Apa Itu Fenomena Aphelion? Benarkah Menimbulkan Penyakit, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Muhammad Yunus | Suara.com

Selasa, 08 Juli 2025 | 21:13 WIB
Apa Itu Fenomena Aphelion? Benarkah Menimbulkan Penyakit, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Fenomena Aphelion adalah istilah astronomi untuk menandai posisi Bumi yang berada pada titik terjauh dari Matahari dalam orbit tahunannya [Suara.com]

Suara.com - Setiap tahun, terutama memasuki pertengahan tahun, linimasa media sosial dan grup percakapan kerap diramaikan oleh sebuah pesan berantai yang seolah-olah terdengar ilmiah.

"Waspada fenomena Aphelion! Bumi akan berada di titik terjauh dari Matahari, menyebabkan suhu menjadi lebih dingin dan berisiko menurunkan imunitas tubuh."

Pesan semacam ini sukses menimbulkan keresahan. Namun faktanya, informasi tersebut lebih banyak mengandung hoaks daripada kebenaran ilmiah.

Lantas, apa sebenarnya fenomena Aphelion itu, dan mengapa kita tidak perlu mengkhawatirkannya?

Apa Itu Fenomena Aphelion?

Untuk memahaminya, kita perlu mengingat kembali pelajaran dasar astronomi. Planet kita, Bumi, mengorbit atau mengelilingi Matahari.

Namun, lintasan orbit ini bukanlah lingkaran sempurna, melainkan berbentuk elips atau lonjong.

Akibat bentuk orbit yang elips inilah, ada saatnya Bumi berada di titik terdekat dengan Matahari dan ada kalanya berada di titik terjauh.

Aphelion: Berasal dari bahasa Yunani kuno, apo (jauh) dan helios (Matahari).

Ini adalah istilah astronomi untuk menandai posisi Bumi yang berada pada titik terjauh dari Matahari dalam orbit tahunannya.

Peristiwa ini terjadi setiap tahun, biasanya pada awal bulan Juli.

Perihelion: Ini adalah kebalikannya. Berasal dari kata peri (dekat), Perihelion adalah posisi Bumi pada titik terdekat dengan Matahari.

Fenomena ini terjadi setiap tahun pada awal bulan Januari.

Pada saat Aphelion, jarak Bumi ke Matahari bisa mencapai sekitar 152,1 juta kilometer.

Sementara saat Perihelion, jaraknya sekitar 147,1 juta kilometer. Ya, memang ada selisih jarak sekitar 5 juta kilometer, namun dalam skala kosmik, perbedaan ini tidaklah signifikan.

Membongkar Hoaks Populer Seputar Aphelion

Kepanikan yang timbul sering kali disebabkan oleh misinformasi. Mari kita bedah satu per satu hoaks yang paling sering beredar terkait fenomena ini.

1. Hoaks: Aphelion Menyebabkan Cuaca Dingin Ekstrem

Fakta: Ini adalah miskonsepsi paling umum dan sepenuhnya salah.

Faktor utama yang menentukan musim dan suhu di Bumi bukanlah jaraknya dari Matahari, melainkan kemiringan sumbu rotasi Bumi sebesar 23,5 derajat.

Kemiringan inilah yang menyebabkan belahan Bumi yang berbeda menerima paparan sinar Matahari secara langsung pada waktu yang berbeda sepanjang tahun.

Bukti paling telak: Fenomena Aphelion terjadi pada bulan Juli. Pada saat itu, belahan Bumi Utara (seperti Eropa, Amerika Utara, dan Asia) justru sedang mengalami puncak musim panas.

Sebaliknya, belahan Bumi Selatan (seperti Australia, Argentina, dan Indonesia bagian selatan) memang sedang mengalami musim dingin.

Jadi, cuaca dingin yang dirasakan di beberapa wilayah Indonesia pada pertengahan tahun disebabkan oleh faktor musim, seperti angin Monsun Australia, bukan karena Aphelion.

2. Hoaks: Aphelion Menurunkan Imunitas dan Menyebabkan Penyakit

Fakta: Tidak ada satu pun bukti ilmiah yang menghubungkan posisi Aphelion dengan penurunan sistem kekebalan tubuh manusia.

Perubahan jumlah energi Matahari yang diterima Bumi antara Aphelion dan Perihelion hanya sekitar 7%.

Variasi sekecil ini tidak memiliki dampak fisiologis yang terukur pada kesehatan manusia. Isu ini murni pseudosains yang diciptakan untuk menimbulkan ketakutan.

3. Hoaks: Aphelion adalah Fenomena Langka dan Berbahaya

Fakta: Aphelion adalah peristiwa astronomi yang terjadi setiap tahun dan dapat diprediksi dengan sangat akurat.

Ia adalah bagian normal dari siklus orbit Bumi yang telah berlangsung selama miliaran tahun.

