Lelucon ini, meskipun terdengar konyol, adalah bentuk kritik paling pedas.
Publik sudah tidak lagi menganggap film ini secara serius. Kegagalan produksi telah mengubah sebuah karya yang (seharusnya) heroik menjadi bahan tertawaan nasional.
Bagi produser PT Perfiki Kreasindo dan Yayasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, ini adalah pukulan telak yang mungkin sulit untuk dipulihkan. Blunder ini bukan lagi soal selera atau kemampuan teknis, tetapi sudah masuk ke ranah kelalaian dan kompetensi dasar dalam memproduksi film, terutama film untuk keluarga.
Diamnya pihak produser di tengah badai kontroversi, ditambah dengan hilangnya website resmi mereka, kini terlihat semakin mencurigakan.
Publik menuntut jawaban, bukan hanya permintaan maaf, tetapi juga penjelasan logis di balik serangkaian kejanggalan yang membuat "Merah Putih One for All" menjadi salah satu kasus kegagalan film paling fenomenal bahkan sebelum resmi dirilis.
Menurut Anda, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ini murni kelalaian, penggunaan aset yang salah, atau ada plot cerita yang belum kita ketahui? Bagikan teori paling liarmu di kolom komentar!