Gelombang Panas di Arktik Pecahkan Rekor, Naik 3 Derajat Celsius Akibat Perubahan Iklim

Bimo Aria Fundrika | Suara.com

Senin, 16 Juni 2025 | 16:46 WIB
Gelombang Panas di Arktik Pecahkan Rekor, Naik 3 Derajat Celsius Akibat Perubahan Iklim
Ilustrasi lapisan es mencair sebagai salah satu pemicu naiknya permukaan laut di Bumi (Shutterstock).

Suara.com - Perubahan iklim kini menjadi permasalahan yang telah dirasakan secara nyata di berbagai penjuru dunia.

Tak terkecuali bagi wilayah Kutub Utara, termasuk Islandia dan Greenland. Negara yang dikenal dengan iklim musim dingin tersebut kini menghadapi kenaikan suhu ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Studi terbaru dari World Weather Attribution (WWA) menemukan bahwa wilayah Arktik tengah mengalami gelombang panas dengan kenaikan suhu sekitar 3 derajat Celcius akibat perubahan iklim yang dipicu oleh aktivitas manusia.

Pengambilan data untuk penelitian ini dilakukan pada 15 hingga 21 Mei 2025. Para peneliti menyebut bahwa periode tersebut merupakan minggu terpanas yang tercatat di bulan Mei untuk wilayah Islandia dan Greenland.

Ilustrasi dampak perubahan iklim (Unsplash/Melissa Bradley)
Ilustrasi dampak perubahan iklim (Unsplash/Melissa Bradley)

Penelitian ini juga menggunakan metode gabungan antara analisis berbasis observasi dengan model iklim untuk mengukur peran perubahan iklim dalam 7 hari tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Bandara Egilsstaðir, Islandia, tercatat suhu sebesar 26,6 derajat Celcius pada tanggal 15 Mei. Angka ini menjadi rekor tertinggi di Islandia untuk suhu bulan Mei.

Tak hanya itu, di Ittoqqortoormiit, Greenland, suhunya mencapai 14.3 derajat Celcius pada 19 Mei. Angka ini lebih dari 13 derajat Celcius di atas rata-rata suhu harian maksimum bulan Mei yang pada umumnya hanya 0,8 derajat Celcius.

Berdasarkan metode gabungan yang digunakan, WWA menyimpulkan bahwa perubahan iklim membuat suhu ekstrem ini meningkat sekitar 3 derajat Celcius dan sekitar 40 kali lebih mungkin terjadi.

"Bagi sebagian orang, kenaikan suhu sebesar 3 derajat Celcius mungkin terdengar kecil. Akan tetapi, kenaikan suhu ini berdampak pada mencairnya es dalam jumlah besar di Greenland," ujar salah satu penulis studi sekaligus peneliti di Royal Netherlands Meteorological Institute, Sarah Kew, dikutip dari Euro News.

Dampaknya bagi kehidupan masyarakat lokal

Wilayah Arktik telah memanas dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Kondisi ini disebut juga sebagai Arctic amplification atau amplifikasi Arktik.

Fenomena ini terjadi ketika es dan salju yang mencair akibat pemanasan menunjukkan permukaan yang lebih gelap. Permukaan gelap ini kemudian menyerap lebih banyak panas matahari, sehingga mempercepat pemanasan di wilayah Arktik.

Pemanasan yang terjadi tentu membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat di wilayah Kutub Utara.

Penasihat Teknis di Red Cross Red Crescent Climate Centre, Maja Vahlberg, mengungkapkan bahwa gelombang panas ini menimbulkan risiko bagi penduduk di Islandia dan Greenland, wilayah yang memanas lebih cepat dibandingkan wilayah lainnya.

"Masyarakat suku Inuit kini menghadapi ancaman serius terhadap cara hidup tradisional mereka. Sementara itu, warga Islandia dengan kondisi kesehatan tertentu juga menjadi semakin rentan terhadap kenaikan suhu," kata Vahlberg.

Meskipun Islandia memiliki tingkat kematian akibat panas yang tergolong sangat rendah dibandingkan dengan negara di Eropa bagian selatan, gelombang panas tetap dapat membahayakan bagi masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu.

Tak hanya berdampak pada kesehatan, gelombang panas ini juga memengaruhi infrastruktur.

Melansir situs resmi WWA, infrastruktur di Islandia dan Greenland telah dirancang untuk cuaca dingin, sehingga ketika terjadi gelombang panas, es yang mencair dapat menyebabkan banjir dan sejumlah kerusakan bagi infrastruktur.

Di Islandia, suhu tinggi menyebabkan jalan aspal meleleh atau bituminous bleeding, yang dapat membahayakan pengendara.

