Dikepung 20 Ribu Titik Api, WALHI Tunjuk Hidung Ratusan Korporasi: Negara Tunduk Pada Pembakar Hutan

Erick Tanjung | Lilis Varwati | Suara.com

Selasa, 29 Juli 2025 | 17:17 WIB
Dikepung 20 Ribu Titik Api, WALHI Tunjuk Hidung Ratusan Korporasi: Negara Tunduk Pada Pembakar Hutan
Petugas Manggala Agni Daops Kota Jambi bersama aparat TNI dan kepolisian memadamkan api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut Desa Gambut Jaya, Muaro Jambi, Jambi, Kamis (24/7/2025). [Antara/Wahdi Septiawan/bar]

Suara.com - Kabar buruk kembali menyelimuti langit Indonesia. Kondisi hutan dan lahan di tanah air kembali kritis setelah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mengungkap data mengejutkan; lebih dari 20 ribu titik panas atau hotspot terdeteksi sepanjang Juli 2025, dengan ratusan di antaranya berada tepat di dalam konsesi korporasi.

WALHI mencatat, sejak 1 hingga 28 Juli 2025, total ada 20.788 titik panas yang menandakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tersebar di berbagai wilayah.

Data ini tak main-main. Dari puluhan ribu titik api tersebut, 639 titik masuk dalam kategori level tinggi, 19.656 titik level sedang, dan 493 titik sisanya berada di level rendah.

Ratusan Perusahaan Jadi Biang Kerok?

Yang lebih mencemaskan, temuan WALHI menunjukkan indikasi kuat keterlibatan korporasi. Setelah data sebaran hotspot dipadukan dengan peta konsesi Hak Guna Usaha (HGU) sawit dan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), hasilnya membuat geram.

Sedikitnya 373 hotspot dengan level tinggi ditemukan berada di dalam area konsesi korporasi. Secara total, ada 231 perusahaan yang lahannya terpantau memiliki titik panas.

Manager Kampanye Hutan dan Kebun WALHI Nasional, Uli Arta Siagian, menegaskan bahwa ini bukan kejadian pertama bagi banyak perusahaan tersebut. Mereka adalah "pemain lama" yang seolah kebal hukum.

"Bahkan dari beberapa perusahaan yang terdapat hotspot di konsesinya adalah perusahaan yang juga terbakar pada tahun-tahun sebelumnya," kata Uli dalam keterangan resminya, Selasa (29/7/2025).

Akar Masalah: Impunitas dan Negara yang Tak Tegas
Menurut WALHI, berulangnya karhutla di lahan korporasi yang sama adalah cermin dari impunitas yang terus dibiarkan oleh negara. Perusahaan pembakar hutan seakan mendapat "karpet merah" untuk terus merusak tanpa sanksi yang setimpal.

Uli menyoroti mandeknya evaluasi terhadap 969 perusahaan sawit yang telah puluhan tahun bercokol di atas 5,6 juta hektare ekosistem gambut dan hutan. Pemerintah dinilai tidak menunjukkan upaya serius untuk menindak mereka.

"Bahkan ada cukup banyak perusahaan yang telah diputus bersalah oleh pengadilan, namun tidak ada proses eksekusi putusan yang jelas dan tidak pernah dicabut izinnya. Alhasil, tahun ini kembali terbakar," imbuhnya dengan nada tegas.

Bagi WALHI, akar persoalan karhutla yang tak kunjung usai ini sudah jelas: ketidaktegasan pemerintah dan ketundukan negara di hadapan korporasi.

"Impunitas dan ketertundukan negara inilah yang menjadi akar persoalan karhutla. Selama pemerintah tidak menjawabnya, selama itu juga karhutla akan terus terjadi,” ujar Uli.

Solusi Bukan Tambal Sulam: Rombak Total UU Kehutanan
Kegagalan penegakan hukum ini, lanjut WALHI, adalah bukti sahih lemahnya Undang-Undang Kehutanan yang berlaku saat ini.

