Saat Pemanasan Global Mengubah Sawah Jadi Ladang Kosong, Petani Terancam Gulung Tikar

M. Reza Sulaiman | Suara.com

Selasa, 24 Juni 2025 | 09:45 WIB
Saat Pemanasan Global Mengubah Sawah Jadi Ladang Kosong, Petani Terancam Gulung Tikar
Ilustrasi Lahan Pertanian. (Pixabay.com/shownkonopaski)

Suara.com - Selama ini, pemanasan global kerap diasumsikan mampu memperpanjang musim tanam dan memperbesar hasil panen. Namun, studi terbaru yang dirilis jurnal Nature justru menunjukkan sebaliknya. 

Setiap kenaikan suhu global sebesar 1 derajat Celsius berpotensi menurunkan kemampuan produksi pangan dunia setara 120 kalori per orang per hari atau 4,4% dari konsumsi rata-rata harian saat ini.

Temuan ini penting di tengah tren populasi global yang terus meningkat dan angka kelaparan yang belum teratasi. Lebih dari 800 juta orang di dunia masih kerap melewatkan hari tanpa asupan makanan memadai. 

“Bila suhu naik 3 derajat Celsius, itu setara dengan semua orang di planet ini melewatkan sarapan," ujar Solomon Hsiang, profesor ilmu sosial lingkungan di Stanford Doerr School of Sustainability dan penulis senior studi ini, melansir EurekAlert! Selasa, (24/6/2025).

Dari Corn Belt ke Climate Bust: Petani Amerika Kian Tertekan

Studi ini dilakukan oleh Climate Impact Lab, konsorsium riset lintas universitas ternama seperti Stanford, University of Chicago, dan Rutgers, yang menganalisis data dari lebih dari 12.000 wilayah di 55 negara. Fokus utamanya adalah enam tanaman utama penyumbang dua pertiga kalori manusia: gandum, jagung, padi, kedelai, jelai, dan singkong.

“Wilayah Corn Belt di Midwest Amerika yang saat ini sangat cocok untuk jagung dan kedelai akan mengalami pukulan besar dalam skenario pemanasan tinggi,” ujar Andrew Hultgren, asisten profesor ekonomi pertanian di University of Illinois Urbana-Champaign.

Data menunjukkan bahwa pada tahun 2100, dengan emisi tetap tinggi, hasil panen global bisa turun 24%. Bahkan dalam skenario optimis di mana emisi ditekan drastis, penurunan tetap terjadi—sekitar 11%. Dalam jangka pendek, penurunan 8% diperkirakan terjadi pada 2050, tak peduli seberapa besar upaya mitigasi yang dilakukan. Efek gas rumah kaca bertahan ratusan tahun di atmosfer.

Bayangkan sebuah sawah yang biasanya menghasilkan lima karung padi per musim panen. Dalam skenario pemanasan global, hanya empat karung yang bisa dipanen, meskipun pupuk dan irigasi telah dimaksimalkan. 

Dalam skenario ekstrem, bahkan petani hanya bisa memanen separuhnya. Inilah dampak dari suhu tinggi yang memperpendek musim tanam, meningkatkan stres tanaman, dan memicu penyakit.

Adaptasi oleh petani—seperti mengganti varietas, mengatur ulang jadwal tanam, dan penyesuaian pupuk—memang membantu. Namun, studi menunjukkan strategi ini hanya bisa menutupi sepertiga dari kerugian akibat iklim.

Saat Sawah Subur Menjadi Ladang Kosong

Bagaimana dengan Indonesia? Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada 2023, produksi padi nasional turun 2,22% dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu penyebab utama: musim kemarau yang lebih panjang akibat El Nino.

Pemerintah sendiri menargetkan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia melalui program food estate. Namun, tanpa perencanaan berbasis iklim, kebijakan ini bisa menjadi kontra produktif. 

