Ihwal Krisis Air di Kalimantan; Dimulai dari Deforestasi, Makin Parah Sejak Pembangunan IKN

Chandra Iswinarno, Lilis Varwati

Jum'at, 19 Juli 2024 | 11:44 WIB
Ihwal Krisis Air di Kalimantan; Dimulai dari Deforestasi, Makin Parah Sejak Pembangunan IKN
Titik Nol IKN. [ANTARA]

Suara.com - Krisis air yang terjadi di Kalimantan disebut sudah lama terjadi. Berdasarkan hasil analisis Greenpeace Indonesia, kondisi tersebut makin parah sejak ada pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.

Forest Campaigner Team Leader Greenpeace Indonesia Arie Rompas menjelaskan bahwa ketersediaan air di suatu wilayah akan selalu berkaitan dengan kondisi ekosistem, begitu pula yang terjadi di Kalimantan.

Greenpeace Indonesia memotret kondisi hutan di Kalimantan yang terus berubah. Dari semula hutan alam kemudian terjadi deforestasi atau penggundulan hutan untuk menjadi hak pengusahaan hutan (HPH) serta hutan tanaman industri (HTI) dengan ditanami perkebunan sawit maupun dijadikan lahan tambang.

"Memang Kalimantan ini menjadi pulau yang paling tinggi akan deforestasinya. Dan kondisi air itu akan berkaitan erat dengan situasi hutan alam yang masih tersisa," jelas Arie kepada Suara.com, dihubungi Jumat (19/7/2024).

Arie menambahkan, keberadaan hutan alam menjadi salah satu faktor penting untuk ketersediaan serta kualitas air.

Sayangnya, Pulau Kalimantan, termasuk di area Kecamatan Sepaku, Kalimantan Timur, yang menjadi area IKN telah terjadi deforestasi cukup luas.

"Kalau dari analisis kami, sejak tahun 2011 itu hutan alam yang kaya akan keanekaragaman hayati dan sebagai bagian dari penampung air itu sudah terjadi deforestasi. Jadi saat ini memang yang tersisa ada sebagian besar di wilayah itu adalah hutan tanaman industri atau HPI, bukan hutan alam lagi," katanya.

Perubahan dari hutan alam menjadi HPI tersebut yang membuat daya serap air di Kalimantan jadi berkurang.

Terlebih adanya IKN menambah luas area deforestasi. Arie mengatakan, kalau pembangunan tersebut turut memperburuk krisis air di Kalimantan.

baca juga

"Di tengah rusaknya hutan, kemudian juga sudah terjadi perubahan iklim, sehingga itu juga akan memperparah. Di mana situasi kemarauannya akan semakin panjang dan tentu ketersediaan air akan menjadi masalah."

"Faktanya temuan kawan-kawan, khususnya yang sudah melakukan investigasi lebih dalam, testimoni masyarakat juga kalau (krisis air) itu memang sudah terjadi," katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Krisis Air di IKN Bakal Jadi Lumbung Bisnis Elite Oligarki, Begini Penjelasan Greenpeace

Krisis Air di IKN Bakal Jadi Lumbung Bisnis Elite Oligarki, Begini Penjelasan Greenpeace

News | Kamis, 18 Juli 2024 | 13:31 WIB

Kaltim Lagi Krisis Air, Greenpeace Indonesia Minta Pembangunan IKN Dihentikan

Kaltim Lagi Krisis Air, Greenpeace Indonesia Minta Pembangunan IKN Dihentikan

News | Kamis, 18 Juli 2024 | 10:32 WIB

Fakta Mengerikan di Balik Pembangunan IKN, Krisis Air di Depan Mata

Fakta Mengerikan di Balik Pembangunan IKN, Krisis Air di Depan Mata

News | Kamis, 18 Juli 2024 | 10:01 WIB

Terkini

OJK Satukan Regulasi Sektor Keuangan Syariah, Perbankan hingga Fintech

OJK Satukan Regulasi Sektor Keuangan Syariah, Perbankan hingga Fintech

Bisnis | Senin, 02 November 2026 | 23:42 WIB

Shin Tae-yong Absen Karena Sakit Hadapi PSMS, Persija Incar Kemenangan Perdana di League Cup

Shin Tae-yong Absen Karena Sakit Hadapi PSMS, Persija Incar Kemenangan Perdana di League Cup

Bola | Senin, 02 November 2026 | 23:25 WIB

Puluhan UMKM Pulo Panjang Dapat Bantuan Peningkatan Produksi dan Pemasaran

Puluhan UMKM Pulo Panjang Dapat Bantuan Peningkatan Produksi dan Pemasaran

Banten | Senin, 02 November 2026 | 23:08 WIB

QRIS Error, Nasabah MNC Bank Panik Tarik Tunai Dibatasi Maksimal Rp2 Juta

QRIS Error, Nasabah MNC Bank Panik Tarik Tunai Dibatasi Maksimal Rp2 Juta

Bisnis | Senin, 02 November 2026 | 23:08 WIB

Anggota DPRD Kota Serang Jadi Tersangka Kasus Dugaan Pencabulan, Korban Mengaku Dua Kali Dilecehkan

Anggota DPRD Kota Serang Jadi Tersangka Kasus Dugaan Pencabulan, Korban Mengaku Dua Kali Dilecehkan

Banten | Senin, 02 November 2026 | 23:05 WIB

Dosen Unsri Kembangkan Laboratorium Hidup Biomassa Sebagai Sumber Ekonomi Desa Ganesha Mukti

Dosen Unsri Kembangkan Laboratorium Hidup Biomassa Sebagai Sumber Ekonomi Desa Ganesha Mukti

Sumsel | Senin, 02 November 2026 | 23:02 WIB

Kapolres Bogor Bantah Pelaku Pembunuhan Bobotoh Suporter Persikabo: Bukan Suporter Klub Mana Pun

Kapolres Bogor Bantah Pelaku Pembunuhan Bobotoh Suporter Persikabo: Bukan Suporter Klub Mana Pun

Jabar | Senin, 02 November 2026 | 22:57 WIB

Aturan Baru Batas Penghasilan Tidak Kena Pajak Meluncur 2027?

Aturan Baru Batas Penghasilan Tidak Kena Pajak Meluncur 2027?

Bisnis | Senin, 02 November 2026 | 22:52 WIB

KPK Sita Rp106,3 Miliar di Kasus ATR/BPN, Kuasa Hukum Summarecon Buka Suara

KPK Sita Rp106,3 Miliar di Kasus ATR/BPN, Kuasa Hukum Summarecon Buka Suara

Bogor | Senin, 02 November 2026 | 22:49 WIB

Kapolda Banten Larang Polisi dan Tamu Ngevape di Kantor Kepolisian, Pelanggar Terancam Sanksi

Kapolda Banten Larang Polisi dan Tamu Ngevape di Kantor Kepolisian, Pelanggar Terancam Sanksi

Banten | Senin, 02 November 2026 | 22:39 WIB

×