Balita di Sukabumi Tewas Digerogoti Cacing, Pakar FKUI Peringatkan 'Bom Waktu' di Depan Mata!

Erick Tanjung, Lilis Varwati

Rabu, 20 Agustus 2025 | 10:41 WIB
Balita di Sukabumi Tewas Digerogoti Cacing, Pakar FKUI Peringatkan 'Bom Waktu' di Depan Mata!
Ilustrasi cacing pita. (Pexels/Hendrik Stamp)

Suara.com - Kabar tragis dari Sukabumi menjadi tamparan keras bagi wajah kesehatan publik Indonesia. Seorang balita ditemukan meninggal dunia dengan kondisi mengenaskan, tubuhnya dipenuhi cacing. Kasus ini sontak membuat publik tersentak dan memaksa para pejabat hingga pakar angkat bicara.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, bahkan tak bisa menutupi amarahnya. Ia menyebut kejadian ini sebagai aib dan bukti nyata kegagalan pelayanan dasar di tingkat desa.

Menanggapi tragedi ini, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Tjandra Yoga Aditama mendesak pemerintah untuk tidak hanya fokus pada kasus ini, melainkan segera menyisir lingkungan sekitar untuk mencegah bom waktu serupa meledak di kemudian hari.

Menurut Tjandra, infeksi kecacingan yang merenggut nyawa balita tersebut bukanlah masalah baru. Penyakit ini adalah musuh lama yang kerap diremehkan, padahal bisa berakibat fatal.

"WHO mencatat penyakit ini disebabkan oleh parasit yang hidup di tanah," jelas Tjandra dalam keterangannya, Rabu (20/8/2025).

Jenis-jenis cacing yang menjadi biang kerok antara lain; Cacing Gelang (Ascaris lumbricoides), Cacing Cambuk (Trichuris trichiura), dan Cacing Tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale)

Bagaimana parasit mematikan ini bisa masuk ke tubuh anak? Tjandra membeberkan jalur penularannya yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

"Penularannya melalui telur cacing yang ada di tinja, kemudian mengontaminasi tanah, utamanya di daerah yang buruk sanitasinya," terangnya.

Telur-telur mikroskopis ini kemudian dengan mudah tertelan oleh anak-anak saat mereka memasukkan tangan ke mulut setelah bermain di tanah yang terkontaminasi, tanpa mencuci tangan dengan benar. Selain itu, air minum yang tercemar juga bisa menjadi medium penularan.

baca juga

Gizi Buruk dan Sanitasi Jadi Pintu Masuk

Direktur Pascasarjana Universitas Yarsi itu menambahkan, ada faktor lain yang membuat seorang anak menjadi sasaran empuk infeksi cacing, yaitu gizi buruk.

Anak dengan status gizi buruk memiliki daya tahan tubuh yang lemah, sehingga lebih rentan terinfeksi dan mengalami komplikasi parah. Ini menciptakan sebuah lingkaran setan di mana kemiskinan, sanitasi buruk, dan gizi buruk saling terkait dan berujung pada tragedi.

Karena itu, strategi pemberantasannya tidak bisa sepotong-sepotong. Harus ada serangan menyeluruh yang meliputi:

  • Pemberian obat cacing secara berkala.
  • Penyuluhan intensif tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
  • Perbaikan masif fasilitas sanitasi dan akses air bersih.
  • Jaminan akses pengobatan yang aman dan efektif bagi mereka yang sudah terinfeksi.

Tjandra mengingatkan, kasus ini bukan sekadar tragedi lokal, melainkan cermin dari masalah nasional yang bisa mengancam target besar bangsa.

"WHO sudah mencanangkan target global pengendalian kecacingan untuk tahun 2030. Tentu akan bagus kalau kita di Indonesia juga menetapkan target yang jelas," ujarnya.

Ia menutup dengan sebuah sentilan keras yang menohok. Di tengah gegap gempita menyongsong Indonesia Emas 2045, membiarkan anak-anak bangsa meninggal karena penyakit yang seharusnya bisa dicegah adalah sebuah ironi yang memalukan.

"Tentu tidak elok kalau masih ada masalah kecacingan di masa itu nantinya," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Diprotes soal Lapangan Kerja, Dedi Mulyadi Malah Klaim Matematika Warga Jabar Lemah

Diprotes soal Lapangan Kerja, Dedi Mulyadi Malah Klaim Matematika Warga Jabar Lemah

News | Rabu, 20 Agustus 2025 | 10:24 WIB

CEK Fakta: Dedi Mulyadi Ikut Lomba Panjat Pinang Pakai Pakaian Dalam Wanita dan Dandan Menor

CEK Fakta: Dedi Mulyadi Ikut Lomba Panjat Pinang Pakai Pakaian Dalam Wanita dan Dandan Menor

Entertainment | Rabu, 20 Agustus 2025 | 08:22 WIB

Pemerintah Siapkan Rp 57,7 Triliun untuk Program 3 Juta Rumah

Pemerintah Siapkan Rp 57,7 Triliun untuk Program 3 Juta Rumah

Foto | Rabu, 20 Agustus 2025 | 10:00 WIB

Terkini

FC Seoul Pede Hadapi Persib di ACL 2, Tapi...

FC Seoul Pede Hadapi Persib di ACL 2, Tapi...

Bola | Rabu, 16 September 2026 | 06:05 WIB

Makan Penyu Dilindungi di Raja Ampat, WNA China Ditangkap di Makassar

Makan Penyu Dilindungi di Raja Ampat, WNA China Ditangkap di Makassar

Sulsel | Rabu, 16 September 2026 | 05:52 WIB

25 Ribu Penerima Bansos di Sulsel Terindikasi Judol

25 Ribu Penerima Bansos di Sulsel Terindikasi Judol

Sulsel | Rabu, 16 September 2026 | 05:42 WIB

Juara Umum Popprov DKI 2026, Atlet Pelajar Jakarta Barat Diguyur Bonus

Juara Umum Popprov DKI 2026, Atlet Pelajar Jakarta Barat Diguyur Bonus

Sport | Rabu, 16 September 2026 | 05:25 WIB

Pertamax Berpotensi Tembus Rp20 Ribu! Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi  Sebelum Terlambat

Pertamax Berpotensi Tembus Rp20 Ribu! Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi Sebelum Terlambat

News | Selasa, 15 September 2026 | 23:46 WIB

1765 Pelari dari 15 Negara Ramaikan Tangkuban Perahu

1765 Pelari dari 15 Negara Ramaikan Tangkuban Perahu

Sport | Selasa, 15 September 2026 | 23:05 WIB

Peringatan Bahaya di Makkah dan Jeddah Usai Rentetan Serangan Rudal

Peringatan Bahaya di Makkah dan Jeddah Usai Rentetan Serangan Rudal

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:59 WIB

YLBHI Kecam Pengiriman Anak Demonstran ke Barak Militer: Ini Preseden Berbahaya!

YLBHI Kecam Pengiriman Anak Demonstran ke Barak Militer: Ini Preseden Berbahaya!

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:55 WIB

Mau Liburan ke Luar Negeri? BRI dan Golden Rama Kasih Diskon hingga Rp1 Juta!

Mau Liburan ke Luar Negeri? BRI dan Golden Rama Kasih Diskon hingga Rp1 Juta!

Bri | Selasa, 15 September 2026 | 22:45 WIB

Awas! Lima Titik Karhutla di Cianjur Terjadi Hampir Bersamaan

Awas! Lima Titik Karhutla di Cianjur Terjadi Hampir Bersamaan

Jabar | Selasa, 15 September 2026 | 22:35 WIB

×