Pemerintah Tak Punya Riset Dampak Tambang Nikel Terhadap Ekosistem Pesisir, Pakar Curiga Disengaja

Dwi Bowo Raharjo, Lilis Varwati

Senin, 16 Juni 2025 | 19:29 WIB
Pemerintah Tak Punya Riset Dampak Tambang Nikel Terhadap Ekosistem Pesisir, Pakar Curiga Disengaja
Tambang nikel di Raja Ampat. (ist)

Suara.com - Pemerintah Indonesia dinilai abai terhadap perlindungan ekosistem pesisir dari dampak aktivitas tambang nikel.

Pengabaian itu terlihat dari tidak adanya riset komprehensif mengenai dampak pertambangan nikel terhadap ekosistem laut di wilayah-wilayah pesisir yang dekat dengan pertambangan nikel.

"Ekosistem khas di wilayah pesisir itu ada terumbu karang, ada hutan mangrove, ada padang lamun. Tapi itu tidak ada datanya. Mau ditanya KKP, mau ditanya BRIN, tidak ada, belum ada data penelitiannya," kata Dosen Ekonomi Sumber Daya Alam di Universitas Trilogi Jakarta Muhamad Karim dalam diskusi bersama Auriga Nusantara di Jakarta, Senin (16/6/2025).

Karim menegaskan bahwa tanpa data, publik tidak bisa menilai secara objektif menggenai imbas dari aktivitas pertambangan nikel terhadap pencemaran maupun kerusakan lingkungan laut di sekitarnya.

Kondisi ini, menurut dia, sangat merugikan masyarakat dan justru memberi ruang bagi pembiaran kerusakan lingkungan yang lebih luas.

"Repot sekali di Indonesia ini, bagaimana kita mengatakan bahwa itu tidak terjadi apa-apa, sementara data ini tidak ada. Saya curiga bahwa yang tidak ada data itu disengaja supaya orang tidak bisa mengetahui dampaknya. Jadi mau dicek di manapun tidak ada data itu," kritiknya.

Ia menyebutkan setidaknya ada tiga jenis indikator yang dapat digunakan untuk menilai dampak tambang terhadap ekosistem laut, yaitu spesies ikan tertentu, kualitas air laut, dan sedimen dasar laut.

Jenis-jenis ikan seperti bawal putih, kakap, dan ikan karang dari genus Caesionidae (kaitodenikida) bisa menjadi indikator biologis penting karena mereka menyerap logam berat dari air yang tidak bisa terurai di tubuhnya. Ikan-ikan yang sudah tercemar itu juga berisiko membahayakan tubuh manusia bila dikonsumsi.

"Kalau yang makan ibu hamil, bisa cacat bayinya. Terutama misalnya jenis-jenis logam berat seperti timbal, arsenik lalu yang berbahaya kan itu seperti minamata itu," tuturnya.

baca juga

Logam minamata merujuk pada merkuri atau air raksa yang mencemari lingkungan dan menyebabkan penyakit Minamata, yaitu gangguan neurologis akibat keracunan merkuri.

Namun, hingga kini belum ada riset resmi maupun terbuka yang mengkaji kualitas air laut dan sedimen dasar di sekitar wilayah tambang nikel. Padahal, dua parameter ini penting untuk mengukur akumulasi pencemar dari aktivitas tambang di perairan.

Karim menyarankan agar lembaga-lembaga independen seperti Auriga Nusantara mulai mengambil inisiatif melakukan pengambilan sampel secara mandiri di beberapa lokasi pesisir terdampak tambang nikel, seperti di Maluku hingga Raja Ampat.

"Misalkan Auriga ingin mengambil sampel di beberapa pulau di wilayah Maluku, Raja Ampat, jadi itu yang bisa diambil, dengan jarak tertentu bisa dari pantai, tengah, sampai kira-kira berapa meter dari lokasi ekosistem misalnya terumbu karang, mangrove atau padang lamun. Itu nanti bisa kita lihat hasilnya," sarannya.

Minimnya riset dan lemahnya transparansi data ini membuat perlindungan terhadap ekosistem pesisir semakin rentan.

Warga tolak penambangan di Raja Ampat. (Ist)
Warga tolak penambangan di Raja Ampat. (Ist)

Ketika industri tambang terus bergerak cepat atas nama hilirisasi dan investasi, para ahli menilai pemerintah justru tertinggal jauh dalam memastikan keselamatan lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Pandangan serupa juga disampaikan Dosen Ilmu Kelautan Universitas Khairun di Ternate, Dr. Abdul Motalib. Ia menyoroti bahwa penyebaran industri tambang nikel dan fasilitas pemurniannya (smelter) secara geografis justru terkonsentrasi di kawasan timur Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati laut.

"Kalau kita melihat peta sebarannya itu berada di kawasan timur, yaitu Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Papua. Contohnya adalah sebarang tambang di Maluku Utara, ada di pulau besar dan pulau-pulau kecil, di mana total izin usaha pertambangannya ada 127 izin," ungkap Abdul.

