Ada Orkestrasi Bikin Rakyat Benci Prabowo, Jejak Kekuatan Lama hingga Robot Ikut Musuhi Presiden

Dwi Bowo Raharjo, Novian Ardiansyah

Kamis, 21 Agustus 2025 | 17:48 WIB
Ada Orkestrasi Bikin Rakyat Benci Prabowo, Jejak Kekuatan Lama hingga Robot Ikut Musuhi Presiden
Presiden Prabowo Subianto di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta. [ANTARAFOTO/Rivan Awal Lingga]

Suara.com - Ketua Dewan Direktur Great Institute, Syahganda Nainggolan, melihat ada gerakan menganggu kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dari Januari hingga Agustus 2025.

Terbaru, upaya struktural mendelegitimasi Prabowo tersebut terlihat dari kenaikaan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan atau PBB-P2 di sejumlah daerah.

Bahkan imbas dari kebijakan tersebut terjadi demo berakhir ricuh, semisal terjadi di Kabupaten Pati dan Kabupaten Bone.

Menurut Syahganda, permasalahan mengenai pajak juga pernah menimbulkan keramaian pada awal tahun. Di mana ada rencana penerapan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 12 Persen yang belakangan dibatalkan Presiden Prabowo

"Kalau saya kan melihat bahwa gerakan-gerakan yang mengganggu kepemimpinan Bapak Prabowo Subianto ini kan sudah dimulai dari Januari 2025 dengan isu PPN 12 persen kan, pajak," kata Syahganda.

"Sekarang kan di Pati dan di Bone yang ribut juga masyarakat pajak juga, dan isu pajak itu kan isu paling sensitif untuk membuat rakyat marah ya kan. Marah di bulan Januari, marah di bulan Agustus," katanya menambahkan.

Pandangan tersebut disampaikan Syahganda dalam podcast di YouTube Forum Keadilan TV dengan judul "Bisikan Istana: Penggalangan Opini Buruh Prabowo Digarap Sejak Januari 2025".

Selain karena permasalahan pajak pada Januari dan Agustus, Syahganda mengatakan ada permasalahan lain yang membuat gaduh dan menimbulkan kemarahan di tengah masyarakat sepanjang tahun ini.

Ia menyebutkan contohnya, mulai dari polemik tambang nikel di Raja Ampat, hingga empat pulau milik Aceh yang hendak masuk wilayah Sumatra Utara.

baca juga

Persoalan-persoalan tersebut belakangan dapat diselesaikan dengan keterlibatan pihak Istana yang turun langsung.

Menurut Syahganda segala polemik yang terjadi dari bulan pertema hingga bulan kedelapan memang sengaja diciptakan.

"Jadi keributan-keributan itu selalu diciptakan agar Prabowo ini tidak bisa tenang. Delegitimasi sehingga menggeser," kata Syahganda.

Syahganda berpandangn semua keributan yang terjadi memang bertujuan meruntuhkan legitimasi kepemimpinan Prabowo.

Ada upaya untuk membuat rakyat merasa kesal terhadap presiden, imbas dari keributan yang ada.

"Pada akhirnya menggeser kecintaan rakyat Indonesia kepada Presiden Prabowo. Yang tadinya orang misalkan cuma kesel kepada Jokowi, sekarang sudah kesel juga kepada Prabowo," kata Syahganda.

Sementara terkait kenaikan PBB-P2 di sejumlah daerah, Syahganda menganggap hal tersebut tidak terlepas dari kebijakan di pemerintah pusat yang tengah melakukan efisiensi sehingga berdampak terhadap dana transfer ke daerah.

"Itu kan rangkaian yang memang tercipta karena seorang menteri keuangan yang dia itu mengurangi transfer kepada daerah. Padahal daerah itu kan tidak diajak berunding," kata Syahganda.

Berdasarkan rangkaian kejadian tersebut, Syahganda berkeyakinan ada upaya struktural yang sengaja menggerakan peristiwa-peristiwa yang bikin gaduh di masyarakat.

"Jadi kita lihat ini struktural, kelihatan memang ini diorkestrasi di pusat, ada orang yang bermain, sekelompok orang yang memang tidak menginginkan Prabowo ini jadi presiden yang kuat, jadi dia dilemahkan, gitu loh supaya rakyat tidak mencintai dia," kata Syahganda.

Syahganda berpendapat tidak menutup kemungkinan ada kekuatan-kekuatan di era pemerintahan sebelumnya di balik rangkaian peristiwa yang ada sepanjang tahun ini, termasuk oleh pihak oligarki yang merasa dirugikan terhadap kepemimpinan Prabowo yang tegas.

"Ya kalau menurut saya sih pasti kekuatan lama, kekuatan Jokowi dan kawan-kawannya dan para oligarki karena apa? Karena Prabowo ini kan terlalu keras, terlalu keras dalam antikorupsi yang orang-orang yang begitu istimewa dan diuntungkan," katanya.

"Jadi kalau kita pakai analisa political economy, kita lihat saja siapa yang diuntungkan secara ekonomi dalam rezim lalu dan sekarang nggak untung lagi," Syahganda menambahkan.

Serangan ke Prabowo

Syahganda melihat serangan terhadap Prabowo tidak hanya dilakukan secara struktural, melainkan gesit dan masif.

Ketua Dewan Direktur Great Institute, Syahganda Nainggolan, dalam perbincangannya di podcast Forum Keadilan TV. [YouTube]
Ketua Dewan Direktur Great Institute, Syahganda Nainggolan, dalam perbincangannya di podcast Forum Keadilan TV. [YouTube]

Ada pihak-pihak yang bertujuan membuat Prabowo tidak dicintai lagi oleh rakyat. Indikasi tersebut sudah terlihat dari komentar-komentar di media sosial, baik oleh netizen maupun buzzer.

