Semua pintu kamar tertutup rapat. Dari dalam kamarpun tidak ada tanda-tanda suara kehidupan. Bahkan decit langkah kaki yang bersautan satu-satunya sumber bunyi pemecah sunyi.
Tiba juga kami di depan kamar. Sebelum masuk, terlebih dahulu Wiga memutar anak kunci berlawanan arah jarum jam.
![Kamar bekas ruang inap pasien Covid-19 di RSD Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat. [Suara.com/Faqih]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2023/04/04/49917-kamar-bekas-ruang-inap-pasien-covid-19-di-rsd-wisma-atlet-kemayoran.jpg)
“Silahkan masuk mas, maaf agak berantakan ini soalnya lagi pindahan belum sempat diberesin lagi,” ucap Wiga sembari menganggakat beberapa barang dari atas sofa berwarna coklat.
“Nah silahkan duduk mas.”
Dalam ruangan sekitar 6x6 itu, Wiga banyak berbagi kisah soal penangangan Covid-19. Temasuk awal mula dirinya bisa terdampar di tempat itu.
Wiga memulai kisahnya awal mula bergabung menjadi nakes di Wisma Atlet. Berawal dari ia diputus kontraknya sebagai nakes di Rumah Sakit TNI Angkatan Udara di Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur. Ketika itu terjadi efisiensi di RS TNI AU yang terdampak pandemi. Wiga hanya bisa pasrah menerima nasib.
Kemudian ia melihat pengumuman rekrutmen tambahan tenaga medis di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran. Ia berfikir ketimbang menganggur, lebih baik ia menjadi relawan di sana agar bisa membantu sesama yang sedang berjuang melawan Covid-19.
“Daripada saya nganggur, mending saya daftar aja buat jadi relawan. Murni untuk kemanusiaan, tapi pas diterima ternyata ada insentifnya.”
Wiga yang tergabung di RSDC Wisma Atlet sejak Juli 2020 itu mengaku beberapa kali dipindah, dari divisi ke divisi lain. Mulai dari rawat inap hingga divisi ambulans.
Delta Momok Menakutkan
Selama dilanda pandemi Covid-19, Wiga mengaku varian delta yang paling menakutkan. Dalam sehari semalam ia bisa membungkus lima orang pasien Covid-19 ke dalam kantung jenazah.
Lima jenazah sehari itu, kata Wiga baru berasal dari unitnya saja. Ketika varian delta merebak, ia sedang bertugas di ruang HCU. HCU sendiri hampir mirip dengan ICU.
“Semalam itu kami bisa ngebungkus lima jenazah. Belum lagi yang di perawatan,” ungkapnya.
Banyaknya nyawa yang tidak tertolong saat itu dipicu karena kurangnya pasokan oksigen untuk para pasien. Pasien yang berada di HCU, Imcu atau ICU mungkin sedikit bisa terbantu karena oksigen di ruangan tersebut bersifat central.
Pasien yang berada di ruang rawat inap, khususnya yang memiliki penyakit bawaan atau komorbid saat itu sangat membutuhkan oksigen untuk bantuan pernafasan. Jumlah pasien ketika itu membludak, sedengakan jumlah tabung oksigen terbatas. Situasi saat itu juga sempat chaos, sesama pasien saling berebut tabung oksigen.