Sementara itu, di Greenland, suhu panas yang tidak biasa dapat mempercepat pencairan es laut. Hal ini berdampak pada keberlangsungan hidup suku Inuit yang menempati 90 persen penduduk di Greenland.

Masyarakat suku Inuit hidup dengan bergantung pada es untuk memburu, memancing, dan melakukan perjalanan, sehingga pencairan es akan dapat mengancam keberlangsungan hidup mereka.

Pencairan es laut juga mengakibatkan penurunan jumlah anjing kereta luncur, alat transportasi tradisional suku Inuit yang telah digunakan selama ribuan tahun.

Penulis: Kayla Riasya Salsabilla

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dari Surya hingga Panas Bumi: Menggali Potensi Energi Bersih 3.600 GW di Indonesia

Dari Surya hingga Panas Bumi: Menggali Potensi Energi Bersih 3.600 GW di Indonesia

News | Kamis, 05 Juni 2025 | 09:03 WIB

Perubahan Iklim Ancam Spesies Burung: Tak Semua Bisa Terbang Migrasi Selamatkan Diri

Perubahan Iklim Ancam Spesies Burung: Tak Semua Bisa Terbang Migrasi Selamatkan Diri

News | Rabu, 04 Juni 2025 | 17:27 WIB

Alarm Bahaya dari Kutub: Saat Beruang Kutub Berjuang Melawan Perubahan Iklim

Alarm Bahaya dari Kutub: Saat Beruang Kutub Berjuang Melawan Perubahan Iklim

News | Rabu, 04 Juni 2025 | 11:32 WIB

Terkini

Tito Karnavian Dampingi Prabowo Luncurkan Operasional 1.061 KDKMP di Jawa Timur

Tito Karnavian Dampingi Prabowo Luncurkan Operasional 1.061 KDKMP di Jawa Timur

News | Sabtu, 16 Mei 2026 | 20:59 WIB

Kepala BPKP Gemetar Lapor Korupsi di Lingkaran Presiden, Prabowo: Mau Orang Saya, Tidak Ada Urusan!

Kepala BPKP Gemetar Lapor Korupsi di Lingkaran Presiden, Prabowo: Mau Orang Saya, Tidak Ada Urusan!

News | Sabtu, 16 Mei 2026 | 19:25 WIB

Ketua RW Sebut Bukan Warga Lokal, Siapa Belasan Orang yang Keroyok Dico hingga Tewas di Grogol?

Ketua RW Sebut Bukan Warga Lokal, Siapa Belasan Orang yang Keroyok Dico hingga Tewas di Grogol?

News | Sabtu, 16 Mei 2026 | 18:36 WIB

Pernyataan Prabowo Bikin Riuh, Sebut 'Mbak Titiek' Pusing Gara-gara Dolar

Pernyataan Prabowo Bikin Riuh, Sebut 'Mbak Titiek' Pusing Gara-gara Dolar

News | Sabtu, 16 Mei 2026 | 17:50 WIB

Prabowo: Selama Purbaya Bisa Senyum, Tak Perlu Khawatir Soal Dolar

Prabowo: Selama Purbaya Bisa Senyum, Tak Perlu Khawatir Soal Dolar

News | Sabtu, 16 Mei 2026 | 16:40 WIB

AS Takut Disadap? Rombongan Trump Buang Semua Barang China Sebelum Naik Air Force One

AS Takut Disadap? Rombongan Trump Buang Semua Barang China Sebelum Naik Air Force One

News | Sabtu, 16 Mei 2026 | 16:38 WIB

Usai Temui JK, Anies Baswedan Beri Komentar Santai Terkait Putusan MK Soal IKN

Usai Temui JK, Anies Baswedan Beri Komentar Santai Terkait Putusan MK Soal IKN

News | Sabtu, 16 Mei 2026 | 16:30 WIB

Ray Rangkuti: DPN Dinilai Perkuat Dominasi Militer di Ruang Sipil

Ray Rangkuti: DPN Dinilai Perkuat Dominasi Militer di Ruang Sipil

News | Sabtu, 16 Mei 2026 | 16:29 WIB

Prabowo Akui Program MBG Banyak Masalah, Sebut Ada Pimpinan Tidak Kuat jika Berurusan dengan Uang

Prabowo Akui Program MBG Banyak Masalah, Sebut Ada Pimpinan Tidak Kuat jika Berurusan dengan Uang

News | Sabtu, 16 Mei 2026 | 16:07 WIB

Cek Fakta: Donald Trump Intip Dokumen Rahasia Xi Jinping, Benarkah?

Cek Fakta: Donald Trump Intip Dokumen Rahasia Xi Jinping, Benarkah?

News | Sabtu, 16 Mei 2026 | 15:59 WIB