Menganggapnya sebagai sesuatu yang berbahaya sama sekali tidak berdasar.

Jadi, Apa Dampak Nyata dari Aphelion?

Meskipun dampaknya tidak terasa pada cuaca atau kesehatan, fenomena Aphelion memiliki efek nyata yang menarik dari sisi fisika.

Menurut Hukum Kedua Kepler tentang gerak planet, sebuah planet akan bergerak lebih lambat saat berada di titik terjauh dari Matahari (Aphelion) dan bergerak lebih cepat saat di titik terdekat (Perihelion).

Akibatnya, musim panas di belahan Bumi Utara (yang bertepatan dengan Aphelion) berlangsung sedikit lebih lama dibandingkan musim panas di belahan Bumi Selatan.

Pada akhirnya, fenomena Aphelion adalah peristiwa astronomi yang indah dan normal, bukan sesuatu untuk ditakuti.

Ini menjadi pengingat betapa teraturnya alam semesta bekerja. Jadi, jika Anda menerima pesan berantai tentang bahaya Aphelion, alih-alih menyebarkannya, jadilah sumber pencerahan dengan membagikan penjelasan ilmiah yang benar.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Aphelion 2025: Bumi Berada di Titik Terjauh dari Matahari, Ini Dampaknya bagi Indonesia

Aphelion 2025: Bumi Berada di Titik Terjauh dari Matahari, Ini Dampaknya bagi Indonesia

News | Selasa, 08 Juli 2025 | 11:28 WIB

Gempa Pangandaran Magnitudo 5,1 Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Pangandaran Magnitudo 5,1 Tak Berpotensi Tsunami

News | Senin, 07 Juli 2025 | 12:55 WIB

Gempa Magnitudo 5,1 Guncang Pangandaran, Masyarakat Diminta Waspada Gempa Susulan!

Gempa Magnitudo 5,1 Guncang Pangandaran, Masyarakat Diminta Waspada Gempa Susulan!

News | Senin, 07 Juli 2025 | 12:37 WIB

Terkini

Nekat! Meski Ada Aparat, Pria Tak Dikenal Tetap Hajar Waketum PSI Bro Ron, Ini Kronologinya

Nekat! Meski Ada Aparat, Pria Tak Dikenal Tetap Hajar Waketum PSI Bro Ron, Ini Kronologinya

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 12:04 WIB

KPK Bongkar Aliran Dana CSR BI ke Yayasan Milik Heri Gunawan dan Satori, Dua Eks Pejabat Diperiksa

KPK Bongkar Aliran Dana CSR BI ke Yayasan Milik Heri Gunawan dan Satori, Dua Eks Pejabat Diperiksa

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 12:01 WIB

Apakah Hukum Kurban Online Sah? Ini Panduan Berkurban via Digital Sesuai Syariat

Apakah Hukum Kurban Online Sah? Ini Panduan Berkurban via Digital Sesuai Syariat

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 12:01 WIB

Neraka di Sinaloa: 3.180 Orang Tewas, Ribuan Diculik dalam Perang Kartel

Neraka di Sinaloa: 3.180 Orang Tewas, Ribuan Diculik dalam Perang Kartel

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 12:00 WIB

UEA Diserang Rudal dan Drone, Negara Arab dan Eropa Ramai-ramai Hakimi Iran

UEA Diserang Rudal dan Drone, Negara Arab dan Eropa Ramai-ramai Hakimi Iran

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 11:39 WIB

Harga Sapi Kurban 2026 Mulai Rp5 Jutaan, Cek Perbandingan Jenis dan Estimasi Biayanya

Harga Sapi Kurban 2026 Mulai Rp5 Jutaan, Cek Perbandingan Jenis dan Estimasi Biayanya

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 11:28 WIB

Bersihkan Jejak Digital Negatif, Pemerintah Masukkan 'Right to be Forgotten' ke Revisi UU HAM

Bersihkan Jejak Digital Negatif, Pemerintah Masukkan 'Right to be Forgotten' ke Revisi UU HAM

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 11:22 WIB

Piala Dunia 2026 Belum Mulai, Kunjungan Turis Asing ke AS Anjlok Akibat Masalah Visa

Piala Dunia 2026 Belum Mulai, Kunjungan Turis Asing ke AS Anjlok Akibat Masalah Visa

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 11:16 WIB

Banjir Ciliwung Terjang Kebon Pala, Warga Desak Normalisasi Dipercepat

Banjir Ciliwung Terjang Kebon Pala, Warga Desak Normalisasi Dipercepat

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 11:01 WIB

Indonesia Rawan Jadi 'Sarang Sunyi' Penyakit Hantavirus, Epidemiolog Soroti Lemahnya Surveilans

Indonesia Rawan Jadi 'Sarang Sunyi' Penyakit Hantavirus, Epidemiolog Soroti Lemahnya Surveilans

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 10:51 WIB