Mantan Presiden Rusia: Ukraina Akan 'Incar' Negara Kami Jika Bergabung dengan NATO

M Nurhadi
Mantan Presiden Rusia: Ukraina Akan 'Incar' Negara Kami Jika Bergabung dengan NATO
Mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev. (NATALIA KOLESNIKOVA / AFP)

"Di bawah payung NATO, mereka melancarkan operasi besar-besaran terhadap negara kami. Kami tidak bisa menerima ini," tandas Medvedev

Suara.com - Wakil Kepala Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev menyebut, perang nuklir bisa semakin dekat jika pihak asing terus ikut campur dalam konflik Ukraina.

"Pasokan senjata setiap hari dari asing untuk Ukraina pada akhirnya membawa kiamat nuklir semakin dekat," kata dia dalam wawancara dengan pengguna jejaring sosial Rusia VK, Kamis (23/3/2023).

Ia menyebut, Barat terus meremehkan tekad Rusia dalam mempertahankan kepentingannya. Sehingga, hal ini memperumit konflik.

Medvedev meyakini bahwa kurangnya pemahaman antara Rusia dan Barat sebagian disebabkan oleh kompetensi para pemimpin Uni Eropa yang menurun drastis.

Baca Juga: Tren Bisnis Bunker Naik Daun di Eropa, Warga Takut Potensi Perang Nuklir

"Saya beranjak dari fakta bahwa cepat atau lambat situasinya akan stabil dan komunikasi bisa dipulihkan. Tetapi saya sangat berharap bahwa pada saat itu sebagian besar tokoh-tokoh ini (pimpinan Uni Eropa saat ini) pensiun, dan beberapa pergi ke dunia yang lebih baik," kata dia.

Mantan Presiden Rusia itu berpendapat, jika Ukraina bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), aliansi tersebut akan melancarkan operasi militer terhadap Rusia.

Sementara, sambungnya, Moskow mencoba bertanya kepada Barat bagaimana mereka membayangkan Ukraina bergabung dalam NATO mengingat Ukraina adalah produsen rudal dan dulu memiliki senjata nuklir.

Jika itu terjadi, Rusia menjadi bertetangga dengan sebuah negara "yang bukan hanya bagian dari aliansi yang tidak bersahabat itu, tetapi juga bisa memproduksi senjata nuklir"."

“Terutama dalam kondisi ketika kami berselisih dalam soal Krimea, kami menganggapnya  wilayah kami, mereka menganggapnya wilayah mereka. Jadi, mereka bergabung dengan NATO dan setelah itu, di bawah payung NATO, mereka melancarkan operasi besar-besaran terhadap negara kami. Kami tidak bisa menerima ini," tandas Medvedev, dilansir Anadolu.

Baca Juga: Bule Rusia Jual Diri di Indonesia, Tarifnya Bikin Geleng-Geleng Kepala

Medvedev menjelaskan, industri pertahanan Rusia menggenjot produksi tank sampai sekitar 1.500 tank tahun ini.