Suara.com - Seorang komandan senior Hamas, Hassan Farhat, tewas dalam serangan udara Israel di kota pelabuhan Sidon, Lebanon, pada Jumat dini hari.
Serangan itu juga menewaskan dua anggota keluarganya, yakni putra Farhat, Hamza, yang juga merupakan anggota sayap militer Hamas, serta putrinya yang sudah dewasa, Jenan.
Militer Israel mengonfirmasi dalam pernyataan resminya bahwa operasi tersebut dilakukan oleh pasukan Israel dan badan keamanan dalam negeri Shin Bet sebagai serangan terarah yang menargetkan Farhat.
Menurut Israel, Farhat adalah komandan Hamas untuk wilayah barat Lebanon dan dianggap bertanggung jawab atas sejumlah serangan terhadap tentara dan warga sipil Israel sejak pecahnya perang di Gaza pada Oktober 2023.
"Dia terlibat dalam sejumlah aksi teror, termasuk penembakan roket ke kota Safad pada 14 Februari 2024, yang menewaskan seorang tentara Israel," demikian bunyi pernyataan militer Israel.
Serangan yang terjadi sekitar pukul 03.45 waktu setempat itu menyebabkan dua ledakan besar dan kebakaran hebat di sebuah blok apartemen empat lantai di lingkungan padat penduduk di Sidon.
Media pemerintah Lebanon melaporkan bahwa serangan dilakukan oleh pesawat tak berawak milik Israel.
Petugas darurat menemukan tiga jenazah di lokasi kejadian.
Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, mengecam serangan tersebut sebagai “serangan mencolok terhadap kedaulatan Lebanon” dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata 27 November antara Israel dan Hizbullah.
“Serangan ini tidak hanya melanggar kesepakatan yang telah disepakati, tetapi juga menimbulkan ancaman serius terhadap stabilitas Lebanon. Kami menyerukan tekanan maksimum pada Israel untuk menghentikan serangan berkelanjutan terhadap wilayah permukiman sipil,” ujar Salam.

Sayap militer Hamas, Brigade Ezzedine Al-Qassam, juga mengonfirmasi kematian Farhat dan kedua anaknya dalam pernyataan resmi yang dirilis dari Gaza.
Serangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah Israel menggempur wilayah Beirut selatan dan menewaskan seorang perwira penghubung Palestina dari Hizbullah, dalam eskalasi terbaru sejak diberlakukannya gencatan senjata antara Israel dan kelompok militan Lebanon itu.
Serangan di Beirut sebelumnya juga menewaskan empat orang, termasuk seorang perempuan, menurut laporan Kementerian Kesehatan Lebanon.
Para pemimpin Lebanon menilai serangan-serangan ini sebagai bentuk provokasi yang dapat memperparah ketegangan regional.
Namun Israel bersikeras bahwa operasi tersebut adalah respons atas tembakan roket yang belum diklaim oleh pihak manapun namun diyakini berasal dari wilayah Lebanon selatan.