Upaya Asia Membangun Ketahanan Iklim di Tengah Tantangan Pemanasan Global

M. Reza Sulaiman

Rabu, 25 Juni 2025 | 12:47 WIB
Upaya Asia Membangun Ketahanan Iklim di Tengah Tantangan Pemanasan Global
Ilustrasi Kampanye Pemanasan Global (unsplash/markus spiske)

Suara.com - Asia kini menjadi pusat krisis iklim global. Laporan terbaru dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menunjukkan bahwa benua ini memanas dua kali lebih cepat dari rata-rata global.

Melansir UN News, Rabu (25/6/2025), temuan ini bukan sekadar angka, melainkan peringatan dini atas dampak nyata dan mendesak yang telah dan akan terus terjadi di kawasan dengan populasi terpadat di dunia ini—termasuk Indonesia.

Paradoks iklim kini menjadi fenomena yang makin sering ditemui. Dalam tahun 2024, wilayah Kerala di India dilanda hujan ekstrem hingga longsor mematikan. Di Kazakhstan, pencairan gletser akibat suhu tinggi berujung pada banjir terburuk dalam 70 tahun.

Sebaliknya, musim kemarau di China justru ditandai dengan kekeringan parah yang berdampak pada hampir 5 juta orang dan merusak ratusan ribu hektare lahan pertanian.

Asia, sebagai daratan luas yang didominasi kawasan tropis dan subtropis, memang lebih rentan terhadap lonjakan suhu. Pemanasan daratan berlangsung lebih cepat dibanding lautan, sehingga kawasan seperti Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Asia Timur mengalami beban iklim ganda: gelombang panas, kekeringan, banjir, hingga kenaikan permukaan laut.

Indonesia sebagai negara kepulauan juga tidak kebal terhadap fenomena ini. Kenaikan muka laut telah berdampak di berbagai wilayah pesisir, sementara intensitas dan frekuensi hujan ekstrem semakin sulit diprediksi, menambah kompleksitas tantangan pengelolaan bencana.

Namun di balik kabar buruk ini, laporan WMO juga memberi secercah harapan. Nepal, negara dengan topografi kompleks dan keterbatasan infrastruktur, berhasil mengurangi korban jiwa secara signifikan berkat sistem peringatan dini banjir yang efektif.

Ketika hujan ekstrem melanda akhir September 2024, banjir dan tanah longsor menewaskan ratusan orang. Namun di wilayah seperti Barahakshetra, yang terdampak langsung, tidak ada korban jiwa berkat protokol evakuasi yang cepat dan koordinasi respons darurat yang sigap.

Keberhasilan ini bukan hasil kebetulan. Sistem peringatan dini berbasis komunitas, pendanaan darurat yang tertata, serta pelibatan masyarakat dalam pelatihan kesiapsiagaan telah menjadi fondasi tangguh dalam menghadapi bencana. Nepal juga terus memperkuat kerja sama dengan lembaga internasional seperti WMO untuk menyempurnakan sistem mitigasi dan adaptasinya.

baca juga

Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, menegaskan bahwa kerja Layanan Meteorologi dan Hidrologi Nasional kini lebih krusial dari sebelumnya. Ini bukan hanya soal menyelamatkan nyawa, tetapi juga mata pencaharian, ekosistem, dan keberlanjutan pembangunan.

Membangun Kesiapsiagaan Iklim di Indonesia

Kisah Nepal menyiratkan bahwa solusi lokal yang terukur dan adaptif dapat menyelamatkan nyawa—bahkan ketika menghadapi peristiwa iklim yang ekstrem. Bagi Indonesia, ini menjadi refleksi penting.

Negara kita memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi bencana alam, namun sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan masih perlu diperluas dan disempurnakan, terutama di daerah terpencil dan rawan.

Dalam konteks perubahan iklim yang tidak lagi bisa dihindari, langkah-langkah strategis perlu dipercepat, antara lain:

  1. Investasi dalam teknologi meteorologi dan hidrologi untuk prediksi cuaca yang lebih akurat.
  2. Pembangunan infrastruktur tahan bencana, terutama di wilayah pesisir dan dataran rendah.
  3. Pelatihan dan edukasi komunitas lokal agar lebih tangguh dan responsif dalam situasi darurat.
  4. Penguatan pendanaan darurat dan mekanisme distribusinya agar bantuan cepat sampai ke lapangan saat dibutuhkan.

