Perubahan Iklim Perparah Gelombang Panas, Separuh Penduduk Dunia Kena Dampaknya

Bimo Aria Fundrika

Selasa, 03 Juni 2025 | 11:55 WIB
Perubahan Iklim Perparah Gelombang Panas, Separuh Penduduk Dunia Kena Dampaknya
Seorang nelayan mengumpulkan ikan mati dari waduk di provinsi Dong Nai, Vietnam, Selasa (30/4/2-24). [AFP]

Suara.com - Empat miliar orang di dunia mengalami suhu panas ekstrem yang berkepanjangan sepanjang tahun lalu. Perubahan iklim akibat aktivitas manusia tidak hanya memperparah krisis ini, tetapi juga membuat kondisi panas yang sebelumnya langka menjadi kejadian hampir setiap hari.

Studi terbaru dari World Weather Attribution, Climate Central, dan Pusat Iklim Palang Merah yang dirilis menjelang Hari Aksi Panas (2 Juni) menunjukkan bahwa perubahan iklim akibat ulah manusia telah membuat jumlah hari dengan suhu panas ekstrem jadi dua kali lebih banyak di 195 negara selama periode Mei 2024 hingga Mei 2025.

Dalam skala global, perubahan ini menyumbang rata-rata 30 hari panas ekstrem tambahan bagi sekitar setengah populasi dunia. Demikian seperti dilansir Euro News. 

Seorang nelayan mengumpulkan ikan mati dari waduk di provinsi Dong Nai, Vietnam, Selasa (30/4/2-24). [AFP]
Seorang nelayan mengumpulkan ikan mati dari waduk di provinsi Dong Nai, Vietnam, Selasa (30/4/2-24). [AFP]

“Studi ini perlu dianggap sebagai peringatan keras lainnya. Perubahan iklim ada di sini, dan itu membunuh,” ujar Dr. Friederike Otto dari Imperial College London dan WWA.

Para peneliti mendefinisikan "panas ekstrem" sebagai hari dengan suhu melebihi 90 persen hari terpanas dalam kurun 1991–2020. Dengan bantuan model iklim, mereka mensimulasikan skenario tanpa pengaruh pemanasan global untuk membandingkan hasilnya.

Hasilnya mencolok negara seperti Aruba mengalami 187 hari panas ekstrem dalam setahun terakhir—empat kali lebih banyak dari kondisi tanpa perubahan iklim.

Lebih jauh, para peneliti menemukan bahwa 67 peristiwa panas ekstrem besar terjadi secara global dalam kurun tersebut, termasuk di Asia Tengah, Sudan Selatan, wilayah Mediterania, hingga Meksiko dan AS. Dalam semua kasus, perubahan iklim membuat gelombang panas menjadi lebih mungkin dan lebih parah.

“Perubahan iklim jelas menantang kehidupan di setiap benua,” kata Dr. Mariam Zachariah dari WWA. “Musim panas yang sering dan intens ini dikaitkan dengan berbagai dampak, termasuk penyakit akibat panas, kematian, tekanan pada sistem kesehatan, gagal panen, penurunan produktivitas, dan gangguan transportasi.”

Salah satu kawasan yang paling terdampak adalah Eropa. Sepanjang musim panas 2024, gelombang panas dan kebakaran hutan melanda wilayah selatan. Yunani mengalami gelombang panas mematikan yang memaksa evakuasi massal dari tempat wisata.

baca juga

Spanyol, Prancis, dan Italia harus menutup sekolah lebih awal serta menghadapi lonjakan konsumsi listrik dan gangguan transportasi. Totalnya, diperkirakan lebih dari 47.000 orang meninggal akibat panas ekstrem di Eropa tahun lalu.

Lebih mengkhawatirkan lagi, proyeksi menunjukkan bahwa jika pemanasan terus berlanjut tanpa tindakan, sebanyak 23 juta orang di Eropa dapat meninggal akibat panas hingga akhir abad ini.

Namun ada titik terang: kini kita punya alat untuk mengukur, memahami, dan mengintervensi. Roop Singh, kepala bagian atribusi iklim di Palang Merah, menekankan pentingnya komunikasi. 

“Melalui interaksi kami, kami tahu bahwa orang-orang merasakan peningkatan suhu panas, tetapi mereka tidak selalu memahami bahwa hal itu disebabkan oleh perubahan iklim, dan bahwa hal itu akan terus menjadi jauh, jauh lebih buruk.”

Meskipun begitu, suhu panas ekstrem masih kerap dianggap sebagai ancaman yang tidak terlihat. Panas mempercepat penuaan dan kerusakan sel secara perlahan, membuatnya berbeda dari bencana seperti banjir atau badai yang dampaknya lebih langsung.

“Tidak ada tempat di Bumi yang tidak tersentuh oleh perubahan iklim – dan panas adalah konsekuensinya yang paling mematikan,” kata Dr. Kristina Dahl dari Climate Central.

