angkasa?

Siswanto | BBC | Suara.com

Senin, 01 Agustus 2022 | 16:00 WIB
Starlink: Mengapa Elon Musk Luncurkan Ribuan Satelit ke Ruang Angkasa?
BBC

Suara.com - Perusahaan SpaceX milik Elon Musk telah meluncurkan ribuan satelit ke orbit. Banyak orang berkata mereka telah melihatnya di langit. 

Satelit-satelit itu adalah bagian dari proyek Starlink , yang bertujuan untuk menyediakan layanan internet berkecepatan tinggi dari luar angkasa ke daerah-daerah terpencil di Bumi.

Apa itu Starlink dan bagaimana cara kerjanya?

Starlink menyediakan layanan internet melalui jaringan satelit yang sangat banyak.

Layanan ini ditujukan bagi orang-orang yang tinggal di daerah terpencil dan tidak bisa mendapatkan internet berkecepatan tinggi.

"Ada orang-orang di Inggris yang masuk dalam kategori itu, tetapi ada lebih banyak lagi di berbagai belahan dunia, di tempat-tempat seperti Afrika," kata Dr Lucinda King, Manajer Proyek Luar Angkasa di Universitas Portsmouth.

Satelit-satelit Starlink telah ditempatkan di orbit rendah di sekitar Bumi supaya kecepatan koneksi antara satelit dan daratan bisa secepat mungkin.

Namun, banyak sekali satelit yang diperlukan untuk menyediakan cakupan internet bagi seluruh dunia.

Diperkirakan Starlink telah menempatkan sekitar 3.000 satelit ke luar angkasa sejak 2018. Pada akhirnya mereka mungkin akan menggunakan 10.000 atau 12.000 satelit, kata Chris Hall.

"Menggunakan satelit memecahkan masalah koneksi internet di lokasi-lokasi terpencil di gurun dan pegunungan," ujarnya.

"Dengan ini tidak diperlukan pembangunan infrastruktur dalam jumlah besar, seperti kabel dan tiang, untuk mencapai daerah-daerah tersebut." 

Berapa biaya Starlink dan siapa yang akan menggunakannya?

Dibandingkan penyedia layanan internet biasa, Starlink tidak murah.

Pelanggan harus membayar $99 (Rp1,4 juta) per bulan. Parabola dan router yang diperlukan untuk terhubung ke satelit harganya $549 (Rp8,1 juta).

Namun, 96% rumah tangga di Inggris sudah mampu mengakses internet berkecepatan tinggi, seperti halnya 90% rumah tangga di Uni Eropa dan Amerika Serikat.

"Sebagian besar negara maju sudah terhubung dengan baik," kata Profesor Sa'id Mosteshar, Direktur Institut Kebijakan dan Hukum Luar Angkasa Universitas London. "Mereka mengandalkan sebagian kecil pasar untuk pendapatan."

Perusahaan itu mengatakan mereka memiliki 400.000 pelanggan di 36 negara yang saat ini tercakup dalam layanannya —sebagian besar di Amerika Utara, Eropa, dan Australasia. Ini terdiri dari rumah tangga dan bisnis.

Tahun depan, Starlink berencana untuk memperluas cakupannya lebih jauh ke seluruh Afrika dan Amerika Selatan, dan ke Asia, wilayah di dunia tempat jangkauan internet masih kurang merata.

"Harga Starlink barangkali terlalu mahal untuk banyak rumah tangga di Afrika, misalnya," kata Chris Hall. "Tapi itu bisa memainkan peran penting dalam menghubungkan sekolah dan rumah sakit di daerah terpencil di sana."

Bagaimana Starlink membantu di Ukraina?

Seiring pasukan Rusia menguasai wilayah-wilayah di Ukraina, mereka menutup layanan internet Ukraina dan berusaha memblokir situs media sosial.

Elon Musk membuat Starlink tersedia di Ukraina segera setelah invasi dimulai. Sekitar 15.000 set parabola dan router Starlink telah dikirim ke negara tersebut.

"Starlink telah menjaga semuanya tetap berjalan, seperti layanan publik dan pemerintah," kata Chris Hall. "Rusia belum menemukan cara untuk menonaktifkannya."

Starlink juga telah digunakan di medan perang.

"Pasukan Ukraina menggunakannya untuk berkomunikasi - misalnya, antara markas besar dan pasukan di lapangan," kata Dr Marina Miron, peneliti studi pertahanan di Kings College London.

"Sinyalnya tidak dapat diganggu seperti sinyal radio biasa, dan hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk menyiapkan kit-nya."

Apakah Starlink membuat ruang angkasa jadi berantakan?

Selain Starlink, perusahaan saingan seperti OneWeb dan Viasat—yang juga menjalankan layanan internet satelit—menempatkan ribuan satelit pada orbit rendah Bumi.

