Lantang Tolak Proyek Menbud Fadli Zon, Sumarsih: Isinya Hal-hal Positif Penjahat Negara!

Agung Sandy Lesmana

Kamis, 03 Juli 2025 | 17:58 WIB
Lantang Tolak Proyek Menbud Fadli Zon, Sumarsih: Isinya Hal-hal Positif Penjahat Negara!
Lantang Tolak Proyek Menbud Fadli Zon, Sumarsih: Isinya Hal-hal Positif Penjahat Negara! (tangkapan layar/ist)

Suara.com - Keluarga korban tragedi Semanggi I pada 1998, Maria Katarina Sumarsih secara lantang menolak proyek penulisan baru sejarah Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon. Protes itu dilayangkan Sumarsih saat ikut dalam aksi Kamisan di sebrang Gedung Istana Negara, Jakarta.

Protes terhadap proyek Menbud Fadli Zon turut diunggah oleh Sumarsih melalui akun Instagram pribadinya, @sumarsihmaria pada Kamis (3/7/2025).

Ibunda dari mendiang, Mahasiswa Trisakti Benardinus Realino Norma Irawan atau Wawan itu menduga jika pemerintah mencoba untuk membelokkan sejarah soal pelanggaran HAM berat masa lalu melalui proyek penulisan ulang sejarah yang digagas Fadli Zon.

"Kebijakan Fadli Zon yang harus kita lawan adalah ketika membuat proyek penulisan sejarah, yang isinya adalah masalah tentang hal-hal yang positif bagi pejahat negara," lantang Sumarsih dilihat Suara.com pada Kamis.

Aktivis Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan Sumarsih (tengah) bersama sejumlah aktivis mengikuti Aksi Kamisan ke-862 di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (15/5/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
Aktivis Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan Sumarsih (tengah) bersama sejumlah aktivis mengikuti Aksi Kamisan ke-862 di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (15/5/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]

"Bukan sejarah yang berdasarkan fakta, bukan sejarah yang menulis kasus-kasus pelanggaran HAM berat, karena negara dalam hal ini penyelenggara negara, penyelenggara pemerintah takut untuk membongkar kejahatan para penguasa di negara kita," sambung Sumarsih.

Dalam pernyataannya, Sumarsih turut menolak adanya gelar pahlawan nasional kepada mantan Presiden Soeharto. Menurutnya, seharusnya Soeharto diadili atas sejumlah pelanggaran, termasuk kasus korupsi saat menjadi pemimpin di masa orde baru alias Orba.

"Penulisan proyek sejarah Indonesia dengan biaya Rp9 miliar akan dijadikan pintu masuk untuk mengangkat Soeharto menjadi pahlawan. Oleh karena itu, kami menolak Soeharto diberi jabatan pahlawan nasional, karena pak Harto sudah dinyatakan seorang koruptor yang harus diadili," ujarnya.

Di depan peserta aksi Kamisan, Sumarsih juga meminta agar rakyat berani mengkritik upaya pemerintah untuk menghapus jejak kekejaman pelanggar HAM di masa lalu.

"Dan kenapa kita menolak penulisan (baru) sejarah Indonesia? Ya karena buku sejarah itu, tidak berisi fakta yang terjadi, tetapi memanipulasi tentang terjadinya kekejaman atau pelanggaran berat HAM para penguasa di era Orde Baru," pekik Sumarsih.

baca juga

"Karena kita tahu sendiri bagaimana aparat membungkam suara rakyat. Lawan kebijakan Fadli Zon," sambung Sumarsih di depan peserta aksi Kamisan.

Diketahui, nama Fadli Zon sedang menjadi sorotan karena berniat menggarap proyek penulisan ulang sejarah. Bahkan, Fadli Zon banjir kecaman usai menyebut pemerkosaan massal dalam tragedi 98 hanya rumor.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon. [Suara.com]
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon. [Suara.com]

Setelah ramai dikecam, Fadli Zon mengakui adanya pemerkosaan saat tragedi 98. Pernyataan turut disampaikan oleh Fadli Zon dalam rapat kerja bareng Komisi X DPR RI di Komplek Parlemen, Jakarta pada Rabu (2/7/2025) kemarin.

Meski mengutuk soal pemerkosaan pada tragedi 98, politisi Partai Gerindra itu masih mempertanyakan diksi massal yang dipakai meliputi peristiwa tersebut.

"Kerusuhan Mei itu kan suatu kerusuhan yang telah menimbulkan banyak korban jiwa, korban harta termasuk perkosaan. Kita mengutuk," kata Fadli.

Fadli mengatakan, soal pernyataamnya yang menjadi kontroversi itu tak terkait dengan proyek penulisan sejarah yang digagas pemerintah. Ia menjelaskan, hanya mempertanyakan diksi massal yang dipakai.