Tak hanya soal jumlah izin, Abdul juga mengingatkan bahwa seluruh fasilitas smelter yang menopang hilirisasi nikel Indonesia berada tepat di kawasan Coral Triangle atau segitiga terumbu karang dunia. Lokasi itu dikenal sebagai salah satu pusat biodiversitas laut paling penting di bumi yang seharusnya mendapat perlindungan ekstra dari ancaman industri tambang.

"Ada 12 smelter yang menjadi penopang hilirisasi nikel ada di Indonesia, semuanya berada di kawasan Koral Triangle. Aktivitas ini akan sangat memberikan tekanan dan ancaman yang luar biasa terhadap ekosistem terumbu karang kita di kawasan segitiga terumbu karang tersebut," kritiknya.

Diketahui bahwa kawasan coral triangle membentang dari Filipina, Papua Nugini, hingga Indonesia bagian timur. Serta menjadi rumah bagi lebih dari 500 spesies karang dan ribuan spesies ikan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bahlil Harus Tahu, Dampak Tambang di Pulau Kecil Bisa Langsung Menyebar Cepat Meski Berjarak 40 KM

Bahlil Harus Tahu, Dampak Tambang di Pulau Kecil Bisa Langsung Menyebar Cepat Meski Berjarak 40 KM

News | Senin, 16 Juni 2025 | 18:33 WIB

Dampak Penambangan Nikel di Pulau Kecil: Lingkungan Rusak, Warga Terancam

Dampak Penambangan Nikel di Pulau Kecil: Lingkungan Rusak, Warga Terancam

News | Senin, 16 Juni 2025 | 17:59 WIB

Laporan Greenpeace: 12 Izin Tambang Nikel Masuk Kawasan Geopark Global UNESCO Raja Ampat

Laporan Greenpeace: 12 Izin Tambang Nikel Masuk Kawasan Geopark Global UNESCO Raja Ampat

News | Senin, 16 Juni 2025 | 15:55 WIB

Susi Pudjiastuti Doakan Perusak Raja Ampat Terkena Azab, Doanya Bikin Merinding!

Susi Pudjiastuti Doakan Perusak Raja Ampat Terkena Azab, Doanya Bikin Merinding!

News | Senin, 16 Juni 2025 | 08:18 WIB

Ketika Nikel Mengancam Surga Terakhir di Papua

Ketika Nikel Mengancam Surga Terakhir di Papua

Video | Senin, 16 Juni 2025 | 11:45 WIB

Terkini

KAI Mulai Buka Tiket Kereta untuk Perjalanan Desember 2026

KAI Mulai Buka Tiket Kereta untuk Perjalanan Desember 2026

Foto | Senin, 02 November 2026 | 00:11 WIB

SMK Nusantara Kembali Juara AXIS Nation Cup 2026

SMK Nusantara Kembali Juara AXIS Nation Cup 2026

Foto | Senin, 02 November 2026 | 00:09 WIB

Perang Dunia III di Depan Mata? Vladimir Putin: Rusia Siap Perang dengan Eropa

Perang Dunia III di Depan Mata? Vladimir Putin: Rusia Siap Perang dengan Eropa

News | Minggu, 01 November 2026 | 23:45 WIB

2 Juta Hektare Gambut Sumsel Punya Potensi Ekonomi, Bambu Betung dan Jelutung Diuji

2 Juta Hektare Gambut Sumsel Punya Potensi Ekonomi, Bambu Betung dan Jelutung Diuji

Sumsel | Minggu, 01 November 2026 | 23:42 WIB

Alex Marquez Persembahkan Podium untuk BK8 Gresini Racing di MotoGP Malaysia 2026

Alex Marquez Persembahkan Podium untuk BK8 Gresini Racing di MotoGP Malaysia 2026

Sport | Minggu, 01 November 2026 | 23:37 WIB

Nelayan Air Nyatoh Kehilangan Penghasilan, Tangkapan Ikan Teri Turun akibat Laut Keruh

Nelayan Air Nyatoh Kehilangan Penghasilan, Tangkapan Ikan Teri Turun akibat Laut Keruh

Sumsel | Minggu, 01 November 2026 | 23:29 WIB

Kecelakaan Maut Bus Penumpang Tabrak Truk Berat: 10 Orang Tewas dan 24 Luka

Kecelakaan Maut Bus Penumpang Tabrak Truk Berat: 10 Orang Tewas dan 24 Luka

News | Minggu, 01 November 2026 | 23:00 WIB

Pura-pura Ban Motor Bocor, Pria di Bandar Lampung Diduga Bunuh Sepupunya

Pura-pura Ban Motor Bocor, Pria di Bandar Lampung Diduga Bunuh Sepupunya

Lampung | Minggu, 01 November 2026 | 22:48 WIB

Viral Pasien Lansia Terlantar di Teras Puskesmas Bantarujeg, Ini Kronologinya

Viral Pasien Lansia Terlantar di Teras Puskesmas Bantarujeg, Ini Kronologinya

Jabar | Minggu, 01 November 2026 | 22:44 WIB

Truk Molen Tabrak 12 Orang di Halte Bekasi, Enam Tewas dan Kelayakan Kendaraan Disorot

Truk Molen Tabrak 12 Orang di Halte Bekasi, Enam Tewas dan Kelayakan Kendaraan Disorot

Jakarta | Minggu, 01 November 2026 | 22:31 WIB

×