Hal itu akan menimbulkan masalah, kata Sa'id Mosteshar.

"Itu membuat ruang angkasa semakin tidak aman dalam hal tabrakan," katanya.

"Satelit dapat menabrak kapal lain dan menciptakan pecahan puing-puing (debris) dan ini, pada gilirannya, dapat menyebabkan lebih banyak kerusakan saat terbang dengan kecepatan tinggi."

Baru-baru ini ada sejumlah peristiwa nyaris tabrakan atau near-miss yang melibatkan satelit Starlink, termasuk dengan stasiun antariksa China.

"Bila ada terlalu banyak fragmen, itu bisa membuat orbit rendah Bumi tidak dapat digunakan di masa depan," kata Dr King dari Portsmouth University.

"Dan kita mungkin tidak akan dapat keluar dari orbit rendah Bumi ke orbit yang lebih tinggi, tempat satelit navigasi dan satelit telekomunikasi kita berada."

Satelit Starlink juga menciptakan masalah bagi para astronom.

Saat matahari terbit dan terbenam, mereka mungkin terlihat dengan mata telanjang karena matahari berkilauan dari sayap mereka.

Hal ini dapat menyebabkan garis-garis pada gambar teleskop, mengaburkan pandangan bintang dan planet.

"Para astronom melihat masalahnya lebih awal," kata Profesor Mosteshar. "Mereka adalah orang pertama yang mengeluh."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terkini

Lokasi SPBE Cimuning Dekat Pemukiman Warga Jadi Sorotan, Wawako Bekasi: Ini Pelajaran Mahal

Lokasi SPBE Cimuning Dekat Pemukiman Warga Jadi Sorotan, Wawako Bekasi: Ini Pelajaran Mahal

News | Kamis, 02 April 2026 | 13:05 WIB

Dua Pemotor Jadi Korban Ledakan SPBE Cimuning, Motor Tiba-tiba Mogok di Lokasi

Dua Pemotor Jadi Korban Ledakan SPBE Cimuning, Motor Tiba-tiba Mogok di Lokasi

News | Kamis, 02 April 2026 | 12:53 WIB

Inggris Bergerak, 35 Negara Bahas Pembukaan Selat Hormuz Usai Konflik Iran

Inggris Bergerak, 35 Negara Bahas Pembukaan Selat Hormuz Usai Konflik Iran

News | Kamis, 02 April 2026 | 12:48 WIB

Setelah Karni Ilyas, Kini Giliran Aiman Witjaksono Dipanggil Polisi Soal Ijazah Palsu Jokowi

Setelah Karni Ilyas, Kini Giliran Aiman Witjaksono Dipanggil Polisi Soal Ijazah Palsu Jokowi

News | Kamis, 02 April 2026 | 12:45 WIB

Indonesia WFA, Korea Selatan Pakai Cara Ini Bikin Karyawan Hemat BBM Meski Kerja Full WFO

Indonesia WFA, Korea Selatan Pakai Cara Ini Bikin Karyawan Hemat BBM Meski Kerja Full WFO

News | Kamis, 02 April 2026 | 12:39 WIB

Diplomasi Unik Prabowo di Korea: Hadiah Keris hingga Baju Anjing untuk Presiden Lee Jae Myung

Diplomasi Unik Prabowo di Korea: Hadiah Keris hingga Baju Anjing untuk Presiden Lee Jae Myung

News | Kamis, 02 April 2026 | 12:34 WIB

Dewan Keamanan PBB Kutuk Keras Insiden yang Menewaskan Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Dewan Keamanan PBB Kutuk Keras Insiden yang Menewaskan Tiga Prajurit TNI di Lebanon

News | Kamis, 02 April 2026 | 12:29 WIB

Ngaku 'Allah Kedua' dan Ancaman Hamil Gaib, Dukun Cabul di Magetan Diringkus Polisi

Ngaku 'Allah Kedua' dan Ancaman Hamil Gaib, Dukun Cabul di Magetan Diringkus Polisi

News | Kamis, 02 April 2026 | 12:25 WIB

Nuklir Iran Jadi Incaran Trump Lewat Operasi Militer Rahasia Pentagon

Nuklir Iran Jadi Incaran Trump Lewat Operasi Militer Rahasia Pentagon

News | Kamis, 02 April 2026 | 12:18 WIB

WALHI Temukan 1.351 Titik Api Karhutla Terdeteksi di Konsesi Perusahaan: Mengapa Terjadi?

WALHI Temukan 1.351 Titik Api Karhutla Terdeteksi di Konsesi Perusahaan: Mengapa Terjadi?

News | Kamis, 02 April 2026 | 12:15 WIB