"Karena itu sebenarnya saya tidak bukan urusan soal penulisan sejarah itu adalah pendapat saya pribadi soal itu. Soal massal itu diksi massal kenapa? Massal itu sangat identik dengan terstruktur dan sistematis," ujarnya.

Ia lantas mencontohkan kasus pemerkosaan yang terjadi di negara lain seperti peristiwa Nanjing di Tiongkok hingga kasus di Bosnia.

"Nah di kita saya tidak menegasikan bahwa itu terjadi dan saya mengutuk dengan keras dan kalau ada fakta-fakta yang terkait hukum atau pendokumentasian, saya kira tidak ada masalah nah semuanya kan ada fakta-faktanya apa secara hukum dan final misalnya pelakunya dimana dan seterusnya," katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Lindungi Gibran dari Isu Pemakzulan? Jokowi Dicurigai Seret Prabowo ke Masalah Ini

Lindungi Gibran dari Isu Pemakzulan? Jokowi Dicurigai Seret Prabowo ke Masalah Ini

News | Kamis, 03 Juli 2025 | 17:16 WIB

DPR Dicap Melempem soal Pemakzulan Gibran, Bivitri Soroti Puan: PDIP Belum Terbuka Bagian KIM Plus

DPR Dicap Melempem soal Pemakzulan Gibran, Bivitri Soroti Puan: PDIP Belum Terbuka Bagian KIM Plus

News | Kamis, 03 Juli 2025 | 15:25 WIB

Ungkit Narasi Kejar Koruptor, Rapor Mahfud MD soal Pemberantasan Korupsi di Era Prabowo: Lumayan

Ungkit Narasi Kejar Koruptor, Rapor Mahfud MD soal Pemberantasan Korupsi di Era Prabowo: Lumayan

News | Kamis, 03 Juli 2025 | 14:08 WIB

Usulan Pemakzulan Gibran Jalan di Tempat, Bivitri Susanti: Lucu, DPR Langgar Aturan Mereka Sendiri

Usulan Pemakzulan Gibran Jalan di Tempat, Bivitri Susanti: Lucu, DPR Langgar Aturan Mereka Sendiri

News | Kamis, 03 Juli 2025 | 12:41 WIB

Terkini

Punya Kucing di Rumah, Kenapa Interior Juga Perlu Ikut Beradaptasi?

Punya Kucing di Rumah, Kenapa Interior Juga Perlu Ikut Beradaptasi?

Lifestyle | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:33 WIB

Dividen Jumbo BMRI Bikin Investor Ngiler, Sahamnya Masih Murah?

Dividen Jumbo BMRI Bikin Investor Ngiler, Sahamnya Masih Murah?

Bisnis | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31 WIB

Love and Deepspace Rilis Event Baru, Pemain Bisa Pilih 3 Memory 5-Star

Love and Deepspace Rilis Event Baru, Pemain Bisa Pilih 3 Memory 5-Star

Tekno | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31 WIB

Urutan Shio Paling Pantang Menyerah dan Gampang Bangkit dari Kebangkrutan

Urutan Shio Paling Pantang Menyerah dan Gampang Bangkit dari Kebangkrutan

Lifestyle | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:29 WIB

Di Tangan Suahasil, MBG Jadi Prioritas Subsidi Energi Dipangkas

Di Tangan Suahasil, MBG Jadi Prioritas Subsidi Energi Dipangkas

Bisnis | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:26 WIB

Dua Pelajar Terseret Ombak di Pantai Istiqomah, Satu Selamat, Satu Masih Dicari

Dua Pelajar Terseret Ombak di Pantai Istiqomah, Satu Selamat, Satu Masih Dicari

Jabar | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:25 WIB

Berniat Bongkar Dinding, Kakek 69 Tahun di Magetan Tewas Tertimpa Tembok Rumah Tua

Berniat Bongkar Dinding, Kakek 69 Tahun di Magetan Tewas Tertimpa Tembok Rumah Tua

Jatim | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:24 WIB

Bangun Kedaulatan Warga, Lingkar Keadilan Ruang Gagas Riset Konsumsi

Bangun Kedaulatan Warga, Lingkar Keadilan Ruang Gagas Riset Konsumsi

Your Say | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:20 WIB

Menolak Promosi Demi Hidup Tenang: Mengenal Tren Career Minimalism di Dunia Kerja

Menolak Promosi Demi Hidup Tenang: Mengenal Tren Career Minimalism di Dunia Kerja

Your Say | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:17 WIB

Bawa 10,63 Gram Sabu dari Pontianak, Dua Kurir Ditangkap di Pelabuhan Tanjung Emas

Bawa 10,63 Gram Sabu dari Pontianak, Dua Kurir Ditangkap di Pelabuhan Tanjung Emas

Jawa Tengah | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:16 WIB

×