Oleh karena itu, WALHI mendorong agar momentum revisi UU Kehutanan tidak hanya menjadi ajang "tambal sulam" kebijakan. Perubahan yang dibutuhkan bersifat total dan mendasar, mengubah pendekatan negara dalam melindungi hutan dan ekosistem gambut dari ancaman korporasi rakus. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Modifikasi Cuaca Tak Selalu Efektif, BMKG Ingatkan Strategi Karhutla Harus Berlapis

Modifikasi Cuaca Tak Selalu Efektif, BMKG Ingatkan Strategi Karhutla Harus Berlapis

News | Selasa, 29 Juli 2025 | 10:21 WIB

Usai Badan Restorasi Gambut dan Mangrove Dibubarkan, Pemerintah Keroyokan Hadapi Ancaman Kebakaran

Usai Badan Restorasi Gambut dan Mangrove Dibubarkan, Pemerintah Keroyokan Hadapi Ancaman Kebakaran

News | Senin, 28 Juli 2025 | 17:15 WIB

Tak Cuma Tinjau Penanganan Karhutla, Ini Sederet Kegiatan Wapres Gibran di Riau

Tak Cuma Tinjau Penanganan Karhutla, Ini Sederet Kegiatan Wapres Gibran di Riau

News | Senin, 28 Juli 2025 | 15:09 WIB

Terkini

KPK Bongkar Aliran Dana CSR BI ke Yayasan Milik Heri Gunawan dan Satori, Dua Eks Pejabat Diperiksa

KPK Bongkar Aliran Dana CSR BI ke Yayasan Milik Heri Gunawan dan Satori, Dua Eks Pejabat Diperiksa

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 12:01 WIB

Apakah Hukum Kurban Online Sah? Ini Panduan Berkurban via Digital Sesuai Syariat

Apakah Hukum Kurban Online Sah? Ini Panduan Berkurban via Digital Sesuai Syariat

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 12:01 WIB

Neraka di Sinaloa: 3.180 Orang Tewas, Ribuan Diculik dalam Perang Kartel

Neraka di Sinaloa: 3.180 Orang Tewas, Ribuan Diculik dalam Perang Kartel

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 12:00 WIB

UEA Diserang Rudal dan Drone, Negara Arab dan Eropa Ramai-ramai Hakimi Iran

UEA Diserang Rudal dan Drone, Negara Arab dan Eropa Ramai-ramai Hakimi Iran

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 11:39 WIB

Harga Sapi Kurban 2026 Mulai Rp5 Jutaan, Cek Perbandingan Jenis dan Estimasi Biayanya

Harga Sapi Kurban 2026 Mulai Rp5 Jutaan, Cek Perbandingan Jenis dan Estimasi Biayanya

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 11:28 WIB

Bersihkan Jejak Digital Negatif, Pemerintah Masukkan 'Right to be Forgotten' ke Revisi UU HAM

Bersihkan Jejak Digital Negatif, Pemerintah Masukkan 'Right to be Forgotten' ke Revisi UU HAM

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 11:22 WIB

Piala Dunia 2026 Belum Mulai, Kunjungan Turis Asing ke AS Anjlok Akibat Masalah Visa

Piala Dunia 2026 Belum Mulai, Kunjungan Turis Asing ke AS Anjlok Akibat Masalah Visa

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 11:16 WIB

Banjir Ciliwung Terjang Kebon Pala, Warga Desak Normalisasi Dipercepat

Banjir Ciliwung Terjang Kebon Pala, Warga Desak Normalisasi Dipercepat

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 11:01 WIB

Indonesia Rawan Jadi 'Sarang Sunyi' Penyakit Hantavirus, Epidemiolog Soroti Lemahnya Surveilans

Indonesia Rawan Jadi 'Sarang Sunyi' Penyakit Hantavirus, Epidemiolog Soroti Lemahnya Surveilans

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 10:51 WIB

Kisahnya Viral, DPR Sebut Kematian Siswa karena Sepatu Kekecilan Jadi Alarm Keras Sistem Pendidikan

Kisahnya Viral, DPR Sebut Kematian Siswa karena Sepatu Kekecilan Jadi Alarm Keras Sistem Pendidikan

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 10:42 WIB