Pemanasan yang dua kali lipat lebih cepat di Asia adalah cerminan bahwa waktu semakin sempit. Indonesia tidak bisa menunggu sampai bencana besar berikutnya untuk bertindak. Pengalaman global membuktikan: negara yang siap akan lebih mampu mengurangi dampak dan pulih lebih cepat.

Melalui komitmen nasional terhadap iklim dan aksi lokal yang konkret, Indonesia dapat menjawab tantangan ini dengan harapan. Perubahan iklim adalah kenyataan, tetapi respons kita dapat menentukan seberapa besar dampaknya. Saatnya memperkuat kesiapsiagaan bukan hanya sebagai respons darurat, tetapi sebagai bagian dari strategi pembangunan jangka panjang.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Timur Tengah Memanas! Aturan FIFA Gagalkan Arab Saudi dan Qatar Jadi Tuan Rumah Ronde 4

Timur Tengah Memanas! Aturan FIFA Gagalkan Arab Saudi dan Qatar Jadi Tuan Rumah Ronde 4

Bola | Rabu, 25 Juni 2025 | 10:42 WIB

Studi: Anak Muda dan Perempuan Paling Rentan Alami Kecemasan Iklim, Mengapa?

Studi: Anak Muda dan Perempuan Paling Rentan Alami Kecemasan Iklim, Mengapa?

News | Rabu, 25 Juni 2025 | 10:18 WIB

Investasi 'Green Skills' Bukan Cuma Demi Keberlanjutan, Tapi Juga Menangkal Krisis Ekonomi dan PHK

Investasi 'Green Skills' Bukan Cuma Demi Keberlanjutan, Tapi Juga Menangkal Krisis Ekonomi dan PHK

News | Rabu, 25 Juni 2025 | 09:49 WIB

Terkini

Gibran Minta Investigasi Keracunan di Batang Segera Dituntaskan dan Transparan

Gibran Minta Investigasi Keracunan di Batang Segera Dituntaskan dan Transparan

News | Senin, 28 September 2026 | 10:40 WIB

Pemimpin Arab Sampaikan Duka Cita Atas Tragedi KMP Virgo Transport 8

Pemimpin Arab Sampaikan Duka Cita Atas Tragedi KMP Virgo Transport 8

News | Senin, 28 September 2026 | 10:30 WIB

Mau Ikut Fun Run 5K? Ini 5 Rekomendasi Sepatu Lari Nyaman dari Lokal Sampai Global

Mau Ikut Fun Run 5K? Ini 5 Rekomendasi Sepatu Lari Nyaman dari Lokal Sampai Global

Lifestyle | Senin, 28 September 2026 | 10:29 WIB

Rebutan Lahan Parkir Berujung Bentrok di Garut, Satu Orang Terkena Sajam

Rebutan Lahan Parkir Berujung Bentrok di Garut, Satu Orang Terkena Sajam

Jabar | Senin, 28 September 2026 | 10:25 WIB

Enam Lokasi Pasar Murah di Pekanbaru Periode Sepekan ke Depan

Enam Lokasi Pasar Murah di Pekanbaru Periode Sepekan ke Depan

Riau | Senin, 28 September 2026 | 10:23 WIB

Tak Takut Atmosfer GBK, Pelatih Malaysia Kenang Pernah Bikin Timnas Indonesia Terluka

Tak Takut Atmosfer GBK, Pelatih Malaysia Kenang Pernah Bikin Timnas Indonesia Terluka

Bola | Senin, 28 September 2026 | 10:22 WIB

Cari Serum Wardah untuk Samarkan Kerutan? Ini Pilihannya, Lengkap dengan Ulasan Pengguna

Cari Serum Wardah untuk Samarkan Kerutan? Ini Pilihannya, Lengkap dengan Ulasan Pengguna

Lifestyle | Senin, 28 September 2026 | 10:20 WIB

Hamzah Batik Malioboro Terbakar Lagi Setelah 2004, Ini Sejarahnya dengan Sosok Raminten dan Mirota

Hamzah Batik Malioboro Terbakar Lagi Setelah 2004, Ini Sejarahnya dengan Sosok Raminten dan Mirota

Lifestyle | Senin, 28 September 2026 | 10:19 WIB

Pasar Kripto Memerah, CFX10 Turun ke Level 1.005

Pasar Kripto Memerah, CFX10 Turun ke Level 1.005

Bisnis | Senin, 28 September 2026 | 10:13 WIB

Apa Perbedaan Cleansing Gel dan Cleansing Foam?

Apa Perbedaan Cleansing Gel dan Cleansing Foam?

Lifestyle | Senin, 28 September 2026 | 10:10 WIB

×