Gambar udara menunjukan seorang nelayan sedang mengumpulkan ikan mati dari waduk di provinsi Dong Nai, Vietnam, Selasa (30/4/2-24). [AFP]
Gambar udara menunjukan seorang nelayan sedang mengumpulkan ikan mati dari waduk di provinsi Dong Nai, Vietnam, Selasa (30/4/2-24). [AFP]

“Kita memiliki sains untuk mengukur bagaimana emisi bahan bakar fosil mengubah suhu harian kita – dan membahayakan miliaran orang.”

Dengan semakin banyak bukti dan meningkatnya kesadaran, sekarang adalah waktu yang tepat untuk bertindak. Kita sudah tahu apa yang harus dilakukan—mulai dari mengurangi emisi karbon, menjaga ruang hijau, sampai mengedukasi masyarakat soal cara menghadapi cuaca panas.

Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian dari para pengambil kebijakan dan kerja sama dari semua pihak untuk menjalankannya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Krisis Iklim di Depan Mata, Ini Lima Cara Untuk Gen Z Kurangi Eco-Anxiety

Krisis Iklim di Depan Mata, Ini Lima Cara Untuk Gen Z Kurangi Eco-Anxiety

Lifestyle | Senin, 02 Juni 2025 | 17:38 WIB

Covid-19 Kembali Melonjak di Berbagai Negara: Benarkah Ada Kaitannya dengan Perubahan Iklim?

Covid-19 Kembali Melonjak di Berbagai Negara: Benarkah Ada Kaitannya dengan Perubahan Iklim?

Health | Senin, 02 Juni 2025 | 14:07 WIB

Indonesia Gaungkan Solidaritas Iklim Global Pelestarian Gletser dari Negeri Tropis

Indonesia Gaungkan Solidaritas Iklim Global Pelestarian Gletser dari Negeri Tropis

News | Senin, 02 Juni 2025 | 10:47 WIB

Terkini

Istimewa! Eks Jampidsus Febrie Ditahan Tanpa Rompi Pink dan Tangan Tak Diborgol

Istimewa! Eks Jampidsus Febrie Ditahan Tanpa Rompi Pink dan Tangan Tak Diborgol

News | Jum'at, 24 Juli 2026 | 23:55 WIB

Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan

Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan

News | Jum'at, 24 Juli 2026 | 23:30 WIB

Merawat Koperasi agar Berdaya Melampaui Dinamika Politik

Merawat Koperasi agar Berdaya Melampaui Dinamika Politik

Bisnis | Jum'at, 24 Juli 2026 | 23:24 WIB

55 Karya Desain Dunia dari SaloneSatellite Permanent Collection Dipamerkan di Indonesia

55 Karya Desain Dunia dari SaloneSatellite Permanent Collection Dipamerkan di Indonesia

Jakarta | Jum'at, 24 Juli 2026 | 23:00 WIB

Ribuan Orang di Dunia Jadi Korban Phishing Kratos, Pengelola Dibekuk di Pontianak

Ribuan Orang di Dunia Jadi Korban Phishing Kratos, Pengelola Dibekuk di Pontianak

Kalbar | Jum'at, 24 Juli 2026 | 22:45 WIB

Usia 35 Tahun Sudah Punya 5 SPBU, Herman Deru Ungkap Kebiasaan yang Mengubah Hidupnya

Usia 35 Tahun Sudah Punya 5 SPBU, Herman Deru Ungkap Kebiasaan yang Mengubah Hidupnya

Sumsel | Jum'at, 24 Juli 2026 | 22:29 WIB

Terkuak! Pengemudi Alphard Arogan ke Satpam di Bundaran HI Ternyata Anggota Polda Jabar

Terkuak! Pengemudi Alphard Arogan ke Satpam di Bundaran HI Ternyata Anggota Polda Jabar

News | Jum'at, 24 Juli 2026 | 22:16 WIB

Napi Kasus Narkoba Pekanbaru Kabur saat Berobat, Petugas Pengawal ke Mana?

Napi Kasus Narkoba Pekanbaru Kabur saat Berobat, Petugas Pengawal ke Mana?

Riau | Jum'at, 24 Juli 2026 | 22:14 WIB

Hinca Panjaitan Sebut Perkara Kredit Tak Layak Diproses sebagai Korupsi

Hinca Panjaitan Sebut Perkara Kredit Tak Layak Diproses sebagai Korupsi

Sumbar | Jum'at, 24 Juli 2026 | 21:58 WIB

Mahfud MD Bantah Kejagung soal Febrie: Tak Pernah Ada Pelimpahan Kasus Asabri dari Polisi

Mahfud MD Bantah Kejagung soal Febrie: Tak Pernah Ada Pelimpahan Kasus Asabri dari Polisi

News | Jum'at, 24 Juli 2026 | 21:57 WIB

×