"Kalau kita lihat dari medsos-medsos baik di TikTok, baik di X, dia apa segala, sekarang kan jumlah yang menyerang Prabowo makin banyak, yang omon-omon lah disebut, Indonesia gelap, Indonesia Cemas, apa sekarang kan semua digoreng oleh masyrakat kan gampang kan," kata Syahganda.

Menariknya, menghadapi serangan di media sosial, Prabowo ternyata tidak menggunakan buzzer untuk melakukan kontra narasi.

"Nah Prabowo sendiri dia saya lihat tidak seperti Jokowi yang memelihara buzzer, memelihara influencer," kata Syahganda.

Padahal menurut dia, setiap komentar yang timbul dengan tujuan menyerang Prabowo memiliki narasi yang seragam, yang diduga dilakukan oleh robot.

"Robot-robot ini kebanyakan sekarang itu dipelihara untuk memusuhi Prabowo," ujarnya.

Selain serangan di media sosial, Syahganda menilai ada upaya membenturkan aparat, baik polisi maupun TNI dengan masyarakat.

"Itu lah yang mau dituju oleh orang-orang yang anti Prabowo itu karena dia akan bilang bahwa di era Prabowo itu, ini lah penindasan terjadi, anti HAM, anti demokrasi, kekerasan, penculikan apa segala. Kan mereka mau nempelkan itu lagi kepada Prabowo. Ini bahayanya sekarang buat Prabowo," kata Syahganda.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Istana Mau Bikin Kementerian Haji, Mensesneg Blak-blakan: Ini Permintaan Arab Saudi

Istana Mau Bikin Kementerian Haji, Mensesneg Blak-blakan: Ini Permintaan Arab Saudi

News | Kamis, 21 Agustus 2025 | 17:47 WIB

Gagal ke Senayan Jadi Wamen, Harta Rp17 M Noel Disorot Usai Kena OTT KPK

Gagal ke Senayan Jadi Wamen, Harta Rp17 M Noel Disorot Usai Kena OTT KPK

News | Kamis, 21 Agustus 2025 | 17:30 WIB

OTT Wamenaker Jadi Alasan Prabowo 'Sapu Bersih' Kabinet Pertamanya?

OTT Wamenaker Jadi Alasan Prabowo 'Sapu Bersih' Kabinet Pertamanya?

News | Kamis, 21 Agustus 2025 | 17:04 WIB

Istana Geser ke Hambalang? Prabowo Panggil Para Jenderal dan Menteri Rapat Maraton di Rumah Pribadi

Istana Geser ke Hambalang? Prabowo Panggil Para Jenderal dan Menteri Rapat Maraton di Rumah Pribadi

News | Kamis, 21 Agustus 2025 | 17:03 WIB

Terkini

Kemenag Tegaskan Ponpes Hamalatul Quran di Karanganyar dan Sukoharjo Belum Kantongi Izin Resmi

Kemenag Tegaskan Ponpes Hamalatul Quran di Karanganyar dan Sukoharjo Belum Kantongi Izin Resmi

News | Minggu, 01 November 2026 | 20:51 WIB

Review Serial Lupin Part 3: Sebuah Aksi Menawan Assane Diop yang Penuh Trik

Review Serial Lupin Part 3: Sebuah Aksi Menawan Assane Diop yang Penuh Trik

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 20:50 WIB

Bukan Mahasiswa Asli, Ini Pengakuan Sari Putri yang Nekat Pakai Almamater UBSI di Bundaran HI

Bukan Mahasiswa Asli, Ini Pengakuan Sari Putri yang Nekat Pakai Almamater UBSI di Bundaran HI

Video | Minggu, 01 November 2026 | 20:31 WIB

Emil Audero Masuk Nominasi Penyelamatan Terbaik LaLiga, Bersaing dengan Kiper Real Madrid

Emil Audero Masuk Nominasi Penyelamatan Terbaik LaLiga, Bersaing dengan Kiper Real Madrid

Bola | Minggu, 01 November 2026 | 20:30 WIB

Review The Best Thing: Kisah Romantis Dokter TCM dan Manajer Hotel

Review The Best Thing: Kisah Romantis Dokter TCM dan Manajer Hotel

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 20:20 WIB

SMK Nusantara Pertahankan Gelar, MAN 1 Kabupaten Sukabumi Raih Juara Putri AXIS Nation Cup 2026

SMK Nusantara Pertahankan Gelar, MAN 1 Kabupaten Sukabumi Raih Juara Putri AXIS Nation Cup 2026

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 20:15 WIB

Gagal Dapatkan Dean Zandbergen, PSSI Incar Striker Keturunan Islandia!

Gagal Dapatkan Dean Zandbergen, PSSI Incar Striker Keturunan Islandia!

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 20:15 WIB

Persib Bandung Bantai Kalteng FC dan Tempel Ketat Puncak Klasemen

Persib Bandung Bantai Kalteng FC dan Tempel Ketat Puncak Klasemen

Jabar | Minggu, 01 November 2026 | 20:10 WIB

Aktivitas Erupsi Tak Surutkan Langkah Nelayan Pandeglang Tetap Melaut

Aktivitas Erupsi Tak Surutkan Langkah Nelayan Pandeglang Tetap Melaut

Banten | Minggu, 01 November 2026 | 20:02 WIB

Penggeledahan Ponpes Hamalatul Quran Tuai Kritik, Propam Turun Tangan

Penggeledahan Ponpes Hamalatul Quran Tuai Kritik, Propam Turun Tangan

News | Minggu, 01 November 2026 | 20:01 WIB

×