Krisis pangan akibat iklim tak bisa diselesaikan dengan satu pendekatan. Di satu sisi, petani perlu akses terhadap teknologi adaptif—seperti varietas tahan panas dan sistem irigasi presisi. Di sisi lain, kebijakan publik perlu mengarahkan insentif ke wilayah yang paling terdampak.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Studi: Batas 1,5C Akan Terlampaui dalam Tiga Tahun Jika Emisi Tak Dikurangi

Studi: Batas 1,5C Akan Terlampaui dalam Tiga Tahun Jika Emisi Tak Dikurangi

News | Minggu, 22 Juni 2025 | 07:30 WIB

Pemanasan Global Meningkat Tajam, Dunia Kian Dekat pada Titik Kritis

Pemanasan Global Meningkat Tajam, Dunia Kian Dekat pada Titik Kritis

News | Jum'at, 20 Juni 2025 | 15:07 WIB

Gubernur Bobby Nasution Mau Dalami Kerja Sama Pertanian dengan China

Gubernur Bobby Nasution Mau Dalami Kerja Sama Pertanian dengan China

News | Jum'at, 20 Juni 2025 | 14:43 WIB

Terkini

Krisis Tambak di Kaltim: Bagaimana Petambak Bisa Bertahan di Tengah Perubahan Iklim?

Krisis Tambak di Kaltim: Bagaimana Petambak Bisa Bertahan di Tengah Perubahan Iklim?

News | Jum'at, 03 April 2026 | 11:53 WIB

Liga Arab Siap Amankan Jalur Minyak Selat Hormuz di Dewan Keamanan PBB Besok

Liga Arab Siap Amankan Jalur Minyak Selat Hormuz di Dewan Keamanan PBB Besok

News | Jum'at, 03 April 2026 | 11:47 WIB

Kolaborasi Pembiayaan Hijau Kian Digenjot, Sasar Kelestarian Hutan dan Ekonomi Petani

Kolaborasi Pembiayaan Hijau Kian Digenjot, Sasar Kelestarian Hutan dan Ekonomi Petani

News | Jum'at, 03 April 2026 | 11:34 WIB

Kajari Karo 'Siap Salah' di DPR, 7 Fakta Kasus Amsal Sitepu yang Divonis Bebas

Kajari Karo 'Siap Salah' di DPR, 7 Fakta Kasus Amsal Sitepu yang Divonis Bebas

News | Jum'at, 03 April 2026 | 11:30 WIB

Momen Kajari Karo Akui Salah di Depan Komisi III DPR Soal Kasus Amsal Sitepu: Siap Salah Pimpinan

Momen Kajari Karo Akui Salah di Depan Komisi III DPR Soal Kasus Amsal Sitepu: Siap Salah Pimpinan

News | Jum'at, 03 April 2026 | 11:22 WIB

Jadwal Pemulangan Jenazah Prajurit Indonesia Korban Serangan Israel di Lebanon

Jadwal Pemulangan Jenazah Prajurit Indonesia Korban Serangan Israel di Lebanon

News | Jum'at, 03 April 2026 | 11:12 WIB

Jumat Agung 2026 di Katedral Jakarta: Ini Jadwal Ibadah dan Lokasi Parkir Jemaat

Jumat Agung 2026 di Katedral Jakarta: Ini Jadwal Ibadah dan Lokasi Parkir Jemaat

News | Jum'at, 03 April 2026 | 10:55 WIB

Dampak Kasus Amsal Sitepu: Pekerja Kreatif Khawatir Kerjasama dengan Pemerintah

Dampak Kasus Amsal Sitepu: Pekerja Kreatif Khawatir Kerjasama dengan Pemerintah

News | Jum'at, 03 April 2026 | 10:06 WIB

Demi Selat Hormuz, PBB Hari Ini Akan Putuskan Pengerahan Kekuatan Militer untuk Keroyok Iran

Demi Selat Hormuz, PBB Hari Ini Akan Putuskan Pengerahan Kekuatan Militer untuk Keroyok Iran

News | Jum'at, 03 April 2026 | 09:22 WIB

Prinsip 'No Service No Pay': Badan Gizi Nasional Bakal Cabut Insentif SPPG yang Lalai

Prinsip 'No Service No Pay': Badan Gizi Nasional Bakal Cabut Insentif SPPG yang Lalai

News | Jum'at, 03 April 2026 | 09:10 WIB